Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bunga Rafflesia

uki-Berau Post • 2022-12-29 02:41:24
-
-

PANJANG umur. Kami sama-sama ‘mengganang’. Sama-sama menanyakan. Beliau menanyakan pada anak buahnya. Saya bertanya-tanya dalam hati.

Karena sama-sama ‘mengganang’ada panggilan hati. Dan berjumpalah kami di Warung Hokky di Jalan Niaga. Rupanya ia sudah belasan menit berada di warung langganannya.

“Panjang umur, panjang umur,” kata Pak Ronald Lolang berulang-ulang. Sejak awal masuk ke warung, ia sudah menanyakan ke mana Daeng Sikra. “Biasanya dia ada di warung ini,” kata Pak Ronald.

Sayapun begitu. Dan akhirnya jumpalah kami di Hokky. Ia baru saja melalui perjalanan darat dari Tanjung Selor. Melihat situasi di wilayah Kaltara. Dan sebelum kembali ke Teluk Sumbang, ia mampir dulu ke Hokky. Menikmati mi goreng dan kue pia.

Dan kami pun terlibat membicarakan bagaimana kemajuan pariwisata ke depan. Khususnya di wilayah, di mana Pak Ronald membangun satu destinasi wisata yang namanya Lamin Guntur.

“Potensi pengembangan pariwisata di wilayah pesisir itu, masa depannya luar biasa,” kata Pak Ronald. Dan dengan personel yang terbatas, di mana jangkauan wilayah kerja begitu luas, mungkin perlu di bentuk semacam UPT. Inilah nantinya yang jadi ujung tombak pengembangan di wilayah pesisir. “Menambah kekuatan, seperti pembentukan UPT Pariwisata di Pulau Derawan,” tambahnya.

Ia mengaku, bahwa untuk menuju resor yang ia bangun dan sejumlah destinasi di wilayah pesisir memerlukan waktu perjalanan yang lumayan jauh. Tapi, semua kelelahan itu akan terobati, setelah tiba di tujuan wisata tersebut.

Dan lagi, Pemkab maupun Pemprov, saat ini sedang membangun infrastruktur jalan dengan konstruksi beton. “Memang Teluk Sumbang itu secara geografis, jaraknya jauh. Ada di ujung selatan,” tambahnya.

Ia menggambarkan, bagaimana jauhnya perjalanan menuju destinasi wisata Radja Ampat di Papua Barat. Ataupun, ke Wakatobi di Sulawesi Tenggara. Tapi, wisatawan tetap ke tempat itu. Karena memang memiliki keindahan. “Sama halnya dengan ke wilayah pesisir hingga Teluk Sumbang,” tuturnya.

Di antara tim yang diajak Pak Ronald, ada seorang perempuan yang sedang menekuni bagaimana meracik kopi yang bagus. Dia pun memesan kopi susu buatan Sukma di Hokky. “Kurang jreng. Mungkin pada proses pembuatannya saja,” kata perempuan asal Jakarta itu.

Sementara anggota tim lainnya, yang juga perempuan punya tugas yang lebih berat. “Saya tugasnya jadi sopir,” katanya sambil tersenyum. Ia mendapat pujian dari Pak Ronald dalam mengemudi. Mobil Pajero warna merah, ia kemudikan sejak dari Bulungan hingga ke Teluk Sumbang.

Bicara soal kopi, Pak Ronald berencana mengembangkan eco park di luasan sekitar 1.000 hektare. Di antaranya juga akan menanam kopi. Kalau selama ini hanya dikenal kopi dari berbagai daerah. Nanti akan ada kopi Teluk Sumbang, dengan kualitas yang hebat dan dicari para pencinta kopi.

Ketika saya bercerita, bahwa pada sekitar 20 tahun lalu, pernah membuat film dokumenter sekitar kehidupan suku dayak Basap di Teluk Sumbang. Waktu itu, saya bersama-sama dengan Departemen Sosial Jakarta.

Mendengar itu, Pak Ronald yang pernah membuat film Jeram-Jeram Cinta di Samarinda, tergugah juga untuk membuat film di Teluk Sumbang. “Kami memang ada rencana membuat film,” kata Ronald.

Kira-kira temanya apa ya, kalau Pak Ronald membuat film di Teluk Sumbang. Saya yakin, akan mengangkat tema-tema wisata. Atau semacam film semi dokumenterlah. Atau bisa jadi pula, mengulang kisah suksesnya menggarap film di Samarinda.

Apa kisah cinta lagi? Pak Ronald hanya bisa senyum-senyum. Saya hanya mengusulkan judulnya. Nanti jalan ceritanya diolah ahlinya saja. “Bagaimana kalau buat film berjudul ‘Bunga Rafflesia?” kata saya.

Pak Ronald tidak menjawab soal tawaran judul itu. Dia hanya senyum-senyum. Saya tahu, senyum Pak Ronald itu, punya makna banyak. @cds_daengsikra. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan