Banyak cara yang dilakukan untuk menekan angka kecelakaan. Bahkan dilakukan dengan cara yang tak biasa.
SABTU (19/1) pagi itu terasa cerah di Surabaya. Sinar matahari masih terang benderang, tidak ada mendung sama sekali. Namun, itu seketika berubah ketika masuk menuju Pacet, Mojokerto. Langit mendadak mendung. Kabut tebal menyelimuti sekitar jalur Pacet-Cangar, alternatif jalan Mojokerto ke Kota Batu itu.
Sesekali gerimis kecil mengguyur para pengendara yang melintasi rute “tengkorak” tersebut. Jalan itu terkenal sebagai jalur angker. Alasannya, sering terjadi kecelakaan, yang menyebabkan korban luka patah tulang hingga meninggal dunia.
Maklum jalan alternatif itu memang daerah pegunungan, yang berbelok-belok, turunan curam tikungan dan tanjakan tajam. Itulah yang sering menimbulkan rem blong di kendaraan para pengendara yang melintasi jalan Cangar ke Pacet.
Meski begitu, kini di jalur itu, sudah ada relawan yang mengarahkan laju liar pengendara. Itu sebagai bentuk antisipasi adanya kecelakaan. Minimal, pada hari libur dan Minggu. “Kami hanya memastikan bahwa rem pengendara tidak blong. Kalau sudah blong, kami langsung cegah dengan batu-batu yang dimasukkan dalam kolong ban-ban kendaraan. Khususnya roda empat,” ujar salah satu relawan, Nuruddiyan Kholiq, yang menjadi ketua relawan Welirang Komuniti.
Pria yang akrab dipanggil Dian itu selalu bersiaga. Dia kerap memegang handy talky (HT) di tangannya. Meski dia tidak berada di daerah pos pantaunya. Namun, semua kabar terdengar dari HT itu. Apabila ada kecelakaan, tim relawan akan sigap dan siap melakukan evakuasi.
Selain itu, menurut Dian, daerah tersebut terkenal rawan kecelakaan. Karena banyak kondisi kendaraan, yang sering rem blong. Jalur berbahayanya ada di dua lokasi. Yakni, di daerah pertigaan Gotekan dan Amd. Bila melintasi, pastikan mengikuti rambu-rambu. Para pengendara, wajib menggunakan gigi satu. Sebab, jalur itu menanjak. Selain itu, jalur tersebut mempunyai tikungan tajam.
Rambu-rambu juga mengingatkan untuk mengecek rem. Sebaliknya, jika dari arah Cangar, jalur itu merupakan jalur terakhir, dengan jalan turun sangat curam. Nah, di sini kondisi rem blong sering terjadi. Akibatnya, korban jiwa melayang. “Jika kami melihat itu, relawan pasti saling awas dan koordinasi, pakai sandi “blong”,” lanjut Dian.
Setelah tahu kondisi itu, relawan mencoba menepikan kendaraan. Jika sudah benar-benar rem blong, tim relawan hanya bisa berdoa untuk keselamatan jiwa pengendara.
Para relawan itu berjumlah 130 orang. Mereka tidak dibayar sama sekali. Murni untuk kemanusiaan. Relawan itu tidak terdiri hanya satu komunitas saja. Melainkan ada sembilan organisasi yang tergabung di dalamnya. Selain Welirang Komuniti, ada juga Semar, LPBNU, ISM, TSA, PPNI, Tagana, dan PMI. Semuanya merupakan komunitas di area Mojokerto.
Tujuan relawan itu hanya menolong. Maklum, kata Dian, sebelum adanya relawan, empat sampai lima tahun lalu, jalan tersebut memakan korban puluhan jiwa dalam beberapa bulan. Padahal, jalurnya penuh peringatan dan rambu. “Kini kami melakukan apa yang bisa kami bantu untuk mencegah angka kecelakaan itu. Salah satunya membuat tumpukan sekam di laju gotekan,” ucapnya.
Sekam itu, untuk area penyelamatan. Bentuknya karung-karung yang ditumpuk seperti benteng. Bila motor menabrak sekam, minimal pengendara tidak terlempar jauh. “Nah sekam itu, untuk mencegat orang masuk jurang. Meski pasti ada luka di sekujur tubuh karena kondisi dari atas cepat,” ujarnya.
Dia menerangkan penyebabnya, mesin rem kendaraan terlalu panas. Itu terjadi karena dari arah Cangar, kendaraan melewati empat tikungan S. Selain itu, kondisi turunan juga tajam, sehingga rem pada kendaraan panas. “Ada empat tikungan S, dan cukup curam juga, itu yang membuat panas,” ujarnya.
Tak hanya itu, ujar dia, bila terus dipaksakan mesin rem akan blong. Solusinya, ada Desa Sendi. Tempat itu cocok untuk tempat mengistirahatkan mesin sekaligus menikmati keindahan alam.
Selama menjadi relawan banyak peristiwa suka dan duka yang dialami oleh Dian. Tak hanya dia, mungkin seluruh relawan yang ikut terlibat. Misalnya, melakukan evakuasi korban meninggal dan jatuh dalam jurang, kehabisan kantong mayat, atau dikira penjahat karena mencegat orang suruh berhenti menepi. “Dulu saya mengalami itu waktu kali pertama jadi relawan bersama-sama teman yang lain. Kami dikira penjahat,” kenangnya sambil tertawa.
Selama menjadi relawan, pihaknya tidak menerima uang sepeser pun. Bila itu dilakukan tujuan untuk membantu secara ikhlas, tidak akan terlaksana. “Tujuannya bukan minta-minta sumbangan. Kami ingin ikhlas membantu. Kalau kurang uang, pasti kami urunan saling bantu. Untuk beli alat atau perlengkapan untuk menolong,” imbuhnya.
Adanya relawan juga membantu kinerja kepolisian Satlantas Polres Mojokerto. Kasat Lantas Polres Mojokerto AKP Bobby M Zulfikar, mengatakan, pihaknya sangat terbantu adanya relawan. Sebab, dari data, terdapat penurunan angka kecelakaan secara drastis sesudah ada relawan.”Banyak membantu mereka menekan angka kecelakaan di jalur maut itu,” katanya.
Selain itu, dia mengaku daerah yang sering terjadi kecelakaan hingga korban meninggal memang karena rem blong. Apalagi, itu terjadi dari arah Cangar Batu menuju ke Pacet. Jalurnya, di turunan AMD dan pertigaan gotekan. Sebab, banyak pengendara yang mengalami rem blong di sana.
Saat ini, jumlah relawan semakin bertambah. Bukan hanya itu, kini mereka mempunyai dua ambulans. Gunanya untuk mempercepat proses evakuasi pengendara yang celaka di jalur maut itu.
Meski begitu, jalur itu masih menyimpan banyak kekayaan alam yang indah untuk dilihat. Itu terasa ketika melihat banyak pepohonan rindang, hewan monyet berkeliaran, dan beberapa tempat wisata alam yang ada di jalur tengkorak itu. (ttg/jpnn/rom/k18)
Editor : wahyu-Wahyu KP