Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tahulah Pian, Inilah Asal Usul Sa-Ijaan di Lambang Kotabaru

Jumain Radar Banjarmasin • Rabu, 17 April 2024 - 17:15 WIB
PUNYA MAKNA: Roni bersama H Mahmud memperlihatkan lambang Pemkab Kotabaru. (FOTO: Jumain/ Radar Banjarmasin.)
PUNYA MAKNA: Roni bersama H Mahmud memperlihatkan lambang Pemkab Kotabaru. (FOTO: Jumain/ Radar Banjarmasin.)

 

Kata Sa-Ijaan sekarang menjadi lambang Kotabaru. Namun, belum banyak yang tahu apa maknanya. Anggota Dewan Kesenian Daerah Kotabaru, Roni menyebut secara bahasa, Sa-Ijaan memiliki arti semufakat, satu hati, dan seiya sekata. Roni menegaskan motto Sa-Ijaan bukan hanya sekadar tulisan pendek begitu saja. Tapi, mempunyai makna yang sangat mendalam dan punya keterkaitan dengan lambang Kotabaru.

Sepengetahuannya, proses penciptaan kata Sa-Ijaan dengan lambang Kotabaru membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sekitar enam bulanan, dan mempunyai runtutan perdebatan lumayan panjang.

Pensiunan ASN di Kotabaru, H Mahmud juga mengakui Sa-Ijaan tidak lepas dari lambang Kotabaru. Saat itu, Kotabaru yang masih berumur jagung belum mempunyai lambang dan motto kabupaten. Kotabaru dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat No.3 Tahun 1953. Sedangkan lambang dan fotonya dibuat pada tahun 1962. 

Pembuatan lambangnya diusulkan oleh lima tokoh. Pertama, untuk makna gelombang tiga diusulkan HM Talil. Kedua, makna gunung diusulkan H Jayadi Hasan. Ketiga, makna ikan diusulkan Pran Kamar. Keempat, makna Sa-Ijaan diusulkan oleh Ibu Susilo. Kelima, makna bentuk perisai diusulkan oleh M Ideham BA. “Semua yang saya utarakan ini bersumber dari Bapak Asmuni, mantan Kabag Pemerintahan di Kotabaru,” ungkapnya.

Menurutnya, makna yang mendalam dari para pembuat itu sangat luar biasa. “Khususnya kata Sa-Ijaan yang menandakan dari dulu Kotabaru terkenal dengan multi etnis dan budaya, sehingga disatukan dengan kalimat Sa-Ijaan,” ucapnya bangga.

Rony berharap sejarah makna dari Sa-Ijaan dan lambang Kotabaru ini bisa diarsipkan. “Karena dari dulu sampai sekarang hanya berdasarkan cerita saja,” ucap akademisi yang aktif mengajar di Kampus STIKIP Paris Barantai Kotabaru ini.

Menurutnya, itu tugas pemerintah. Rony sebagai akademisi dan dewan kesenian siap mendorong masuk dalam kurikulum, supaya bisa dipelajari oleh generasi penerus.

 
 
 
Editor : Indra Zakaria
#kotabaru