Kericuhan akhir pekan di Hongkong berlanjut hingga kemarin (6/10). Massa masih mengamuk pasca pemberlakuan hukum darurat oleh Chief Executive Hongkong Carrie Lam. Mereka pun terus membangkang larangan penggunaan topeng dan masker di depan umum.
Pengunjuk rasa masih memenuhi beberapa titik seperti Victoria Harbour sejak pagi. Awalnya, aksi tersebut berjalan damai. Kerusuhan baru terjadi saat polisi berusaha membubarkan massa dengan gas air mata.
Eskalasi pertikaian antara aparat dan demonstran pun menyebar ke pusat bisnis Hongkong. Di Distrik Sham Shui Po, seorang sopir taksi dibuat babak belur oleh demonstran. Mereka mengamuk setelah sang sopir ingin menerobos paksa kerumunan pengunjuk rasa.
”Dua perempuan ditabrak. Satu perempuan malah terjebak antara mobil dan toko,” ujar Wong, salah seorang saksi insiden, kepada Agence France-Presse.
Perilaku agresif demonstran ikut dipicu sikap Pengadilan Tinggi Hongkong. Beberapa jam sebelum aksi dilakukan, hakim pengadilan tinggi menolak permintaan aktivis untuk mencabut sementara tindakan darurat yang dikeluarkan pemerintah. Menurut hakim, Lam punya kuasa untuk membuat aturan selama dirasa ada ancaman terhadap negara.
”Kalau Carrie Lam memang ingin meredam situasi, jelas ini bukan caranya,” ujar Correy, salah seorang pendemo.
Daerah administrasi khusus itu pun makin hancur lantaran diterpa kerusuhan tiga hari berturut-turut. South China Morning Post mengabarkan bahwa 80 lampu lalu lintas di berbagai distrik sudah dirusak. Citybus mengumumkan penundaan atau pengalihan terhadap lebih dari 120 rute. Sementara itu, operator kereta bawah tanah menonaktifkan sebagian besar layanannya.
Pemblokadean jalan sudah tentu dilakukan pengunjuk rasa. Menurut mereka, aksi itu dilakukan untuk memperlambat kedatangan pasukan antihuru-hara. ”Ini untuk melindungi masyarakat. Toh, polisi sudah menutup akses di sekitar sini,” ungkap seorang pendemo di Harcourt Road.
Hongkong memang memasuki babak yang lebih tragis setelah Lam melarang penggunaan topeng dan masker di publik. Pekan ini sudah ada dua remaja yang menjadi korban tembak. Pertama saat demo yang Selasa lalu (1/10). Yang kedua terjadi Jumat (4/10). (bil/c10/sof)
Editor : izak-Indra Zakaria