Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Panen Buntalli

uki-Berau Post • Selasa, 27 Desember 2022 - 08:18 WIB
-
-

SEMUANYA  tentang bencana. Teman-teman yang ada di Makassar, di Pulau Jawa, mengirimkan video singkat lewat telepon genggam. Ada pertanyaannya. Bagaimana di Berau?

Saya kebetulan tidak berada di sekitar laut. Jadi tidak bisa menggambarkan bagaimana situasi di laut Maratua. Tapi, hari Sabtu (24/12), suasana lumayan bergelombang.

Ada video berdurasi singkat, menggambarkan bagaimana situasi di Pulau Kodingareng. Salah satu pulau wisata di Makassar, yang menjadi tempat liburan saya saat masih SMP. Itu kampung ibu saya.

Pukulan ombak naik hingga ke daratan. Rumah dan perahu nelayan sekitar pantai jadi berantakan. Di Pantai Losari, gambarannya juga seperti itu. Hanya tiupan angin saja, pukulan gelombang tidak begitu kuat. Gerobak penjual pisang epe, ikut berantakan.

Hingga kemarin, mantan Sekjen Badan Promosi Pariwisata Sulawesi Selatan, Hendra, menggambarkan bagaimana suasana Kota Makassar dan kota-kota lainnya. “Dalam dua hari ini, kita belum bisa melihat matahari,” kata dia.

Berau bisa lebih bersyukur. Walaupun daerah lain, waswas untuk keluar rumah, akibat banyak pohon yang tumbang. Kemarin, sejak pagi, meski mendung namun matahari muncul memberi sedikit rasa hangat warga.

Yang menarik, bagi yang belum pernah menyaksikan, tentu akan terkejut. Kondisi air pasang di laut, berdampak juga hingga ke daratan. Dua sungai besar Kelay dan Segah, kelebihan debit air, hingga mengirimkan hingga ke daratan.

Karenanya, pada pukul 20.00 hingga 23.00 Wita, beberapa ruas jalan di Tanjung Redeb, khususnya yang berdekatan dengan bantaran sungai, tergenang air. Lumayan tinggi, hingga separo ban mobil.

Kondisi ini, meskipun berlangsung malam hari, ada saja anak-anak asyik bermain air tak jauh dari tempat tinggalnya. Kendaraan, kalau kebetulan sepi, dimanfaatkan sambil jalan sekalian cuci kendaraan.

Yang sedikit terganggu, warung tenda yang ada di sepanjang Jalan P Antasari. Tempat berjualan mereka ikut tergenang. Mereka tetap berjualan, sambil menunggu air surut. Kalau juga ada warga yang nekat mau makan malam. Bisa sambil kaki terendam air.

Cerita meluapnya dua sungai besar itu, sudah berlangsung sejak lama. Mungkin karena situasi pada saat itu, sehingga ada drainase yang sengaja dibuat dengan ukuran besar. Mirip anak sungai.

Warga tahu, di sekitar pelabuhan itu hingga menuju perempatan jalan dekat KFC sekarang, adalah anak sungai besar tempat warga mandi dan mencusi saat air pasang. Ada juga yang memanfaat mengais rezeki dengan menangkap udang kecil. (Buntalli). Air pasang, membawa berkah juga.

Ada sahabat saya dulu. Namanya Pak Masykur. Dia selalu memanfaatkan air pasang dengan ‘menyeruyuk’ di malam hari. Yang didapat, ya itu tadi namanya buntali. Saya selalu membeli, waktu itu harganya hanya Rp 75 ribu per kaleng susu. Enak direbus atau dibuat eci.

Pak Masykur itu, selalu mengajak anaknya yang laki-laki. Namanya Radian Noor. Waktu itu ia masih kecil. Pak Radian bekerja di sekretariat kantor bupati. Sudah hebat dia sekarang. Dia punya latar belakang jurnalistik.

Begitupun yang sepanjang kiri-kanan jalan Panglima Batur, juga paritnya berukuran besar. Warga juga memanfaatkan mencuci pakaian bila air pasang berlangsung.

Sekarang, tak ada lagi ‘anak sungai’ yang terbuka. Sudah tertutup dengan beton dan dijadikan trotoar. Sehingga tak ada lagi pemandangan tradisional yang dilakukan warga. Mencuci dan menangkap buntalli.

Air pasang memenuhi jalan raya yang berlangsung beberapa jam. Ada juga risiko lebih besar. Bila air pasang itu, disertai dengan hujan lebat dan di hulu sungai terjadi banjir, dampaknya bisa merepotkan warga.@cds_daengsikra. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan