Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Vaksinasi Lansia Lelet, Pusat Minta Pemda Membuka Akses Vaksinasi

izak-Indra Zakaria • Jumat, 2 April 2021 - 17:30 WIB
ilustrasi
ilustrasi

JAKARTA- Lansia menjadi prioritas dalam vaksinasi Covid-19. Sayangnya hingga sejauh ini baru 1,5 juta yang divaksin. Di sisi lain, pemerintah berupaya menjaga stok vaksin Covid dalam negeri.

Pemerintah menargetkan vaksinasi dilakukan pad 21,6 juta lansia. Targetnya Juli bisa selesai. Sayang, hingga Senin (31/3) prosesnya lambat. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu menuturkan target vaksinasi lansia jauh dibawah petugas piblik yang perkemarin mencapai 4 juta lebih.

"Ini tergantung komitmen pemda untuk membantu akses lansia datang ke tempat vaksinasi," kata Maxi. Selama ini vaksinasi pada lansia hanya ramai di kota besar dan diselenggarakan sentra vaksinasi massal. Sementara di pedesaan patut mendapat perhatian.

Menurutnya, memang ada beberapa hal yang membuat vaksinasi lansia ini terhambat. Sebelumnya, Kemenkes meminta vaksinasi pada lansia dilakukan di fasilitas kesehatan. "Mungkin ini menghambat daerah sehingga kami mengubah regulasi," ujarnya. Karena vaksin Covid-19 aman untuk lansia, maka boleh disuntikan di luar faskes.

Lalu ketakutan juga menjadi problem. Menurut Maxi, justru ketakutan ini dialami anak dari lansia. Padahal lansia berani.

Permasalahan lain terkait komorbid. Kemenkes mendapat data dari BPJS Kesehatan terkait jumlah lansia yang rutin ke dokter untuk memeriksakan komorbidnya. Ini menjadi nilai tambah karena pemilik komorbid harus terkontrol sebelum dapat vaksin. "Sementara yang tidak masuk BPJS Kesehatan, tergantung skrining," ucapnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada kesempatan lain meminta tolong agar seluruh pihak aktif dalam mendorong lansia dapatkan vaksin. Sebab, jadwal vaksinasi yang disusun pemerintah berdasarkan risiko. "Tenaga kesehatan didahulukan karena berisiko tertular. Lansia karena kalau kena (Covid-19) tingkat kematiannya tinggi," ucapnya.

Budi juga menjelaskan terkait ketersediaan vaksin. Sejauh ini sudah 21 juta dosis vaksin yang didistribusikan ke daerah. "Rata-rata daerah menyimpan 7 juta untuk stok penyuntikan dosis kedua," kata Budi.

April ini hanya ada 7,6 juta dosis. Ini harusnya ditambah vaksin dari AstraZeneca. Sayang India mengembargo pengiriman vaksin AstraZeneca. Pada pemberian Covax GAVI, AstraZeneca dibuat di India. "Kami memikirkan vagaimana agar setiap hari ada penyuntikan vaksin," ucapnya.

Sementara itu, Indonesia sedang menjalin kerja sama dengan Jepang terkait pengembangan dan embuatan vaksin. Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi usai bertemu dengan Menlu Jepang Motegi Toshimitsu di Tokyo pada Selasa (30/3). Meski tak merinci soal kerja sama tersebut, Retno mengungkapkan, bahwa project ini dilaksanakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Osaka University.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas juga mengenai dukungan Jepang bagi pembangunan cold chain vaksin senilai USD 41 juta untuk beberapa negara di Asia Pasifik. Tak terkecuali, Indonesia.

”Secara khusus, saya mendorong kerja sama Indonesia dan Jepang untuk penguatan pengelolaan vaksinasi dan laboratorium, baik untuk Covid-19 maupun penyakit menular lainnya,” ungkapnya.

Selain bertemu dengan Menlu Jepang, Retno juga bertemu dengan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Jepang Kono Taro. Dalam pertemuan dengan Menteri Kono Taro, Retno melakukan compare note situasi penanganan pandemi di kedua negara dan dunia. Termasuk program vaksinasi di kedua negara. Menteri Kono Taro sendiri merupakan menteri yang diberi tugas untuk program vaksinasi Covid-19 di Jepang.

”Kita sepakat vaksinasi adalah salah satu ikhtiar masyarakat dunia untuk segera keluar dari pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Retno mengungkapkan, bahwa tantangan program vaksinasi masih sangat besar. Oleh karena itu diperlukan kerja sama, terutama dalam merealisasikan kesetaraan akses terhadap vaksin bagi semua negara. ”Indonesia dan Jepang sekali lagi prihatin dengan vaksin nasionalisme dan restriksi suplai vaksin,” tegasnya. Pasalnya, hal ini berpotensi menghambat pemulihan dari pandemi secara bersama. ”Kami juga sepakat untuk terus mendukung vaksin multilateralisme dan mendukung kerja COVAX Facility,” sambugnya. (lyn/mia)

Editor : izak-Indra Zakaria