Hajah Aji Putri Nural mengembuskan napas terakhir pada usia 110 tahun, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Derai air mata mengantar penasihat terbaik di Gunung Tabur itu ke peristirahatan terakhir.
Ratusan pelayat dari berbagai kalangan hadir pada pemakaman Hajah Aji Putri Nural, Rabu (11/11). Air mata tampak membasahi pipi para pelayat yang masih tidak menyangka keturunan terakhir Sultan Achmad Maulana Muhammad Chalifatullah Jalaluddin dan Ratu Rabbah itu berpulang.
Berbagai persiapan dilakukan sejak pagi. Warga dan kerabat Kesultanan Gunung Tabur, terlihat membuat ringgungan. Semacam tempat yang digunakan untuk membawa almarhumah. Dibutuhkan dua balok sepanjang 5 meter, serta 7 lembar papan, dan 4 balok kecil yang digunakan sebagai tiang. Selain itu, seluruh lapisan kayu yang digunakan dilapisi kain berwarna kuning.
Dijelaskan Pangeran Hadi Ningrat selaku ketua Dewan Adat Kesultanan Gunung Tabur, proses ini sudah ada sejak zaman kerajaan terdahulu. Turun-temurun. Dalam proses pengiringan ke pemakaman, jenazah akan dinaikkan ke atas ringgungan, kemudian akan ada empat orang yang mendampingi menggunakan baju berwarna hitam. Warna hitam mewakili rasa duka cita.
“Kalau kuning memang warna khas Berau. Dan (yang mengenakan) merupakan kerabat terdekat dari almarhumah. Kalau baju hitam, itu tandanya duka cita dan masih kerabat namun tidak dekat,” jelasnya.
Proses pemandian jenazah juga tidak menggunakan air PDAM, melainkan langsung diambil dari Sungai Segah. Kata Pangeran Hadi Ningrat, untuk menyucikan almarhumah. Pengambilan air menggunakan kendi dari Kesultanan Gunung Tabur yang ditutup kain kuning.
Kendi berisi air Sungai Segah itu disambut warga yang berbaris memanjang. Kendi yang digunakan hanya satu. Dia menuturkan, hal ini untuk mempererat silaturahmi, meskipun telah ditinggalkan seseorang. “Setelah usai semua, kemudian disalatkan,” tuturnya.
Dia mengaku kehilangan sosok orangtua yang selama ini banyak memberi saran dan masukan untuk majunya Gunung Tabur. Tidak terasa, air matanya mengalir menceritakan kisah hidup mendiang.
Dia menceritakan, selama beliau hidup, merupakan sosok yang ramah. Meskipun usianya tidak lagi muda, namun selalu menyempatkan diri bertemu tamu yang ingin mengetahui sejarah Kesultanan Gunung Tabur.
“Dia ramah dengan siapa saja. Bahkan, jika ada tamu yang mau bertemu, beliau selalu bersemangat. Hal inilah yang menjadi teladan kami, keramahan beliau,” ungkapnya.
Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sosok almarhumah. Kerja keras, tangkas, dan bersahabat. “Kami benar-benar kehilangan sosok orangtua yang bersahaja,” katanya.
Sementara itu, Sultan Adji Bahrul Hadie tidak kuasa menahan kesedihannya. Dia berkali-kali menarik tisu untuk mengusap air matanya. Dia mengaku tidak percaya bahwa sosok Hajah Aji Putri Nural pergi untuk selamanya.
“Saya meminta maaf kepada seluruh masyarakat, apabila beliau ada salah ucap, atau ada tindakan yang kurang berkesan di mata masyarakat,” katanya.
Dia mengaku kerap dinasihati almarhumah dalam mengambil kebijakan terkait Kesultanan Gunung Tabur. Dijelaskan Adji Bahrul Hadie, dia sempat dihubungi Lis, orang yang menjaga almarhumah, bahwa kondisinya drop. Dia kemudian pergi ke rumah sakit, untuk mengurus segala keperluan. Senin (10/11) pukul 11.00 Wita, almarhumah dibawa ke RSUD dr Abdul Rivai. Nasib berkata lain, Hajah Aji Putri Nural mengembuskan napas terakhir pukul 16.45 Wita. “Tidak ada sakitnya, memang karena faktor usia,” bebernya.
Camat Gunung Tabur Anang Saprani turut berduka cita dengan meninggalnya Hajah Aji Putri Nural. Dia mengaku selama ini kerap berkoordinasi dengan beliau, meskipun baru menjabat sebagai camat di Gunung Tabur.
“Saya baru menjabat di sini, namun keramahan sosok beliau, banyak menginspirasi saya,” katanya.
Dia pun tampak hadir dan membantu warga membuat ringgungan. Gunung Tabur kehilangan sosok panutan yang selama ini dianggap sebagai penasihat terbaik. “Saya turut berduka cita. Kami kehilangan sosok orangtua dan penasihat terbaik,” bebernya.
Seusai disalatkan, jenazah almarhumah dibawa menggunakan ringgungan. Tampak empat wanita menggunakan pakaian hitam mendampingi dan memayungi almarhumah. Tiba di pemakaman Kesultanan Gunung Tabur, para penggali makam telah siap.
Jenazah almarhum dimasukkan ke liang lahat. Lalu diadzani. Usai dibacakan doa, perlahan para penggali kubur menutup lubang tersebut dengan tanah. Tangisan sanak keluarga masih terdengar sembari membaca doa.
Penerus terakhir Sultan Achmad Maulana Muhammad Chalifatullah Jalaluddin dan Ratu Rabbah kini sudah tidak ada lagi. Anak kedua dari tiga bersaudara itu mengembuskan napas terakhir pada usia 110 tahun. Bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November. Taburan bunga di atas makam almarhumah menandakan proses pemakaman usai dilakukan. Dan dilanjutkan dengan doa bersama. (hmd/dwi/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria