SAMARINDA–Matahari mulai meninggi ketika Ida (36) menyajikan kopi panas untuk suaminya di teras rumah bangsal, Perumahan Pondok Karya Lestari (PKL), Jalan Sejati, Blok B, RT 12, Sungai Kapih, Sambutan. Saat bersamaan, dia merasakan hawa tak kalah panas dari arah punggung rumahnya. Ternyata sebuah bangunan sudah mulai diselimuti api.
“Saya baru buat kopi, tapi kok panas betul dari arah dapur, makanya saya buka jendela,” ujar Ida. Dia terkejut, ketika membuka jendela, asap hitam menyeruak ke dalam, diikuti api yang menjilati dinding belakang rumahnya.
Panik dan takut, Ida bergegas keluar rumah sembari membawa beberapa barang yang bisa diselamatkan. “Anak-anak sudah berangkat sekolah. Apinya dari bagian belakang, pokoknya,” kata Ida. Kebakaran di permukiman itu terjadi sekira pukul 07.35 Wita. Posisi rumah yang saling berimpitan membuat api cepat menjalar ke bangunan lain. Upaya warga memadamkan dengan alat seadanya, sia-sia. “Api terus membesar, Mas,” sambungnya saat diwawancara Kaltim Post.
Dalam hitungan menit, api meluas. Tiga rumah tunggal ikut terbakar. Pada kejadian pagi itu, sebagian besar warga sudah keluar rumah. Beraktivitas untuk memulai awal pekan.
Total ada empat rumah yang dilalap api. Tidak hanya kehilangan tempat tinggal, korban kebakaran tak sempat menyelamatkan hartanya. Upaya petugas memadamkan api baru berhasil setelah satu jam berjibaku dengan api. "Habis semua, motor, seragam sekolah anak, tidak bisa saya diselamatkan," ujar Ida. Menurut Geger, ketua RT 12, awal mula yang dilihat hanya kepulan asap tebal. Namun, kemarin pagi, angin bertiup cukup kencang.
Total ada 28 jiwa dari tujuh kepala keluarga (KK) jadi korban. "Sekitar pukul 08.35 Wita api sudah dijinakkan. Ada bantuan dari relawan juga," ucap Sunardi, personel Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Samarinda. Tercatat, kasus kebakaran permukiman telah terjadi lima kali hingga kemarin. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan kepolisian. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. (*/dra/ndy/k8)
Editor : octa-Octa