Di Republik Indonesia tercinta ini banyak polisi baik, bahkan lebih banyak yang baik daripada yang buruk. Namun polisi-polisi baik itu tertutupi oleh ulah oknum jahat yang viral. Sebab, publik lebih suka masuk ke ruang publik ramai yang mengunggah perilaku oknum polisi buruk. Sedangkan ruang publik yang memprofilkan polisi baik kurang diminati.
Dampaknya terbangun opini polisi yang tidak baik. Demikianlah fakta yang sangat menarik dalam Dialog Penguatan Internal Polri dengan tema Hoegeng Keteladanan Melintasi Zaman. Sosok Kapolri ke-5 almarhum Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso adalah polisi jujur, baik, sederhana, berintegritas tinggi dalam menjalankan tugas yang diharapkan menumbuhkan semangat jajaran Polri untuk menjadi "Hoengeng-Hoegeng" yang baru.
Dialog interaktif tersebut digelar oleh Devisi Humas Polri langsung dari Mabes Polri yang diikuti secara virtual jajaran Polda, Polres hingga Polsek seluruh Indonesia, termasuk jajaran Polda Kaltim, Selasa (16/3). Dialog dibuka oleh Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dr Sandi Nugroho SH SIK. Dipandu penyiar TV Fresian Grace dengan menghadirkan nara sumber Komisi III DPR RI (mitra Polri) H Asrul Sani SH MSi, Kompolnas Poengky Indrawati SH MH, Guru Besar Universitas Bhayangkara Prof Hermawan Sulistyo (Prof Kiki) dan jurnalis sekaligus pembawa berita senior Alfito Deanova Ginting SH MSi selaku penggagas Hoegeng Award.
Jajaran Polda Kaltim yang mengikuti secara virtual dipimpin oleh Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Mujiyono didampingi pejabat teras Polda Kaltim. Hadir Ketua Forum Paguyuban Kota Balikpapan H Soegito, Ketua MUI Kota Balikpapan Habib Mahdar Abubakar Al Qodri, Rektor Uniba Prof Isradi, tokoh agama, tokoh masyarakat, pers, guru dan pelajar SMA/SMK Balikpapan.
Asrul Sani mengatakan, Polri sudah melakukan reformasi tiga hal yakni secara struktural di bawah Presiden, secar instrument undang-undang yang diubah sesuai kebutuhan dan secara personal mengubah perilaku polisi dari militerisme menjadi polisi sipil humanis.
"Secara reformasi Polri sudah melakukan perubahan yang lebih baik sesuai harapan masyarakat. Masih banyak polisi yang baik, namun publik tidak banyak yang tahu. Sedangkan polisi yang buruk lebih ramai di ruang publik. Contohnya kasus Sambo, tiap detik ada di berita. Kasus polisi jahat lebih viral sehingga polisi baik tertutupi polisi buruk. Inilah yang mengesankan semua polisi itu tidak baik, " ujarnya.
Sedangkan Kompolnas Poengky mengatakan, terbangun penilaian polisi tidak baik karena publik hanya melihat dari sedikit sisi, misalnya laporan oknum polisi yang melakukan kesalahan di masyarakat. "Di kepolisian yang banyak dilihat adalah Reskrim, 80 persen penilaian masyarakat buruk. Sedangkan polisi tidak hanya di Reskrim. Ada banyak Bhabinkamtibmas, banyak polisi di pinggiran dan perbatasan melakukan banyak kebaikan, membantu masyarat dan menemukan inovasi-inovasi, " ungkapnya.
Lain halnya yang diungkapkan Profesor Kiki. Keburukan polisi sering disebabkan masyarakat sendiri. "Jangan berharap polisi baik kalau masyarakatnya brengsek. Contoh, masyarakat mendesak polisi untuk memenangkan suatu kasus dengan memberi imbalan, " ujarnya.
Prof Kiki menilai, saat ini Polri lebih terbuka menerima kritikan masyarakat. "Di negara lain seperti di Inggris, kalau demo dibatasi tema orasinya dan tidak menghujat polisi. Kalau di Indonesia, orasinya sampai memaki-maki pemerintah termasuk polisi, karena saking demokrasinya, " imbuhnya.
Sementara itu Alfito mengatakan, Kapolri ke-5 Hoegeng bertugas di waktu dan tempat yang tepat sehingga keteladanannya bisa membangun polisi yang baik.
"Coba bayangkan kalau saat itu Hoegeng tinggal di pinggiran jauh di sana yang tidak dikenal banyak orang. Maka keteladanannya tidak akan terlihat oleh masyarakat, " ujarnya. Karena itulah, Hoegeng Award yang diadakan 5 tahun sekali untuk mengangkat "Hoegeng" zaman ini sehingga keteladanannya tidak rusak oleh oknum polisi jahat.
"Kami menemukan seorang polisi di pinggiran sana. Ceritanya seperti zaman kalifah Usman Bin Affan. Di desa terpecil kesulitan air bersih. Ada sumber air milik pribadi salah satu penduduk, dijual sehingga memberatkan warga desa. Polisi tersebut menggalang dana dan uangnya sendiri untuk membeli lahan sumber air bersih sehingga warga bebas mengambil air tanpa beli. Dia tulus, tidak ada keinginan mau jadi anggota Dewan. Itulah, maka dari itu polisi-polisi yang baik kita bawa ke ruang publik agar masyarakat sadar bahwa masih banyak polisi baik, " ujarnya yang menayangkan nama-nama polisi "Hoegeng" yang akan mendapat penghargaan Hoegeng Award 2023.
Alfito juga menyebutkan, Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo banyak kemajuan dalam hal keterbukaan dan ketegasan. Terbukti anggota Polri yang melanggar hukum diproses hukum meski berpangkat tinggi. "Polri juga merespons cepat laporan masyarakat. Wartawan saya waktu meliput kasus Sambo, mendapat intimidasi dari oknum polisi. Kamera dirampas dan rekaman dihapus. Saya lapor Pak Kapolri, pelakunya langsung ditangkap, " ujarnya.
Di akhir dialog, Prof Kiki berpesan kepada seluruh keluarga Polri. "Dilarang pamer kemewahan, " tegasnya. Usai dialog, Wakapolda Kaltim Brigjen Pol Mujiyono berharap seluruh jajaran Polda Kaltim meneladani Hoegeng dengan mencontoh kejujuran, kesederhanaan, kebaikan dan integritasnya. "Seluruh jajaran Polda Kaltim mengikuti zoom meeting Hoegeng Keteladanan Melintasi Zaman. Kami minta keteladanan Kapolri Jenderal Hoegeng diteladani kejujurannya, kebaikannya, kesederhanaannya dan integritasnya. Seluruh tokoh agama, masyarakat dan akademisi hadir mendukung acara ini. Saya yakin jajaran Polda Kaltim bisa meneladani Pak Hoegeng, " ujarnya. (Ono)
Editor : izak-Indra Zakaria