Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Korut Tertekan, Jepang Merasa Lega

izak-Indra Zakaria • Minggu, 3 Maret 2019 - 19:19 WIB

Kegagalan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong-un pada 27–28 Februari lalu menuai reaksi dari Jepang dan Kosel. Negeri Sakura senang tak ada kesepakatan yang merugikan mereka. Tetapi, tidak demikian halnya dengan Korsel.

 

KERETA berwarna hijau itu sudah siap di Stasiun Dong Dang, Vietnam. Dari kejauhan, Kim Jong-un berjalan sembari tersenyum dan melambaikan tangan menuju kendaraan yang akan membawanya kembali ke Pyongyang. Pemimpin tertinggi Korea Utara (Korut) itu kemarin (2/3) menyelesaikan lawatannya ke Hanoi, Vietnam.

Jong-un memang tak langsung pulang setelah pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump yang gagal membuahkan kesepakatan pada 27–28 Februari lalu. Dia memilih untuk melakukan berbagai lawatan kenegaraan dahulu. Vietnam memang memiliki kedekatan dengan Korut. Saat perang Vietnam berlangsung, Korut membantu negara tersebut.

Senyuman Jong-un itu hanya topeng sementara. Para pengamat mengungkapkan bahwa pulang tanpa kesepakatan dengan AS menjadi pukulan telak bagi Jong-un.

Sejak awal dia yakin bahwa pertemuannya kedua dengan Trump itu akan membuahkan hasil. Ternyata yang dihasilkan hanyalah rasa malu. Sebab, dia sudah naik kereta 2,5 hari menyeberangi Tiongkok menuju Vietnam, tetapi tak mendapat apa-apa.

’’Dia mungkin akan membersihkan beberapa negosiatornya karena mereka telah gagal memprediksi Trump,’’ ujar Alison Evans, peneliti senior di IHS Markit, sebagaimana dikutip The New York Times.

Para pengamat menilai bahwa kegagalan pertemuan kedua itu disebabkan AS dan Korut tidak memiliki pemahaman yang sama tentang denuklirisasi yang mereka sepakati di Singapura pada Juni tahun lalu.

Korut hanya ingin menghancurkan sebagian persenjataannya dan sebagai gantinya sanksi mereka dicabut. Sedangkan AS menginginkan denuklirisasi seutuhnya sebelum semua hukuman untuk Pyongyang dihapuskan.

Meski pihak Korut sempat menyatakan bahwa pemimpin mereka tidak lagi tertarik untuk bertemu dengan Trump, Jong-un tak bisa melangkah mundur. Sanksi dari PBB dan AS mengakibatkan perekonomian negeri yang paling tertutup sedunia tersebut terus menurun dua tahun belakangan ini.

Sanksi itu memang tidak begitu berimbas kepada Pyognyang yang merupakan ibu kota negara. Tetapi, kawasan pedesaan sangat menderita.

’’Sistem kesehatan publik kian buruk. Jika lima tahun ke depan situasinya tetap sama, Korut tidak akan mampu mengontrol penyakit-penyakit menular,’’ ujar Direktur Eksekutif DoDaum Kim Tae-hoon.

Lembaga kemanusiaan yang berbasis di New York itu kerap ke Korut untuk membantu penderita HIV/AIDS, malaria, TB, dan hepatitis. Hingga saat ini, penderita penyakit-penyakit menular tersebut terus naik. Para pejabat Korut takut situasi yang terus memburuk bisa memicu pertikaian dan pemberontakan.

Meski tidak ada hasil yang dicapai, Jong-un mendapat penilaian positif dari pertemuan pertama dan kedua dengan Trump. Terlebih, dalam KTT di Hanoi, dia mau diwawancarai media asing. Direktur Security and International Studies Program di National Graduate Institute for Policy Studies, Tokyo, Narushige Michishita mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut menunjukkan fakta bahwa Jong-un adalah pemimpin yang rasional dan penuh perhitungan.

Tidak adanya kata sepakat membuat Jepang lega. Sebab, sebelumnya ada kabar bahwa Korut akan menyerahkan misil balistik interkontinentalnya (ICBM). Tetapi, rudal jarak pendek dan menengah akan tetap dimilikinya. Nah, misil jarak menengah Pyongyang sangat mampu menjangkau Jepang.

Mantan Duta Besar Jepang untuk AS Ichiro Fujisaki mengungkapkan bahwa daripada mendapat kesepakatan yang buruk, aka lebih baik tidak usah sama sekali.

Berbeda dengan Jepang, bagi Korea Selatan (Korsel), kegagalan kesepakatan Korut-AS adalah berita buruk. Proyek-proyek yang mereka rencanakan dengan negara tetangganya tersebut tidak akan bisa dicapai. Korut-Korsel ingin menghubungkan rel kereta api dua negara. Tetapi, untuk melakukan itu, sanksi-sanksi yang dijatuhkan ke Pyongyang harus dicabut lebih dahulu.

Terhubungnya rel kereta dua negara bakal menguntungkan dua pihak. Korsel bisa mengekspor barang-barang lewat jalur kereta ke berbagai penjuru dunia dengan biaya lebih murah. Posisi Korsel yang berada di ujung Semenanjung Korea membuatnya hanya punya dua opsi untuk melakukan ekspor. Lewat jalur laut yang lebih lama atau jalur udara cepat tapi lebih mahal.

Dua juga ingin membuka kembali resor di Diamond Mountain yang terletak 48 kilometer dari perbatasan Korsel. Demikian halnya dengan Kaesong Industrial Zone (KIZ). Moon berjanji akan berusaha sekuat tenaga membantu AS dan Korsel mencapai kata sepakat. ’’Kini peranan kita (dalam kesepakatan AS-Korsel) menjadi lebih penting,’’ tegas Moon. (sha/c4/dos)

 

 

 

Kekuatan Militer Korut

 

Amerika Serikat memang berpikir dua kali untuk menyerang Korut. Sebab, Pyongyang punya kekuatan militer yang cukup mumpuni. Berikut di antaranya:

 

– Misil balistik Hwasong-12 mampu mencapai jarak 4.500 kilometer. Itu bisa menjangkau pangkalan militer AS di Guam.

– Misil balistik interkontinental (ICBM) Hwasong-14 bisa menempuh jarak 10.000 kilometer dan bisa mencapai New York.

– Saat ditembakkan ke atas, ICBM Hwasong-15 bisa mencapai ketinggian 4.500 kilometer atau 10 kali lebih tinggi dibanding posisi Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Jika ditembakkan lurus, ICBM Hwasong-15 bisa mencapai jarak 13.000 kilometer dan mampu menjangkau semua wilayah AS tanpa terkecuali.

– Pada 3 September 2017, Korut menguji coba senjata termonuklir di Punggye-ri yang kekuatannya 100–370 kiloton. Itu enam kali lebih kuat dari bom yang dijatuhkan tentara sekutu di Hiroshima, Jepang, pada1945 di Perang Dunia II.

– Intelijen militer AS meyakini Korut sukses membuat hulu ledak nuklir yang cukup dimasukkan ke misil buatan mereka.

– Korut diyakini punya setidaknya 30 senjata nuklir.

– Memiliki salah satu kekuatan prajurit terbesar di dunia. Jumlahnya mencapai 1,19 juta orang, hampir setara dengan milik AS. Itu belum termasuk prajurit cadangan yang mencapai 5,7 juta orang.

– Salah satu negara dengan kapal selam terbanyak, 73 buah.

– Punya 200 ribu prajurit khusus yang bisa dengan cepat menyusup ke Korsel yang merupakan sekutu AS.

– Salah satu penyetok senjata kimia terbesar di dunia, yaitu 2.500–5.000 ton.

– Jika terjadi perang, Tiongkok siap membantu.

Sumber: BBC

Editor : izak-Indra Zakaria
#luar negeri #Mancanegara