Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Rencana Pemindahan Ibu Kota di Mata Plt Sekprov Kaltim Muhammad Sabani

izak-Indra Zakaria • Selasa, 6 Agustus 2019 - 05:00 WIB

Drama jabatan sekretaris provinsi (sekprov) Kaltim membuat namanya kerap muncul di media. Namun, Muhammad Sabani tidak mau ambil pusing. Bagi dia, keluarga dan tetap mengabdi sebagai aparatur sipil negara (ASN) yang utama.

 

FIRZA AZMI FAUZIYYA, Balikpapan

 

SEHARI dalam sepekan. Biasanya, Sabani harus hijrah dari Kota Tepian. Tempatnya mengabdi di gubernuran Kaltim. Ke Balikpapan, tempat istri dan anak-anaknya berada. Melepas rindu dan istirahat dari penatnya bekerja. Tidak jarang, keluarga yang diboyong ke Samarinda. “Saya kan tinggal di dua tempat. Balikpapan dan Samarinda. Biasanya di Samarinda, ya bekerja,” kata ayah dari dua putra dan tiga putri itu.

Sempat menjadi kepala Seksi Industri Pertambangan dan Energi (IPE) di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim pada 1993, pria kelahiran Samarinda 1962 itu punya sejarah panjang menjadi birokrat di Balikpapan.

Tercatat sejak 1995–2009, Sabani berkarier di Kota Minyak. Kariernya melesat dari jabatan kepala Bidang Fisik dan Prasarana Bappeda Balikpapan, hingga menjadi kepala dinas. “Ya, sudah 10 tahun. Terakhir jabatan saya kepala Bappeda (Balikpapan),” sebutnya.

Asam garam berdinas di Bappeda Balikpapan mengasah kemampuan Sabani memahami konteks mengembangkan dan memajukan sebuah wilayah. Apalagi sebagai seorang insinyur, menggelitiknya untuk memberikan pemikiran. “Di Balikpapan misalnya, perlu center of excellence,” cetus master di Human Settlement Division Asian Institute of Technology Thailand itu.

Itu adalah sebuah pusat segala aktivitas. Dari teknologi, kreativitas, dan inovasi. Yang bisa membuat warga meraih suatu gagasan baru ke depannya. Menurut dia, Pemkot Balikpapan cukup fokus pada satu tempat ini. Dan bisa melengkapinya dengan berbagai fasilitas.

“Tempat ini akan menggambarkan berbagai ilmu pengetahuan, mengenai perkembangan kota, manusia, dan teknologinya,” papar sarjana lulusan Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda itu.

Dengan aksesibilitas yang lebih mudah, nantinya warga lebih mudah menuangkan ide serta kreativitas mendorong sarana sosial. Seperti pembukaan lapangan kerja dan ekonomi baru yang kreatif. Selain itu, konsep kota yang nantinya layak dan bisa dikembangkan sesuai dengan kapasitas penduduk. “Ini bisa menjadi jalan keluar bagi pemkot menghadapi berbagai persoalan penduduk dan permukiman,” ungkap Asisten I Sekprov Kaltim yang juga Plt Sekprov Kaltim itu.

Karena diketahui, kondisi topografi Balikpapan berbukit-bukit. Konsentrasi penduduk banyak terpusat pada titik-titik yang justru rawan erosi dan pergerakan tanah. Sehingga sejak awal, perlu adanya detail tata ruang yang adaptif terhadap kawasannya. Juga, adanya penetapan zona yang disesuaikan dengan jenis bangunan dan kapasitas daya tampung penghuninya.

“Center of excellence itu diharapkan bisa menjadi bagian untuk kita mengkaji semua itu,” tutur mantan staf ahli gubernur bidang sumber daya alam, perekonomian daerah dan kesra pada masa Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak itu.

Pada era digitalisasi, Balikpapan menurutnya juga harus bisa beradaptasi sesuai perkembangan teknologi. Tapi juga diimbangi dengan spiritualitas manusianya. Karena penggunaan teknologi tanpa diimbangi spiritualitas penggunanya, fasilitas teknologi hanya sebagai pemuas keinginan manusia semata. “Tidak ada kerangka yang menjaga dan membatasi. Harus ada frame yang harus membatasi semua aktivitas itu,” tuturnya.

Pada 2009, dia kembali berdinas di Pemprov Kaltim. Sudut pandang tentang Kaltim lebih luas. Perjalanan ke sejumlah daerah membuatnya mengetahui karakteristik daerah. Sehingga ketika Kaltim masuk sebagai nominator ibu kota negara menggantikan Jakarta, Sabani sudah punya konsep pemikiran sendiri. “Kalau di Kaltim harus di kawasan baru. Saya melihat yang pas memang di zona antara Balikpapan dan Samarinda,” sebutnya.

Dua kota itu akan menjadi wilayah penyanggah pemerintahan. Balikpapan akan menjadi pusat bisnis baru pendukung kawasan selatan. Sementara itu, Samarinda akan mendukung untuk kawasan utara. “Apalagi aktivitas sumber daya alam banyak di utara,” ucapnya.

Perlu dilakukan perencanaan yang terintegrasi. Karena kondisi Kaltim sangat rawan terhadap potensi perubahan lingkungan. Dengan pindahnya pusat pemerintahan negara, berarti mendatangkan jutaan manusia baru. Dengan berada di kawasan baru, maka bisa mendukung akselerasi ekonomi yang lebih mudah bagi kota di sekitarnya. “Tak hanya aktivitas pemerintahan. Aktivitas bisnis akan ikut dengan sendirinya,” ujar dia.

Dengan ibu kota negara di Kaltim, segala akses akan lebih terbuka. Pemerintah pusat akan memprioritaskan kemudahan masyarakat memperoleh utilitas. Infrastruktur akan tersebar.

Menghadapi serbuan penduduk harus dibarengi dengan pertumbuhan pusat pendidikan dan pelatihan. Apalagi jika masyarakat di Kaltim tak ingin ketinggalan. Ikut berdaya saing dengan pendatang. “Jangan lupa pembangunan manusianya. Harus seimbang juga dengan pembangunan kotanya,” tutur dia.

Maklum, bagi pria yang pernah mengenyam bangku SMA 1 Kandangan, Kalsel, itu mengembangkan sumber daya manusia yang lebih utama. Dia memilih membaca. Literasi meningkatkan pemahamannya tentang kondisi sekitar.

Koran dipilih untuk mengetahui situasi di daerah dan ibu kota. Termasuk rencana pemindahan ibu kota. “Kalau waktunya banyak, lebih memilih membaca buku. Terutama soal implementasi agama dalam kehidupan kita. Saya juga menyukai riwayat Rasul Muhammad dan para sabahat,” ungkap pemilik koleksi ratusan buku itu.

Mengikuti perkembangan kariernya, waktu berkumpul bersama keluarga lebih jarang. Kesempatan yang langka pada akhir pekan itu-lah yang dimanfaatkan Sabani. Selain bersantai, hobinya untuk mengajak makan keluarga. Menu favoritnya ikan bakar dan kambing. “Makanya saya tak mau anak-anak jadi pegawai negeri. Kalau bisa berkarya dan memiliki usaha sendiri,” ucap mantan kepala Dinas Perhubungan Kaltim itu.

Untuk diketahui, Abdullah Sani telah dilantik Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sebagai sekprov Kaltim di Jakarta pada Selasa (16/7). Namun, rupanya pelantikan itu tidak dianggap oleh Gubernur Kaltim Isran Noor. Mantan bupati Kutai Timur itu tetap memercayakan M Sabani sebagai Plt Sekprov Kaltim. Sedangkan Sani tetap sebagai kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltim. (rdh/rom/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria
#ibu kota negara