Supaya Geopark Meratus Diakui UNESCO, Fasilitas Ini Dibenahi Sebelum Dinilai Evaluator
M Fadlan Zakiri• Minggu, 30 Juni 2024 - 23:30 WIB
CEK LOKASI: Petugas Badan Geopark Meratus sedang memeriksa jenis batuan di Situs Sei Kambang, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar. (Foto: BADAN PENGELOLA GEOPARK MERATUS)
Badan Pengelola GeoparkMeratus terus melakukan upaya pembenahan terhadap fasilitas dan akses di situs-situs Geopark Meratus. Hal itu masif dilakukan menjelang kedatangan evaluator dari United Nation Educational Scientific and Cultural Education (UNESCO).
Mereka rencananya akan datang ke Kalsel untuk meninjau lokasi Geopark Meratus pada 11-14 Juli mendatang. Selama empat hari di Banua, para evaluator akan mengunjungi 17 situs Geopark Meratus yang tersebar di enam kabupaten/kota di Kalsel.
Evaluator yang datang merupakan para geologis dari Vietnam dan Jepang. Keduanya akan menyambangi situs geologi, situs budaya, dan situs non benda.
Ketua Badan Harian Geopark Meratus, Hanifah Dwi Nirwana mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan pembenahan di sejumlah situs. Diakuinya bahwa memang ada beberapa catatan yang harus segera dibenahi sebelum para evaluator itu datang ke Banua.
Ini berdasarkan pra-validasi oleh Badan Pengelola Geopark Meratus bersama Tim Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) di beberapa situs Geopark Meratus pada 30 Mei hingga 1 Juni 2024 tadi. Hal itu dilakukan untuk mencari tahu apa yang dibutuhkan agar situs tersebut mendapat atensi bagi para evaluator UNESCO.
Supaya sebelum evaluator datang, pihaknya bisa fokus untuk perbaikan pada akses pertama masuk ke situs geologi. Seperti batu serpentinite, Goa Batu Hapu, Sei Kembang, dan Pumpung.
“Semua kita upayakan sempurna. Dengan memperhatikan waktu tempuh, dan merepresentasikan Geopark Meratus,” ujarnya.
Salah satunya yang dibenahi adalah layanan pusat informasi mengenai situs ini belum terlalu banyak. Termasuk jumlah barang yang ditunjukkan. “Ini adalah karya dari masyarakat dari situs yang ada. Itu semua sudah kami benahi,” kata Hanifah.
Selain itu, item yang juga masuk catatan adalah perihal Taman Konservasi Anggrek Spesies. Menurutnya, ini mesti jadi perhatian lantaran adanya perlakuan khusus anggrek spesies memiliki perbedaan dengan anggrek hybrid.
Lantaran dianggap spesial, maka keberadaan tanaman anggrek ini juga sudah dikomunikasikan oleh Badan Geopark Meratus untuk jadi perhatian.
“Termasuk dengan beberapa pihak lainnya seperti Pecinta Anggrek Indonesia (PAI). Supaya upaya kelestarian anggrek ini bisa terjaga,” harapnya.
Di situs batu sekis Sei Kambang, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar diakui Hanifah memang masih perlu pembenahan di beberapa hal.
“Seperti keberadaan fasilitas kamar kecil yang dinilai masih kurang representatif untuk digunakan di tempat wisata,” ungkapnya. Kondisi itu tentu berpengaruh dengan aspek penilaian lainnya.
Padahal situs ini sangat penting untuk mengetahui proses pembentukan bumi. “Meskipun kondisinya kurang bagus, toilet dan jalan licin karena lama tidak diremajakan, sudah kita sampaikan ke Bupati Banjar untuk melakukan perbaikan,” ungkapnya.
Jenis batu sekis di Situs Sei Kambang merupakan batuan tua sekaligus langka. Artinya, dari sisi geologis situs ini bisa masuk jadi warisan internasional.
“Keputusan Pemkab Banjar untuk melakukan perbaikan fasilitas di Sei Kambang ini mudah-mudahan bisa jadi jalan agar bisa dilirik para evaluator UNESCO yang datang ke sana,” harapnya.(*)