Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mau Belajar di Rumah, Tapi Jaringan Internet Belum Merata

izak-Indra Zakaria • Jumat, 19 Juni 2020 - 20:17 WIB
ilustrasi
ilustrasi

Tahun ajaran baru dimulai Juli mendatang. Sehingga, kegiatan belajar-mengajar (KBM) sudah dapat dilakukan di sekolah. Namun, khusus daerah-daerah yang berstatus zona hijau. Kutim, jauh dari yang diharapkan. Kini, belajar via dalam jaringan (daring) jadi prioritas. Bagaimana dengan nasib di pedalaman Kutim?

 

SANGATTA–Dinas Pendidikan (Disdik) Kutim lebih mementingkan keselamatan para pelajar ketimbang menggelar KBM secara tatap muka di sekolah. Ditargetkan awal tahun KBM di sekolah dapat terlaksana.

Menanggapi hal itu, anggota Komisi D DPRD Kutim Asmawardi menilai, Disdik lebih mengetahui kebijakan yang tepat bagi para pelajar. Dia menyetujui belajar dari rumah bagi para siswa. "Apalagi untuk menyelamatkan anak-anak. Kutim zona ungu, kan lebih parah dari zona merah," katanya.

Namun, Disdik diminta lebih memerhatikan kawasan pedalaman yang masih susah jaringan internet. Perlu dipersiapkan segala sesuatunya. Di antaranya, kawasan Sekerat, Sandaran, dan pedalaman lainnya. "Kalau sistem belajar menggunakan telepon genggam, kan tidak semua warga punya smartphone. Itu harus diperhatikan," imbuhnya.

Menurut dia, perpustakaan bisa jadi solusi bagi daerah yang kesusahan jaringan internet.

Sehingga, memudahkan para siswa untuk belajar dan mencari referensi. "Membaca baik untuk menambah wawasan. Apalagi di Desa Sekerat, ada usulan agar disediakan perpustakaan," ungkapnya.

Dia berharap, Disdik benar-benar memerhatikan kondisi tersebut. Jika kawasan tertentu terpaksa harus belajar tatap muka, Disdik harus memberikan batasan jumlah. "Jelas Disdik yang lebih tahu metode pembelajaran yang tepat. Kami mendukung demi kebaikan anak-anak," tegasnya.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan (Kemendikbud) mengeluarkan instruksi kegiatan belajar di sekolah sudah dapat dilakukan. Kadisdik Kutim Roma Malau tidak menampik hal itu. Namun, pihaknya belum menerima surat resmi dari pusat.

Senada dengan Asmawardi, Roma memilih mengutamakan keselamatan pelajar. Sehingga, siswa tetap belajar dari rumah hingga akhir 2020. Tentunya dengan alasan pencegahan penularan Covid-19. "Kemungkinan tahun depan baru bisa dilakukan secara normal," jelas Roma.

Lagi pula, Kemendikbud telah menyerahkan kepada Disdik di seluruh daerah, terkait metode pembelajaran yang digunakan. Menyesuaikan kondisi dan geografis di daerah masing-masing. "Jika tak terjangkau teknologi informasi, guru tetap diimbau untuk melakukan belajar tatap muka. Tapi, maksimal (belajar mengajar) dengan lima siswa,” sebutnya.

Bisa juga dilakukan secara daring ataupun luar jaringan. Pihaknya ingin anak-anak selamat. Apalagi daya tahan tubuh anak berbeda dengan orang dewasa. "Itu sangat memengaruhi," ungkapnya.

Jika sebelumnya, pihaknya telah menerapkan sistem belajar di rumah dengan bimbingan guru yang dibantu orangtua, dan membentuk komite orangtua siswa untuk memudahkan koordinasi.

Sebelumnya, Disdik sedang menggodok metode pembelajaran yang bisa diterapkan nantinya. Sehingga, inovasi disiapkan dengan menerapkan sistem aplikasi salah satunya. Pihaknya ingin Kurikulum 13 berjalan efektif. Kurikulum itu mengutamakan karakter kemudian mutu. Sehingga, banyak hal yang sedang dibahas dengan jajaran. (dq/dra/k8)

 

Editor : izak-Indra Zakaria