Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Temukan Tiga Kasus Wasit Nakal

wahyu-Wahyu KP • Rabu, 2 Januari 2019 - 16:05 WIB

JAKARTA – Satgas Antimafia Bola sangat berhati-hati menangani kasus mafia bola yang membuat karut-marut kompetisi sepak bola nasional. Sebab, kasus tersebut terbilang kompleks. Melibatkan banyak pihak dan terorganisasi.

Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Argo Yuwono menyampaikan, pihaknya akan menyelidiki kasus match fixing dan match setting secara menyeluruh. Khusus untuk laga PSS Sleman vs Madura FC yang diduga diwarnai ’’main mata’’, katanya, butuh keterangan banyak saksi untuk mengonstruksi kasus tersebut. Saksi tidak hanya berasal dari kedua klub, tetapi juga perangkat pertandingan seperti wasit dan panitia penyelenggara. ’’Semua yang mengetahui dan mendengar akan dimintai keterangan,’’ ucap perwira dengan tiga melati di pundak itu.

Banyak celah untuk menyelidiki sejauh mana dan berapa banyak orang yang terlibat. Satgas sudah memanggil dua wasit yang memimpin laga yang dihelat di Stadion Maguwoharjo, Jogjakarta, pada 6 November itu. Yakni, M Reza Pahlevi dan Agung Setiawan. Pemanggilan dilakukan pada 27 Desember lalu. Namun, keduanya tidak datang.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan, setidaknya ada tiga pintu untuk mengorek lebih dalam kasus tersebut. Yakni, dari pemain, manajemen klub, dan wasit. Dedi tidak memungkiri, dari seluruh laporan yang diterima satgas, banyak kejanggalan pertandingan yang diduga akibat buruknya kinerja wasit. ”Namun, yang dinilai layak ditindaklanjuti ada tiga kasus terkait wasit,” ujarnya. Meski begitu, jenderal dengan bintang satu di pundak tersebut belum mau menyebutkan pertandingan apa saja. Dia berjanji mengumumkan semua hari ini. Sekaligus menjelaskan perkembangan kasus match fixing yang ditangani satgas. ”Tunggu saja, semua akan diberi tahu,” terang Dedi.

Yang jelas, penyidik akan melihat bagaimana prosedur penentuan wasit. ’’Siapa yang menunjuk wasit dan apa pertimbangan wasit tersebut memimpin pertandingan. Dianalisis dan assessment,’’ paparnya. Penilaian tersebut akan diperkuat dengan keterangan saksi dan ahli.

Diketahui,  para penoda sepak bola Indonesia kian dihantui ketakutan kena ciduk Satgas Antimafia Bola. Itu terjadi setelah Vigit Waluyo yang disebut-sebut berbagai pihak sebagai salah seorang sosok sentral dalam dunia mafia sepak bola Indonesia menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo Jumat malam (28/12). Vigit merupakan tersangka kasus korupsi PDAM Sidoarjo yang merugikan negara Rp 3 miliar. Vigit buron sejak Juli 2018 setelah kasusnya divonis oleh Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi

Penyerahan diri Vigit diungkapkan Kepala Kejari Sidoarjo Budi Handaka dalam konferensi pers Senin (31/12). Menurut Budi, Vigit ditemani keluarganya saat menyerahkan diri pada Jumat sekitar pukul 20.00. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, mantan manajer Deltras Sidaorjo itu langsung mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I-A Sidoarjo. ”Saat ini sudah dimasukkan ke Lapas Delta,” ungkap Budi kepada media.

Bisa jadi, jika Satgas Antimafia Bola melakukan pemeriksaan terhadap Vigit, banyak informasi baru yang didapat. Termasuk siapa saja yang selama ini ikut bermain dan terlibat. Sebab, nama mertua mantan pemain Persebaya Danilo Fernando itu diduga kuat tahu banyak soal ”dunia hitam” sepak bola tanah air.  

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyatakan, tidak tertutup kemungkinan penetapan pidana dilakukan kepada Vigit Waluyo. Tentunya bila ditemukan bukti yang kuat. ”Harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tuturnya saat ditemui di kantor Divhumas Polri kemarin.

Kasus yang akan menjerat Vigit bisa saja merembet pada laporan yang telah diterima satgas melalui call center mereka. Tercatat sudah ada 240 laporan dugaan match fixing yang masuk. Dari semua laporan itu, setelah dipilah-pilah, terdapat 47 laporan yang layak untuk ditindaklanjuti. ”Ini sedang kami dalami,” tuturnya.

Perinciannya, 27 laporan soal pengurus klub, 6 laporan terkait kinerja wasit, 7 laporan terkait pertandingan janggal, 3 laporan terkait pemain yang aneh, dan 4 laporan umum. ”Makanya beberapa waktu lalu ada pemeriksaan terhadap Sekjen PSSI (Ratu Tisha Destria) untuk memberikan data pertandingan. Kemudian, dikroscek pada pertandingan yang aneh-aneh ini,” ungkapnya.

Menurut Dedi, yang akan ditindak bukan hanya anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih yang ketahuan menerima suap. Tapi, juga pemain-pemain yang terlihat janggal ketika bermain di lapangan selama kompetisi berlangsung. Pemain yang sengaja melakukan gol bunuh diri misalnya. Atau dengan sengaja gagal melakukan eksekusi penalti dari titik putih. ”Yang jelas, semua elemen pasti diselidiki,” katanya.

Dedi Prasetyo juga berkomentar soal klarifikasi oleh sejumlah pemain timnas pada ajang Piala AFF 2010. Pemain timnas datang ke Polda Metro Jaya untuk mengklarifikasi bahwa permainan berjalan fair. 

Namun, hal tersebut masih versi pemain. Satgas akan mendalami kejadian sebenarnya. ”Kan ini juga viral. Informasinya sebaiknya berupa data. Jangan hanya katanya,” tuturnya.

Untuk itu, akan dilakukan kroscek antara keterangan dari pemain dan sejumlah pihak yang mengetahui pertandingan Piala AFF 2010 tersebut. ”Proses masih panjang ya,” papar mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu.

Penyerahan diri Vigit Waluyo diharapkan bisa membuka pintu kepada tokoh yang terlibat lainnya. Sesmenpora Gatot S  Dewa Broto menyatakan, nama Vigit belum masuk radar Tim 9 bentukan Kemenpora saat gaduh pengaturan skor pada 2015. ’’Saya baru sebatas mendengar yang bersangkutan banyak peran. Tetapi, memang susah. Saat di Tim 9, nama dia belum disebut,” katanya.

Namun, ada data menarik yang disampaikan Gatot. Yakni, ada sosok yang lebih kakap yang masih beredar. Sebelumnya, pria asal Jogjakarta itu juga dimintai keterangan Tim Satgas Antimafia bola terkait dugaan pengaturan skor di kompetisi Indonesia.

”Yang saya sampaikan kemarin juga masih umum. Saya punya kesan, Tim Satgas sudah punya pemahaman yang lebih mendalam,” ujarnya.

Status Vigit yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Kejari Sidoarjo terkait kasus korupsi PDAM ditengarai menjadi alibi yang bersangkutan untuk menghindar dari kejaran Tim Satgas Antimafia Bola. Namun, harapan lebih jauh tentu disematkan kepada Tim Satgas untuk berkolaborasi dengan kejari agar bisa mendapatkan keterangan dari yang bersangkutan.

Secara terpisah, Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Asep Edwin menyatakan, memang ada serba kebetulan terkait penyerahan diri Vigit kepada Kejari Sidoarjo. Sebab, di sisi lain, yang bersangkutan juga tengah masuk daftar yang akan dipanggil Komdis.

”Kalau bicara indikasi keterlibatan, cukup banyak. Dari berita dan keterangan yang lain juga kuat. Data di kami sudah cukup. Tinggal pemantapan,” terang Asep. Dihukumnya PSMP Mojokerto Putra oleh Komdis juga ditengarai memiliki hubungan yang cukup erat dengan keberadaan Vigit Waluyo.

Selanjutnya, Komdis PSSI juga berencana untuk memanggil manajemen dan pemain PSS Sleman. Juara Liga 2 2018 itu juga diduga memiliki keterkaitan dengan Vigit. ”Sedang kami siapkan, mudah-mudahan mereka bisa hadir,” sebut Asep.

Dalam hal ini, Komdis PSSI bakal menerapkan kebijakan whistle blower. Artinya, akan ada jaminan keamanan bagi para saksi yang memberikan data terkait siapa pun yang terlibat dalam pengaturan skor di Liga Indonesia.(han/idr/c17/oni/jpnn/far)

Editor : wahyu-Wahyu KP