Tugas aparat tak melulu meringkus penjahat. Urusan dapur, polisi juga bisa “ikut campur”.
MENGENAKAN kemeja putih dan celana hitam, Ipda Reno Chandra Wibowo tampak rapi. Pakaian yang jarang dia gunakan sebagai aparat penegak hukum. Ya, dia punya misi khusus dengan penampilan klimisnya itu. Keluar-masuk pasar, berinteraksi dengan pedagang dan konsumen.
Bukan untuk berbelanja. Jalan-jalannya punya misi khusus. “Ya, khususnya itu memantau harga, Mas,” ujarnya seraya tertawa. Dia bahkan sudah akrab dengan pedagang pasar induk. Reno bertanggung jawab di lapangan terkait Satgas Pangan Polresta Samarinda.
Lantas, apa yang dilakukan Reno di pasar? Tentu bukan sekadar mengecek. Perwira berpangkat balok satu itu rutin mendata satu per satu harga pangan. Sembako, sayur-sayuran, dan daging.
Bukan sekadar laporan biasa. Laporan harga pangan itu untuk menghindari keluhan sosial di masyarakat. Jika tidak diawasi, bakal membuka risiko masalah sosial. Karena itulah, lingkungan pasar patut dikenal oleh tim satgas pangan. Jadi, pasar bisa dianggap menjadi tempat kerja bagi mereka. “Jika ada perbandingan harga, kami bakal menindak lanjut di lapangan. Hal itu tentu menjadi antisipasi dini,” sebut dia.
Namun, yang menjadi antisipasi adalah menjelang hari-hari besar nasional atau keagamaan. “Dikhawatirkan oknum pedagang menimbun sembako. Nah, mereka itu yang masuk radar tim satgas pangan. Selain itu, termasuk memantau makanan yang kedaluwarsa serta menggunakan bahan makanan berbahaya pun tak luput dari pengawasan kami,” sambung Reno.
Jika terbukti ada yang melanggar, polisi tidak main-main untuk menindak tegas. Karena itulah, satgas pangan juga bekerja sama dengan instansi lain seperti Dinas Koperasi dan UKM Samarinda serta yang lainnya. Reno menyebut, tak sekadar membahas tentang harga pangan dan lainnya, namun termasuk menelusuri adanya dugaan penimbunan. (*/dra/ndy/k8)
Editor : octa-Octa