Hujan mengguyur Kabupaten Berau kembali membuat air di Sungai Segah berubah warna. Dampak dari perubahan itu mengakibatkan ratusan ikan di keramba Jalan Bujangga, mati pada Minggu (5/1) pagi.
TANJUNG REDEB–Basri, pemilik keramba, menyatakan bahwa pembudi daya ikan air di daerah Bujangga ada sekitar enam orang dari total 11. Kejadian itu membuat para pembudi daya ikan air tawar menderita kerugian hingga ratusan juta. Nahas, para pembudi daya bingung harus mengadu ke mana.
“Ini nyata limbah dari pupuk perusahaan sawit dan pembuangan limbah langsung ke sungai. Bertahun-tahun sudah tinggal di sini (Berau) tidak ada yang namanya fenomena alam,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Taban, pembudi daya lain menambahkan, ikan yang mati lantaran kekurangan oksigen karena perubahan warna air, yang diindikasikan karena limbah. Pemerintah diharapkan peka dan jujur dengan keadaan yang sudah terjadi berulang kali. “Ikan yang mati ada jenis nila, mas, dan patin. Kerugiannya ditaksir ratusan juta. Jangan pernah menutupi, nyata limbah perusahaan sawit,” tegasnya.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau Tantram Rahayu menuturkan, siap mendampingi pembudi daya ikan yang terdampak limbah perusahaan sawit. Pasalnya, kembali matinya ratusan ikan warga daerah Bujangga memakan banyak kerugian.
"Kalau kami siap mendampingi sebagai pembina. Seandainya ada pihak yang bertanggung jawab terhadap klaim itu, kami siap sampai tuntas,” tegasnya. "Itu tugas kami. Kematian ratusan ikan itu disebabkan karena perubahan air. Sejak November 2019 lalu kami tidak pernah lepas memantau, sampai sekarang pun tetap dipantau dicatat terus," pungkasnya. (*/aky/dra2/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria