Pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan II 2020 diprediksi lebih lambat. Sebab, dampak penyebaran virus corona lebih terasa dibandingkan triwulan I yang baru dirasakan pada Maret.
SAMARINDA- Ekonomi Kaltim pada triwulan pertama tahun ini tercatat tumbuh 1,27 persen. Pertumbuhan itu melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan ini diprediksi berlanjut ke triwulan kedua. Secara tahunan, ekonomi Bumi Etam diprediksi hanya berada di rentang 1,25-0,85 persen.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan pertama lalu kembali tumbuh di bawah ekonomi nasional dan Kalimantan. Ekonomi nasional tumbuh 2,97 persen dan Kalimantan 2,49 persen. “Sedangkan ekonomi kita hanya tumbuh 1,27 persen,” ungkapnya.
Menurutnya, perlambatan ekonomi Bumi Etam pada triwulan satu diakibatkan kontraksinya kinerja pertambangan. Namun, kontraksi kinerja pertambangan masih mampu tertahan oleh positifnya kinerja industri pengolahan yang tumbuh tinggi. Secara menyeluruh, perekonomian Kaltim pada 2020 diperkirakan masih berdaya tahan dengan tumbuh positif, meskipun tidak setinggi tahun lalu.
“Sebab, tahun ini kinerja ekspor dan konsumsi serta investasi masih cukup kuat. Sebelum Covid-19, ekonomi Kaltim diprediksi masih tumbuh 3,4 persen, namun akibat pandemi pertumbuhan diprediksikan hanya mencapai 1,25-0,85 persen,” katanya.
Namun jika kondisi semakin memburuk, diprediksi ekonomi Kaltim bisa terkontraksi pada skenario berat dan sangat berat. Pada skenario berat ekonomi Kaltim diprediksi akan tumbuh negatif di rentang minus 0,55 sampai 0,95 persen. Sedangkan pada skenario sangat berat ekonomi Kaltim bisa tumbuh negatif lebih dalam di rentang minus 1,27 sampai 1,67 persen. “Prediksi itu tak lepas dari ekonomi global yang akan menurun pada triwulan II dan triwulan III,” tuturnya.
Pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2020 diprakirakan kembali melambat sejalan dengan prospek kontraksi ekonomi global dan dampak Covid-19 di domestik. Sehingga kalau Covid-19 bisa segera diatasi, maka perekonomian nasional diperkirakan masih positif di 2020 dan akan meningkat di 2021. “Jika situasi belum membaik, prediksi perlambatan yang akan terealisasi untuk ekonomi kita,” pungkasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan I disebabkan lapangan usaha pengadaan listrik dan gas yang tumbuh sebesar 9,92 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicatatkan komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 5,13 persen.
Kepala BPS Kaltim Anggoro Dwitjahyono mengatakan, secara tahunan ekonomi triwulan pertama dipicu oleh pertumbuhan pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Selain lapangan usaha pengadaan listrik dan gas yang tumbuh sebesar 9,92 persen, lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial juga tumbuh 7,14 persen. Sementara lapangan usaha jasa lainnya tumbuh sebesar 6,02 persen.
Sedangkan lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang memiliki kontribusi terbesar terhadap perekonomian Kaltim mengalami kontraksi 0,48 persen. “Secara struktur PDRB, pada triwulan pertama tahun ini tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Masih relatif sama dengan struktur triwulan sebelumnya,” jelasnya.
Pada triwulan satu masih didominasi lima lapangan usaha utama, yaitu lapangan usaha pertambangan dan penggalian dengan peranan sebesar 44,18 persen. Industri pengolahan dengan peranan sebesar 18,28 persen. Konstruksi dengan peranan sebesar 9,10 persen. Pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan peranan sebesar 8,40 persen dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dengan peranan sebesar 6,13 persen.
Jika dilihat dari sumbernya, tertinggi berasal dari industri pengolahan dengan andil 0,64 persen. Sedangkan lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang termasuk lapangan usaha utama di Kaltim memberi andil negatif terhadap pertumbuhan perekonomian Bumi Etam sebesar 0,23 persen. Andil negatif tersebut memperlambat kecepatan laju pertumbuhan ekonomi secara tahunan.
“Namun secara menyeluruh, ekonomi Kaltim pada triwulan pertama belum terdampak cukup dalam, sehingga masih memiliki pertumbuhan ekonomi yang positif,” tegasnya.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menengarai melesetnya capaian pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2020 dari prediksi bank sentral disebabkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga work from home (WFH). Capaian pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2020 hanya 2,97 persen lebih rendah dari prediksi bank sentral, yakni 4,4 persen.
"Faktor yang mendasari adalah dari pantauan BPS dampak dari penanganan Covid-19 seperti social distancing (jaga jarak sosial), WFH, PSBB (yang) mulai memengaruhi berbagai kegiatan ekonomi baik konsumsi investasi di samping ekspor impor," ujarnya.
Sebelumnya bank sentral memprediksi dampak pembatasan sosial itu baru akan memengaruhi ekonomi pada April, Mei, dan Juni. Dengan perhitungan awal tersebut, maka BI memprediksi konsumsi rumah tangga masih tumbuh 4,4 persen di kuartal I 2020. Namun, ternyata realisasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya 2,84 persen.
"Semula kami perkirakan pengaruh Covid-19 belum terasa di kuartal I termasuk Maret, ternyata dari catatan BPS, konsumsi masyarakat pertumbuhannya tidak setinggi yang kami perkirakan," jelasnya.
Hal serupa terjadi pada komponen produk domestik bruto (PDB) lainnya, yaitu investasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 1,70 persen, atau meleset dari target BI, yakni 2,4 persen. Namun, komponen ekspor tumbuh lebih tinggi dari proyeksi BI. BPS mencatat ekspor tumbuh 0,24 persen di kuartal I 2020, sedangkan proyeksi BI minus 1,6 persen.
Selain itu, komponen belanja pemerintah juga tumbuh di atas prediksi BI. BPS mencatat belanja pemerintah tumbuh 3,74 persen di kuartal I 2020, sedangkan prediksi BI sebesar 2,3 persen.
"Ternyata memang stimulus fiskal pemerintah telah berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi, dalam bentuk penyaluran bantuan sosial. Jadi ini memang terutama penyaluran bantuan sosial berbagai stimulus fiskal pemerintah menopang pertumbuhan ekonomi sehingga tidak turun lagi lebih lanjut," katanya.
Meski meleset dari target, Perry menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2020 masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara. Ia mencontohkan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari 6 persen di kuartal IV 2019 menjadi minus 6,8 persen di kuartal I 2020. Serupa, Uni Eropa dari tumbuh 1 persen menjadi minus 3,3 persen. Kemudian, Singapura dari tumbuh 1 persen menjadi minus 2,2 persen.
Pertumbuhan ekonomi sejumlah negara juga terpantau melambat meski masih positif. Misalnya, AS hanya tumbuh 0,3 persen di kuartal I 2020 dari sebelumnya 0,3 persen di kuartal IV 2019. Lebih lanjut, Korea Selatan dari 2,3 persen menjadi hanya 1,3 persen. "Kalau dibandingkan negara lain, angka 2,97 persen, alhamdulillah jauh lebih baik dari negara yang negatif atau positif yang lebih rendah," ujarnya. (ctr/ndu2/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria