KEGIATAN penambangan batu bara di Teluk Bayur yang dikelola perusahaan Belanda, menyisakan banyak peninggalan. Bukan hanya lapangan bola yang pernah membawa klub sepak bola asal Belanda, Ajax Amsterdam merumput di Teluk Bayur. Tapi juga beberapa makam yang kini masih bisa dilihat di puncak bukit tempat pemakaman umum (TPU) Muslim, Teluk Bayur.
Lama sekali baru kembali mengunjungi makam Belanda di Teluk Bayur itu. Ketika sahabat saya, Zulkifli Haris meninggal dunia pada beberapa bulan lalu, saya ikut mengantarkan jenazah almarhum ke pemakaman itu. Tapi tak sempat meluangkan waktu untuk melihat kuburan Belanda di TPU tersebut kala itu.
Kemarin, Selasa (19/3), saya memutuskan untuk melihat makam tersebut. Tak lain untuk melengkapi bahan tulisan saya ini. Padahal, menurut catatan di telepon genggam saya, terik matahari kemarin mencapai 34 derajat. Luar biasa. Apakah ini tanda-tanda akan hujan malam harinya. Tapi, hari-hari sebelumnya juga panasnya menyengat, tapi tak juga turun hujan.
Saya harus membawa sebotol air mineral. Jalannya sedikit mendaki. Walaupun jalan tersebut sudah dicor atau disemenisasi oleh pengelola TPU. Cuaca pada siang hari kemarin memang luar biasa. Lahan yang luas, agaknya menjadi salah satu alasan mengapa dibuatkan semacam gazebo untuk tempat peziarah melepas lelah.
Apakah ketika kegiatan penambangan batu bara oleh Belanda waktu itu, sudah dijadikan kompleks pemakaman bersama-sama dengan warga lainnya, atau karyawan perusahaan batu bara yang terlebih dahulu. Sebab, posisinya ada di puncak bukit. Kenapa tidak di bagian bawah saja. Rupanya sudah diprediksi kalau di bawah akan tergerus air yang mengalir dari puncak bukit.
Saya tidak mencermati tahun wafat di makam tersebut sebagai pembanding. Semoga saja saya tidak salah hitung. Ada 13 atau 14 makam Belanda yang di kompleks itu. Dulu, ketika saya ke makam ini, nama-nama di batu nisan masih terlihat jelas. Sekarang, huruf-huruf yang ada di batu nisan sudah tak utuh lagi. Seperti tiga makam di bagian bawah. Namanya mirip dengan nama orang asal Manado. Ada nama Korompis, dan Sumendap. Saya menduga-duga saja, mungkin dua nama ini karyawan perusahaan atau karyawan rumah tangga.
Ada beberapa makam yang saya cermati, agaknya tahun kelahiran dan tahun wafatnya tidak berjauhan tahunnya. Alias wafat pada usia muda. Seperti makam yang batu nisannya masih terbaca atasnama Hier Rust, lahir tahun 1947 dan wafat tahun 1955. Usia saat meninggal 8 tahun.
Ada juga makam pada nisan tertulis nama M.J. Frinken yang lahir tahun 1942 dan wafat tahun 1947. Sementara makam lainnya, saya kesulitan untuk mengetahui nama dan tahun wafatnya. Sebab, tak ada lagi tanda-tanda yang bisa dijadikan informasi. Ada juga makam yang justru ditumbuhi pohon Palm.
Saya pernah berbincang dengan salah seorang tokoh di Teluk Bayur. Ia bercerita terkait makam-makam tersebut. Ia menjelaskan bahwa memang dari belasan makam itu, ada yang meninggal usia muda. Ada dua penyakit yang menyerang waktu itu yakni, sakit malaria dan disentri. Padahal, perusahaan tersebut juga mempekerjakan seorang dokter. Termasuk membangun balai pengobatan Puskesmas Teluk Bayur (Puskesmas yang ada sekarang).
Beberapa tahun lalu, ada rombongan yang semula dikira wisatawan. Belakangan diketahui bahwa mereka adalah keluarga asal Belanda yang dia ketahui orangtua mereka yang pernah bekerja di perusahaan batu bara dulu di Teluk Bayur. Selain melihat beberapa bangunan peninggalan, mereka juga mengunjungi makam yang ada tersebut.
Mungkin perlu kembali dibuatkan nama dan tahun wafatnya. Sebab, saya yakin di Museum Siraja Teluk Bayur masih tersimpan foto-foto ketika makam tersebut utuh. Utuh dalam artian nama-nama masih terlihat jelas dan lengkap. Kalaupun ada tulisan pada pintu masuk di TPU Muslim Teluk Bayur tersebut menyebutkan keberadaan situs sejarah. Namun, siapa yang harus merawat makam tersebut. Setidaknya membersihkan dari rumput liar yang merambat makam. Juga mungkin perlu memperbarui warna makam. Sekarang kondisinya hitam berlumut. Bagaimana pun, ini adalah saksi sejarah perjalanan Kabupaten Berau. Khususnya kegiatan penambangan batu bara di Teluk Bayur. (*/asa)
Editor : uki-Berau Post