Para politikus senior Kalsel mendorong anak-anaknya terjun ke dunia politik. Dengan privilege yang dimiliki, besar kemungkinan mereka akan terpilih pada Pemilu 2024 nanti.
***
BANJARMASIN – Nama Muhammad Firman Didaputra Hasnuryadi muncul dalam daftar calon sementara (DCS) yang diumumkan KPU Banjarmasin pada Jumat (18/8) lalu.
Dida, sapaan akrab pemuda 20 tahun itu, diusung Partai Golkar untuk pemilihan anggota DPRD Banjarmasin.
Bertarung di Dapil Banjarmasin 1 (Banjarmasin Tengah), Dida dipasang pada nomor urut 1. Siapa Dida? Dia putra Hasnuryadi Sulaiman, CEO Barito Putera yang juga anggota DPR RI. Namun, kepada Radar Banjarmasin, Hasnur menegaskan anaknya akan fokus ke sepak bola. Bukan politik praktis.
“Saya bisa pastikan Dida fokus ke sepak bola. Namanya memang sempat masuk (daftar caleg), tapi tidak akan saya izinkan,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin usai pertandingan Barito Putera versus Persik Kediri di Stadion Demang Lehman Martapura, Sabtu (19/8). Musim 2023-2024 ini, Dida mengemban posisi asisten manajer Laskar Antasari–julukan Barito Putera.
“Jadi dia fokus dengan tugasnya bersama keluarga besar Barito Putera,” tegas Hasnur. Masih dari Partai Golkar, ada nama Gusti Rizky Sukma Iskandar Putera. Ia putra Gusti Iskandar Sukma Alamsyah, anggota DPR RI.
Pada usia 32 tahun, karir politik Rizky sudah moncer. Ia adalah Ketua DPD Partai Golkar Banjarbaru.
Rizky juga Ketua Komisi II DPRD Banjarbaru. Masuk ke parlemen sebagai PAW (pengganti antar waktu) pada 2020 lalu, menggantikan AR Iwansyah yang mundur karena maju di Pilkada. Meski melesat, Rizky menegaskan, pencapaian ini tak diraihnya dengan mudah. Ia mesti meniti dari bawah, sama seperti yang lain. “Saya dulu ikut organisasi-organisasi kepemudaan. Jadi aktivis sampai ikut organisasi sayap Golkar,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, (22/8).
Rizky tak ingin dicap cuma menumpang tenar nama ayahnya. “Tapi harus diakui, apa yang dicapai hari ini tak terlepas dari bimbingan ayahanda,” tambahnya. Rizky mengaku dididik ayahnya untuk menjadi politikus sejak remaja. “Beliau mendidik saya agar berpolitik dengan santun,” ujarnya. Pada 2024 nanti, Rizky akan terjun di Pileg. Mencalonkan diri di Dapil Banjarbaru 4 (Landasan Ulin).
Maka, meski sudah berpengalaman sebagai legislator, ini merupakan pemilu pertamanya. “Niat yang ditanamkan sejak awal terjun ke politik itu harus lurus dan bersih,” pungkasnya.
Berikutnya, lagi-lagi dari Golkar, ada nama Sandi Fitrian Noor. Ia putra Sahbirin Noor, Gubernur Kalsel yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kalsel. Sandi dipasang di nomor urut 2 (di bawah Bambang Heri Purnama) untuk pemilihan DPR RI di Dapil Kalsel 1.
Ada pula Rahma Hayati. Dia putri Wakil Gubernur Kalsel, Muhidin yang juga Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Kalsel. Rahma mengikuti jejak kakaknya, Karmila, Wakil Ketua DPRD Kalsel saat ini. Perempuan berkacamata itu dipasang di nomor urut 1 untuk Dapil Kalsel 1 (Banjarmasin).
Sedangkan Karmila “naik kelas”. Tahun depan istri Ketua DPRD Banjarmasin, Harry Wijaya itu bakal maju di pemilihan DPR RI. Yang menarik, Karmila dipasang pada nomor urut 4. Bukan nomor urut 1. Kepada wartawan pada Selasa (15/8) lalu, Muhidin bahkan menyatakan, Karmila bisa saja malah didorong untuk mengikuti Pilkada, pemilihan Wali Kota Banjarmasin.
Punya Modal
Dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Mahyuni menyebut para anak politikus senior Banua ini berpeluang besar terpilih. Sebab mereka dibekali modal politik dan modal ekonomi dari orang tuanya. Kontras dengan para bacaleg baru yang tak punya latar belakang seperti itu.
“Tak bisa dipungkiri, para anak politisi ini sudah punya modal,” kata mantan Ketua Bawaslu Kalsel itu. Namun, Mahyuni memandangnya sebagai hal yang lumrah. Sebab Undang-Undang Pemilu toh tidak melarang. “Meski bisa disebut dinasti politik, namun kita tak bisa melarang. Itu hak politik seseorang,” tegasnya.
Pertanyaannya tinggal soal kemampuan politik. Soal itu, Mahyuni membenarkan, kemampuan mereka belum terukur. “Kita bisa mengukurnya nanti setelah mereka terpilih,” tukas mantan Ketua Bawaslu Kalsel itu.
Sekarang, tinggal masyarakat yang menilai. “Apakah menguntungkan atau tidak memilih seseorang dengan latar belakang trah politik keluarga seperti ini,” tutupnya. Terpisah, dosen FISIP ULM, Samahuddin Muharram mengatakan, para anak penguasa atau pejabat ini sebenarnya hanya memanfaatkan momentum politik.
Mumpung situasi sedang menguntungkan mereka. “Makanya banyak anak, keluarga, atau kolega pejabat yang berkesempatan mencaleg. Itu terjadi di mana-mana,” ujarnya. “Kesempatan tidak datang berulang kali, sehingga momen ini harus dimanfaatkan secara politik,” sambungnya.
Sekarang, terserah kepada pemilih. Apakah akan mencoblos mereka atau tidak. “Tinggal bagaimana mereka membangun komunikasi politik dengan masyarakat,” tutup mantan Ketua KPU Kalsel itu. (bir/zkr/mof/gr/fud)
Editor : izak-Indra Zakaria