Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jepang dan AS Mulai Evakuasi Warga, Australia Malah Mau Karantina Warga di Pulau

izak-Indra Zakaria • Kamis, 30 Januari 2020 - 17:46 WIB
Warga Jepang yang berada di Wuhan dipulangkan.
Warga Jepang yang berada di Wuhan dipulangkan.

Jepang menjadi negara pertama yang berhasil mengevakuasi warganya dari Wuhan. Rabu pagi (29/1) sebanyak 206 warga Jepang tiba di Bandara Haneda Tokyo. Begitu mereka tiba, petugas medis langsung melakukan tes kesehatan di kabin pesawat. Tak ada yang bersorak meski berhasil ”kabur” dari Wuhan yang menjadi sarang 2019-nCoV itu. ”Saat terbang, semuanya diam,” ujar Takayuki Kato, penduduk Jepang yang bekerja di Wuhan, kepada Agence France-Presse.

Mereka tahu beberapa hari ke depan merupakan masa penting. Dari ratusan orang yang tiba, ada lima yang mengaku tak enak badan. Dua di antara mereka mengalami gejala pneumonia. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan tujuh lainnya didiagnosis mengalami gejala flu. Namun, tak ada yang dikarantina.

Undang-undang Jepang memang melarang karantina paksa terhadap penduduk yang belum positif terjangkit virus. Namun, mereka diimbau melakukan karantina sendiri di rumah. ”Biasanya status pasien bisa ditentukan dalam satu atau dua hari. Tapi, kami belum bisa melakukan tes yang cukup untuk virus baru ini,” ungkap seorang petugas medis.

Setelah Jepang, Amerika Serikat (AS) juga mulai memulangkan warganya. Pesawat yang membawa 201 warga AS dari Wuhan baru tiba di Anchorage, Negara Bagian Alaska, kemarin. Para penumpang langsung bersorak saat pesawat mendarat. Di sana mereka menjalani pemeriksaan kesehatan sambil menunggu pesawat mengisi bahan bakar.

Menurut Anne Zink, kepala petugas medis Alaska, petugas dari Centers for Disease Control sudah meloloskan mereka. Kini mereka menunggu penerbangan lanjutan menuju tujuan terakhir, March Air Reserve Base di Riverside County, Los Angeles.

”Pemeriksaan di Tiongkok dan Alaska merupakan langkah penting untuk memastikan keselamatan penumpang serta pencegahan persebaran virus,” ujar Gubernur Alaska Mike Dunleavy kepada New York Times. Pemerintah Australia lebih ekstrem lagi. Saat ini Perdana Menteri Australia Scott Morrison mempertimbangkan rencana karantina 600 warga yang tinggal di Wuhan dan sekitarnya. Mereka ingin menggunakan Pulau Christmas sebagai lokasi isolasi selama 14 hari.

Pulau Christmas digunakan Australia sebagai pusat detensi pencari suaka. Namun, mereka mengatakan sanggup menyulap pulau yang terletak 2.600 kilometer dari Pulau Australia itu. ”Kami fokus membawa kelompok paling rentan. Seperti bayi, anak-anak, dan lansia,” ungkap Morrison kepada The Guardian.

Banyak negara yang mawas terhadap proses evakuasi. Sebab, kasus-kasus penyebaran lokal sudah bermunculan. Pemerintah Jerman baru saja mengumumkan satu pasien positif virus korona. Padahal, dia tak pernah berkunjung ke Tiongkok. Menurut pemerintah, pria tersebut telah bertemu dengan koleganya yang berasal dari Wuhan. Kolega itu baru terlihat sakit saat penerbangan pulang ke Tiongkok.

Di Jepang, seorang pemandu wisata juga terbukti positif korona. Dia dilaporkan dua kali menjadi sopir bagi kelompok turis asal Wuhan di Prefektur Nara. ”Kami akan berusaha sekuat tenaga mencegah pencegahan infeksi virus ini,” ujar Sekjen Kabinet Jepang Yoshihide Suga.

Saat ini persebaran 2019-nCoV sudah melebihi SARS. Terakhir, South China Morning Post melaporkan adanya 6.154 pasien virus korona di Tiongkok. Selain itu, korban jiwa domestik sudah mencapai 132 orang. Padahal, SARS hanya mencatat total sekitar 8 ribu pasien selama dua tahun.

Di tengah keputusasaan, Tiongkok masih belum menyerah. Kemarin mereka baru saja menyelesaikan satu rumah sakit khusus virus korona dengan kapasitas seribu pasien. Proyek itu diselesaikan hanya dalam waktu 48 jam. Saat ini dokter sedang melakukan pengenalan terhadap lingkungan rumah sakit. The Dabie Mountain Regional Medical Centre di Huanggang bakal beroperasi penuh Jumat (31/1) .

WUHAN JIAYOU

Di Wuhan, warga lokal pun terus mencoba memberikan motivasi. Di beberapa gedung apartemen, penghuni yang terkunci terekam meneriakkan, ”Wuhan Jiayou.” Kalimat yang artinya ”semangat Wuhan” itu dibalas penghuni lainnya.

Penduduk desa di Changde pun menunjukkan solidaritasnya dengan menyumbangkan 15 ribu masker. Di Tiongkok, karena kelangkaan masker, banyak yang lebih senang mendapatkan masker sebagai angpao daripada uang.

Jangan salah, pria bernama Hao Jin bukanlah pengusaha pabrik masker. Dia adalah mantan pekerja di pabrik masker. Namun, saat di-PHK, dia tak mendapatkan uang pesangon karena perusahaan tak punya lagi uang. Hao justru mendapatkan belasan ribu masker yang sudah diproduksi.

”Saya sudah lupa soal masker sampai melihat krisis ini. Saya pikir lebih baik memberikan barang ini ke orang yang lebih membutuhkan,” ungkapnya kepada Xiaoxiang Morning Herald. 

INDONESIA KAPAN EVAKUASI WARGANYA? 

 

Jika Jepang dan AS berhasil mengevakuasi warganya, mengapa RI tidak bisa? Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia Kemenlu Judha Nugraha berkilah, AS dan Jepang memiliki skala prioritas untuk mengevakuasi warganya. Mulai very important person (VIP), lalu ke warga kelas bawah. Sedangkan di Indonesia, tidak ada aturan mengevakuasi berdasar kelas maupun kategori warga. ”Semuanya sama, perlindungan WNI tidak membeda-bedakan VIP maupun lainnya,” ujarnya. Biaya pemindahan sepenuhnya ditanggung negara.

Plt Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah meminta tidak membanding-bandingkan proses evakuasi pemerintah Indonesia dengan negara lain. Yang jelas, menurut dia, pemerintah sedang mematangkan skema untuk melakukan evakuasi. ’’Semua sudah disiapkan, mudah-mudahan relatif cepat (evakuasi). Ya memang sebaiknya tidak terlalu banyak orang yang masuk ke sana untuk menghindari komplikasi medis,’’ kata Faiza. (han/c7/bil/oni)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara #kesehatan