SAMARINDA - Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi meminta mahasiswa menolak pabrik semen, Aliansi Masyarakat Peduli Karst Kaltim agar mengedepankan dialog.
Hal ini agar pemerintah provinsi memiliki masukan dan tepat dalam mengambil keputusan terkait kebijakan perizinan pendirian pabrik semen di Kaltim.
"Kalau ada kajian. Saya harus kaji. Kalau mereka punya kajian sampaikan kepada saya. Kepala Dinas juga punya kajian, sampaikan kepada saya. Kalau, ada tidak benar, kita batalkan. Saya sudah rapat dengan OPD, ada sedikit masalah. Kita akan batalkan kalau ada masalah," kata Hadi, Senin (8/4/2019) lalu, usai temui pendemo tolak pabrik semen di Kantor Gubernur Kaltim.
"Tapi jangan dengan cara-cara yang tidak mau berdialog. Katanya mau berdialog tapi nggak mau berdialog, esensinya. Kita mau berbicara, susah," ujar Hadi.
Wakil Gubernur Hadi Mulyadi bersama para pendemo.
Hadi keberatan bila dirinya didesak mengambil keputusan menolak pabrik semen dihadapan mahasiswa berdemonstrasi di depan Kantor Gubernur.
"Harus membuat keputusan di panggung tidak pakai data, berdosa dong saya ambil keputusan tanpa data," ujar Hadi.
Hadi meminta para mahasiswa melihat dirinya sebagai Wakil Gubernur membawahi jajaran struktur pemerintahan yang bekerja sesuai aturan perundang-undangan.
"Saya pemerintah, jangan melihat saya secara pribadi. Di belakang saya, ada aparat, ada OPD. Investor silahkan datang. Kita ingin iklim investasi yang kondusif agar dapat mensejahterakan masyarakat," ujar Hadi.
Disinggung, investor Cina Hongshi Holding berencana masuk membangun pabrik semen kerjasama dengan PT Kobexindo di Desa Sekerat Kutai Timur, Hadi mengungkapkan rencana tersebut belum jalan. "Kalau dari China itu belum apa-apa," katanya.
Munculnya demonstrasi penolakan pabrik semen dua kali ini, Hadi berjanji akan terjun ke lapangan. Ia berjanji mencari data yang valid untuk persoalan ekosistem Karst Kaltim dan dampak berdirinya pabrik semen.
"Saya akan tinjau ke lapangan. Saya akan minta Kepala Sub Dinas menyerahkan data valid. Hitam putihnya, sampaikan. Kalau harus ditolak, kita tolak. Saya tidak ada urusan satu sen pun dengan mereka. Mau ada investor dalam negeri atau Arab atau China, kalau tidak memenuhi syarat silakan pergi dari Kaltim. Tapi kalau memenuhi syarat, silahkan investor bekerjasama dengan baik," ujar Hadi.
Demonstrasi penolakan pabrik semen untuk kedua kalinya terjadi bentrok ketika para mahasiswa melempar batu ke arah kantor Gubernur. Kepala Satpol PP Gede Yusa mengalami luka sobek betis, anggota Satpol PP Aidil Adha luka di pelipis dan Kadir terluka bibir.
Sedangkan, tiga polisi, Bripka Kristianus terluka bagian hidung dan bibir, Bripka Ramos terluka pelipis serta Bripda Heri dan Briptu Dedi mengalami sesak napas.
Adapun, dua mahasiswa, Armin Beni koordinator lapangan demonstrasi dan Rahim Dinata sri Permahi Samarinda terkena pukulan.
Sebelumnya, demo penolakan pabrik semen di kantor Gubernur pada 25 Maret 2019 lalu berujung bentrok. Seorang perwira polisi, Wakasat Binmas Polresta Samarinda, Hardi ketika itu terluka di bagian kepala akibat terkena lemparan batu dari para demonstrasi tolak semen. (mym)
Editor : izak-Indra Zakaria