BALIKPAPAN – Komisi II DPRD Balikpapan beberapa waktu lalu sempat melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar).
DPRD mengaku prihatin setelah mendapati bahwa bidang pariwisata hanya mendapat anggaran sebesar Rp 10 miliar. Di mana, besaran dana tersebut untuk menyelenggarakan empat program dan 15 kegiatan pada APBD 2020.
Bahkan angka ini lebih kecil dibanding anggaran untuk bidang kepemudaan yang mencapai Rp 15 miliar. Ketua Komisi II DPRD Balikpapan Riri Saswita Diano menyebutkan, anggaran yang kecil ini tentu membatasi pergerakan untuk pengembangan pariwisata.
Menurutnya bagaimana pariwisata bisa dikembangkan secara optimal jika anggaran saja terbatas. “Contoh anggaran perjalanan dinas sebagai studi banding hanya Rp 250 juta. Paling hanya dua atau tiga kali berangkat sudah habis. Padahal mereka perlu studi banding sebagai media pembelajaran,” bebernya.
Hal yang menjadi perhatian lagi, pihaknya baru menyadari lokasi pariwisata di Balikpapan yang benar-benar dikelola oleh Disporapar hanya Pantai Manggar.
Sementara tempat wisata yang lainnya dikelola oleh swasta. Tak ada pilihan bahwa Pemkot Balikpapan harus mendorong agar Pantai Manggar menjadi unggulan.
Misal yang terpenting menjaga kebersihan pantai. Namun ternyata selama ini Pantai Manggar hanya mengandalkan satu mobil jenis pick-up untuk mengangkut produksi sampah berton-ton di lokasi wisata tersebut. “Sulit untuk bicara soal kebersihan hingga mengembangkan pariwisata jika tidak didukung oleh anggaran memadai,” sebutnya.
Menurutnya wajar saja jika pendapatan asli daerah (PAD) berkurang karena minim anggaran untuk pengelolaan dan pengembangan obyek wisata. “Seharusnya beri porsi anggaran besar untuk mengembangkan pariwisata. Dengan begitu pariwisata bisa jadi unggulan,” imbuhnya.
Pihaknya berkomitmen bagaimana sinergi menunjang kegiatan pariwisata dalam segi anggaran. Baik melakukan RDP, sidak, dan mencari solusi.
Hal yang utama memenuhi kebutuhan dalam anggaran promosi, peralatan menunjang kebersihan, dan fasilitas. “Sekarang sangat minim perhatiannya ke pariwisata. Kita harus memberdayakan pedagang ditata dengan rapi, baik, dan dibina,” pungkasnya. (din/pro/one)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan