Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Masih Ada Keluhkan Pelayanan di RSUD Abdul Rivai

izak-Indra Zakaria • Jumat, 4 Agustus 2023 - 07:22 WIB
-
-

TANJUNG REDEB - Pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai kembali dikeluhkan warga. Salah seorang warga Kampung Pilanjau, Sambaliung, Lisa, mengaku membawa adiknya yang mengalami kecelakaan ke RSUD, namun mendapat pelayanan yang terkesan lambat. Ia menduga hal tersebut karena ia menggunakan BPJS Kelas III.

“Saya miris melihatnya. Masa yang berbayar dilayani cepat. Sedangkan BPJS harus lama penanganannya,” tegasnya.

Ia juga menceritakan, beberapa bulan lalu, saat ibunya dirawat di rumah sakit pelat merah tersebut, ibunya harus menunggu lama untuk mendapatkan perawatan karena menggunakan BPJS kelas III atas rujukan dari kampung. Hingga dua hari setelah mendapatkan perawatan, ibunya meninggal dunia. “Kondisi ibu saya kritis, malah menunggu ini itu,” keluhnya.

Ia berharap, sebagai rumah sakit sebaiknya jangan memonopoli pasien berdasarkan kelasnya. Di mana seharusnya pelayanan bisa maksimal baik untuk pasien umum maupun menggunakan jaminan kesehatan. “BPJS kami juga bayar per bulan. Tidak gratis,” ucapnya.

Mengetahui hal tersebut, Ketua DPRD Berau, Madri Pani berjanji akan melakukan sidak dalam waktu dekat. Ia mengaku bukan sekali dua kali mendengar keluhan tersebut. Namun tidak ada perbaikan pelayanan dari sisi rumah sakit kepada oknum staf yang sewenang-wenang. “Memang tidak semua. Saya rasa oknum tersebut wajib diberikan sanksi, jika memang terbukti,” katanya.

Ia melanjutkan, sebagai seorang perawat rumah sakit, sudah disumpah akan melayani pasien dengan baik dan benar, tanpa harus memandang status sosialnya.

“Jangan sampai ada perbedaan pelayanan. Apalagi rumah sakit tersebut pelat merah yang notabene merupakan wajah dari Pemerintah Daerah (Pemda) Berau,” tegasnya.

“Sudah sering saya dengar soal perbedaan pelayanan ini. Mana sumpah sebagai tenaga medis,” tambahnya.

Politikus NasDem ini menyebut, pelayanan kesehatan harus ditingkatkan seiring dengan penambahan alat medis. “Percuma alatnya bagus dan mahal tapi pelayanannya masih jomplang, masyarakat Berau juga membayar pajak. Dan dari pajak itu dibuat untuk penambahan sarana di rumah sakit,” tuturnya.

Terpisah, Humas RSUD dr Abdul Rivai, Lubna, mengatakan, pelayanan pasien di IGD sangat tergantung dengan jumlah pasien yang sedang berobat dan tingkat kegawatannya.

Ia tidak bisa memungkiri, untuk pelayanan terutama saat hari libur atau cuti bersama sering terjadi penumpukan pasien di IGD, dikarenakan puskesmas atau praktik mandiri dokter yang tutup. Sehingga, di IGD sering terjadi penumpukan pasien rawat jalan maupun rawat inap.

Di sisi lain, untuk pasien rawat jalan, ia menyebut sering kali pasien tidak sabar menunggu. Karena tidak mau antre di praktik, puskesmas, poliklinik sehingga langsung ke IGD. Sementara pasien dinilai sesuai kategori gawat daruratnya, sebagai penilaian prioritas yang harus ditangani lebih dahulu.

“Kurangnya pemahaman ini yang membuat seringnya terjadi kesalahpahaman oleh tenaga medis dan masyarakat atau pasien dan keluarga,” katanya.

Sedangkan untuk kasus rawat Inap, ia mengatakan terjadi penumpukan pasien di IGD terutama di hari libur, karena ruangan yang masih penuh atau tidak ada pasien yang pulang. Sehingga menyebabkan pasien bisa diobservasi di IGD lebih lama. “Misal pasien masuk ke IGD jam 15.30 Wita, dan baru masuk ruangan jam 20.30 Wita,” katanya.

Ia menjelaskan, pasien saat di IGD akan diperiksa oleh perawat dan dokter jaga di IGD, kemudian akan memberikan penanganan awal berupa pemberian obat-obatan atau infus jika perlu.

Perawat atau dokter jaga juga akan menanyakan jaminan pasien apakah berupa pembayaran umum, jaminan (BPJS/asuransi lain) ini terkait dengan pembelian obat yang akan diberikan dan pemeriksaan penunjang yang akan dikerjakan. Hal ini ditujukan bukan karena untuk perlakuan untuk membedakan pelayanan terhadap pasien, namun ada beberapa syarat yang diperlukan untuk jaminan umum atau asuransi.

“Kemudian melakukan pengambilan darah, pemeriksaan radiologi dan lainlain. Hasil pemeriksaan ini akan bisa keluar dalam beberapa jam, akan semakin lama jika banyak permintaan pemeriksaan yang masuk,” beber Lubna.

Dirinya menambahkan, dokter jaga IGD akan melaporkan ke dokter spesialis sesuai bidangnya masing-masing. Kemudian akan menerima terapi dari dokter spesialis. Untuk beberapa kasus, setelah diberikan terapi, harus ada pemantauan sampai kondisi lebih stabil sebelum dipindah ke ruang rawat inap.

“Terkait dokter susah dihubungi, masingmasing dokter ruangan saat shift pagi, dan satu dokter ruangan saat shift sore atau malam yang stand by di IGD untuk dipanggil apabila ada kondisi darurat,” bebernya.

Terkadang dalam waktu yang bersamaan, ia menyebut terdapat pula beberapa kasus gawat darurat. Seperti pasien sekarat di waktu yang bersamaan, di dalam satu ruangan atau ruangan yang berbeda. Ketika ada kondisi darurat, perawat akan melakukan pemeriksaan kemudian melapor kepada dokter jaga atau dokter spesialis untuk diberikan penanganan darurat.

Walaupun dokter belum datang, biasanya sudah ada SOP yang dijalankan oleh perawat terkait penanganan kondisi darurat, sambil dokter yang bertugas akan tetap datang ke ruangan tersebut.

Sedangkan untuk kasus kecelakaan, sesuai prosedur, maka keluarga pasien harus melapor ke kantor polisi untuk mengurus jasa raharja, atau bisa menggunakan BPJS apabila memang dianggap kasus kecelakaan tersebut tidak ditanggung jasa raharja. Maka surat ini digunakan sebagai pengantar atau pendukung yang akan dilampirkan ke BPJS.

“Hal ini merupakan syarat dari BPJS,” tuturnya.

Namun untuk kasus kecelakaan, petugas IGD tidak akan menunggu surat dari kantor polisi atau jasa raharja dulu sampai selesai baru melakukan tindakan pengobatan. “Biasanya hal ini akan berjalan beriringan, pasien akan dilakukan penanganan, dan keluarga diharapkan sambil menyelesaikan suratmenyurat atau berkas,” jelasnya.

Hal lain yang sering menjadi kendala disebutnya keluarga pasien yang datang satu per satu. Sementara, pasien sudah diberikan penanganan, dan keluarga pendamping sudah dijelaskan. Namun kemudian datang keluarga yang lain untuk melihat pasien tidak ada didatangi nakes dan mendapat penjelasan, sehingga merasa pasien tidak dilakukan apa-apa.

“RSUD terus melakukan upaya perbaikan, dengan cara melakukan penambahan karyawan (dengan cara perekrutan tenaga baru, red) agar jumlah tenaga yang bekerja setiap shift bisa sesuai standar pelayanan,” ucapnya.

Selain itu juga, pihaknya rutin melakukan pelatihan darurat kepada perawat yang dilakukan secara bertahap dan diharapkan semua tenaga kesehatan memiliki keahlian yang sama. “Semua kami lakukan demi pelayanan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, untuk oknum yang membedakan pelayanan, pihaknya selalu ingatkan melalui kepala pelayanan medis dan kepala keperawatan. Bahkan direktur langsung mengingatkan, mengimbau dan memberikan contoh untuk memberikan pelayanan yang sama kepada semua pasien.

“Jika terbukti ada oknum yang membedakan pelayanan kepada pasien, diharapkan keluarga dapat melaporkan kejadian langsung ke customer service yang ada dirawat jalan, ke CP Humas hingga email,” jelasnya.

“RSUD selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik sesuai standar dan SOP yang berlaku,” tutupnya. (hmd/arp)

Editor : izak-Indra Zakaria
#kesehatan