Dalam kerangka teori komunikasi, Halim menilai berita Radar Banjarmasin menggunakan teknik korelasi ilusi. "Menghubung-hubungkan fakta-fakta yang tidak berkaitan. Menciptakan narasi yang tampak meyakinkan namun sebenarnya tak berdasar," ujarnya.
"Teknik ini berbahaya. Bisa merusak reputasi seseorang atau institusi. Saya mengimbau pembaca bisa lebih kritis," tambahnya.
Soal kaitan dengan Prof Khoirul Huda, dosen Universitas Hang Tuah, Surabaya, Halim membenarkan berkolaborasi dalam penulisan dua karya tulis ilmiah yang terbit di dua jurnal berbeda. Keduanya jurnal bereputasi yang terindeks Scopus.
"Kolaborasi ini terjadi secara alami dan profesional karena kami berdua adalah alumni Universitas Islam Indonesia (UII) dan memiliki promotor disertasi yang sama," ujarnya.
Khusus terkait artikel Jurnal Does Self Regulation Provide Legal Protection and Security to e-Commerce Consumers? yang terbit di Electronic Commerce Research and Applications, Halim menyatakan, cepat atau lambat penerbitan adalah kewenangan pengelola jurnal. "Bukan diri saya sebagai penulis," tegasnya.
Lalu, mengenai perubahan urutan nama penulis, menurutnya sah dan sesuai dengan etika publikasi ilmiah selama ada kesepakatan antara para penulis dan editor. "Saya berharap klarifikasi ini dapat meluruskan asumsi yang tidak valid dan kesalahpahaman yang mungkin timbul akibat narasi pemberitaan tersebut," tulisnya.
Terakhir, Halim menekankan, ada 37 ribu mahasiswa yang sedang kuliah di ULM. Masa depan mereka harus menjadi prioritas bersama. Dalam hal itu, pers harus membantu. "Kami mohon, selama dua bulan ke depan, berikan ULM ruang untuk menyelesaikan tugas ini tanpa gangguan informasi yang tidak relevan atau tidak benar," tutupnya.(mof/fud/gr/dye)