Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Uang yang Keluar dari Kaltim Selalu Lebih Banyak

izak-Indra Zakaria • Rabu, 20 Maret 2019 - 19:59 WIB

SAMARINDA-Nilai uang kartal yang diedarkan atau outflow di Kaltim mencapai Rp 5,06 triliun pada triwulan IV 2018 atau turun 11,75 persen year on year (yoy). Sedangkan uang masuk (inflow) sebesar Rp 2,36 triliun meningkat 18,62 persen. Bumi Etam tetap mengalami net outflow sebesar Rp 2,7 triliun. Uang keluar Kaltim selalu lebih besar, hal itu sudah menjadi karakteristik daerah.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran Pengedaran Uang Rupiah (SPPURS) KPw-BI Kaltim I Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan, uang keluar dari BI selalu lebih besar daripada uang masuk. Itu sudah menjadi karakteristik kebanyakan bank sentral di beberapa provinsi di Indonesia bagian timur.

“Sedangkan bank sentral di Pulau Jawa kebanyakan mencatatkan net-inflow, atau uang masuk jauh lebih banyak dari uang yang keluar,” katanya Selasa (19/3).

Dia mengatakan, pada triwulan IV 2018 Kaltim kembali mengalami net outflow. Sesuai pola seasonal-nya, jumlah transaksi tunai di Kaltim pada triwulan IV 2018 mengalami penurunan jika dibandingkan periode sebelumnya. Secara nominal, nilai uang kartal yang diedarkan di Kaltim mencapai Rp 5,06 triliun pada triwulan IV 2018. Sementara itu, nilai uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia (inflow) sebesar Rp 2,36 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 18,62 persen (yoy).

Outflow ini sejalan dengan belanja masyarakat yang meningkat dalam rangka menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN),” ungkapnya.

Menurutnya, Outflow ini juga didukung oleh Bandara APT Pranoto Samarinda yang mulai melayani penerbangan ke luar wilayah Kaltim. Secara spasial, penurunan jumlah arus kas di triwulan IV 2018 terjadi di wilayah kerja  KPw-BI Kaltim dan Bank Indonesia Balikpapan. KPw-BI Kaltim mengalami penurunan aliran masuk bersih (net outflow) sebesar Rp 1,57 triliun, Sementara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan mengalami net outflow sebesar Rp1,12 triliun. Bumi Etam sebagai daerah penghasil  sumber daya alam (SDA) tentunya sudah menjadi sebuah kewajaran masyarakatnya banyak berasal dari luar Kaltim. Sehingga kebanyakan uang diperoleh akan dinikmati di daerah asal masyarakat, yaitu Pulau Sulawesi, Jawa dan lainnya.

“Namun, walaupun setiap tahun Kaltim selalu mencatatkan net-outflow hal itu bukanlah masalah. Banyaknya uang yang keluar atau masuk bukanlah patokan baik buruknya ekonomi suatu daerah,” jelasnya.

Yang terpenting sudah terpenuhinya uang dalam suatu daerah. Kebutuhan uang selama ini di Kaltim pasti terpenuhi, itu sudah baik terlepas dari net-outflow atau net-inflow. Dalam rangka memelihara serta meningkatkan kualitas Uang Layak Edar (ULE) kepada masyarakat atau Clean Money Policy (CMP), Bank Indonesia melakukan kegiatan pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) secara rutin.

Pada triwulan IV 2018, penarikan UTLE yang dilakukan BI di Kaltim  minus 28,12 persen (yoy) mengalami penurunan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 11,49 persen (yoy). Selanjutnya, rasio penarikan UTLE terhadap inflow pada triwulan IV 2018 tercatat 27,92 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 31,75 persen (yoy).

“Untuk menjamin ketersediaan ULE di Kaltim pengedaran dalam jumlah dan pecahan juga dipantau,” pungkasnya. (*/ctr)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Ekonomi Kaltim #Bisnis Kaltim