Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kondisi Udara Banjarmasin: Pengamat Nyatakan Tidak Sehat, DLH Klaim Tidak Separah Itu

izak-Indra Zakaria • Kamis, 31 Agustus 2023 - 19:06 WIB
KONDISI UDARA: Berpatokan dengan alat pengukur udara yang dipasang di Jalan Lambung Mangkurat ini, DLH Banjarmasin mengklaim udara di Kota Banjarmasin beberapa hari ini masih baik dan berada di kategori sedang. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
KONDISI UDARA: Berpatokan dengan alat pengukur udara yang dipasang di Jalan Lambung Mangkurat ini, DLH Banjarmasin mengklaim udara di Kota Banjarmasin beberapa hari ini masih baik dan berada di kategori sedang. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin menyatakan bahwa kualitas udara di kota ini masih kategori sedang. Pengamat lingkungan menyatakan sebaliknya. Kualitas udara di Banjarmasin telah berada di kategori tidak sehat.

****

Pengamat lingkungan tersebut adalah Hamdi, mantan Kepala DLH Banjarmasin. Ia dengan tegas mengatakan bahwa kualitas udara di Banjarmasin sudah menunjukkan kategori tidak sehat. Itu dibuktikan dengan tampilan di Air Quality Monitoring System (AQMS) yang dipasang di kawasan Jalan Lambung Mangkurat. 

Pada alat pemantau kualitas udara otomatis itu kemarin (30/8), tertera PM 2,5 atau partikel debu sudah berada di zona berwarna kuning atau tidak sehat. “Pagi hari, saya pantau sudah di angka 114. Artinya masuk kategori tidak sehat,” ucapnya, (30/8). 

Menurutnya, Pemko Banjarmasin masih kurang agresif menginformasikan keadaan itu kepada masyarakat luas. Ia mengatakan dengan kondisi kualitas udara saat ini, semestinya sudah ada sosialisasi dan imbauan dari pemko terkait langkah-langkah antisipasi.

Bahkan ketika data di pemantau kualitas udara itu masih dalam kategori sedang, tapi hampir mendekati kuning, mestinya sudah ada peringatan dari DLH Banjarmasin. “Kondisi itu baru di wilayah Lambung Mangkurat. Belum lagi di wilayah Lingkar Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Banjar. Di situ mobilitas lalu lintasnya cukup tinggi,” tekannya. Hamdi mendesak pemko segera mengeluarkan imbauan. Misalnya, meminta warga mengurangi aktivitas di luar rumah, atau mengenakan masker ketika berada di luar rumah. 

“Kami berharap dampak buruk bisa diminimalkan. Misalnya, terhadap penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA),” harapnya.

Hamdi juga mendesak pemko segera membuat perencanaan ke depan, untuk menjaga kualitas udara di Banjarmasin tetap sehat. Misalnya menggalakkan penanaman pohon, dan memaksimalkan pemanfaatan transportasi publik. Ini demi mengurangi polusi dari asap kendaraan bermotor. “Bayangkan empat hingga lima tahun ke depan, misalnya ketika kendaraan bermotor semakin banyak, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin tidak terkendali,” ucapnya. “Jangan sampai kondisi atau kualitas udara di Banjarmasin sama seperti yang terjadi di Jakarta,” bandingnya.

Diwartakan sebelumnya. Sekretaris DLH Banjarmasin Wahyu Hardi Cahyono menyatakan kabut asap dari adanya kebakaran lahan mulai menujukkan tanda-tanda mengkhawatirkan. 

Pada Selasa (29/8) tadi, alat pemantau kualitas udara yang terpasang di kawasan Jalan Lambung Mangkurat menunjukkan bahwa tanda partikel debu nyaris tidak sehat. Kendati demikian, Wahyu menyatakan tingkat polusi udara dalam beberapa hari terakhir masih dalam kategori sedang.

“Beberapa parameter pada display AQMS masih kategori baik. Misalnya PM 1.0, NO 2 masih hijau. Kecuali PM 2,5 yang memang tampak biru, atau kategori sedang,” jelasnya.

Meski demikian, Wahyu tak menampik bahwa tidak menutup kemungkinan kualitas udara di Banjarmasin akan semakin memburuk. Itu terjadi jika kabut asap yang ada semakin tebal. Ditambah dengan adanya asap kiriman karhutla dari daerah tetangga.

Wahyu menekankan bahwa pihaknya akan terus memonitor alat pemantau kualitas udara yang ada. Supaya bisa memberikan peringatan dini kepada masyarakat jika kondisinya sudah mulai mengkhawatirkan. “Tingkat kualitas udara sendiri fluktuatif, atau terus mengalami perubahan,” katanya.

Wakil Wali kota Banjarmasin, Arifin Noor menyatakan pihaknya belum mengambil kebijakan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah kepada para ASN. Meskipun kabut asap sudah mulai terasa dalam beberapa pekan ini. “Termasuk (belum WFH, red) kepada kalangan siswa,” ujarnya.

Menurut Arifin, pengambilan kebijakan tersebut harus didasari arahan dari Pemerintah Provinsi Kalsel, dan kajian sebelumnya oleh jajaran pihak terkait. “Hingga saat ini, Pemko Banjarmasin masih menunggu arahan dari Pemprov Kalsel terkait kebijakan tersebut,” ungkapnya.

Sebagai upaya pencegahan imbas kabut asap, ia mengimbau seluruh ASN Pemko Banjarmasin agar tetap menjaga kesehatan. Salah satunya dengan tidak banyak keluar kantor jika tidak diperlukan. “Kalau terasa pekat lantaran kabut, bisa kenakan masker,” pesannya.(war/az/dye)

Editor : izak-Indra Zakaria