Tambahan dosis vaksin untuk booster kekebalan tubuh. Tren ini kian meningkat di beberapa negara. Utamanya negara-negara maju yang memiliki uang untuk membeli dosis lebih. Israel menjadi negara pertama di dunia yang menawarkan dosis ketiga pada penduduknya. Ia menjadi salah satu negara dengan persentase vaksinasi tertinggi.
Senin (12/7) mereka menawarkan dosis ketiga vaksin Pfizer-BioNTech untuk penduduk yang sistem imunitas tubuhnya berkurang. Langkah ini diambil karena hasil penelitian menunjukkan perlindungan dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech terhadap semua varian SARS-CoV-2 menurun hingga 64 persen. Karena itulah dosis ketiga dibutuhkan untuk booster. Thailand dan beberapa negara lainnya juga melakukannya.
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Dia menegaskan bahwa masih banyak negara yang membutuhkan vaksin. Penduduk di negara-negara miskin bahkan banyak yang belum divaksin sama sekali. Karena itu rasanya tidak adil jika mereka yang sudah divaksin lengkap dua dosis masih mendapatkan tambahan lagi satu dosis untuk booster imunitas.
’’Data menunjukkan bahwa vaksinasi menawarkan kekebalan jangka panjang terhadap keparahan dan kematian akibat Covid-19. Prioritas saat ini adalah vaksinasi untuk mereka yang belum menerima perlindungan dan satu dosis pun,’’ kritiknya seperti dikutip Al Jazeera.
Pfizer-BioNTech mendukung pemberian dosis ketiga untuk booster dan siap memasok dosis pada negara yang menginginkan. Di lain pihak Moderna kini tengah mengembangkan vaksin untuk mengatasi varian terbaru. Ghebreyesus menegaskan bahwa vaksin milik Pfizer-BioNTech dan Moderna lebih dibutuhkan Covax agar bisa disalurkan ke negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah. Cakupan vaksin mereka masih rendah.
Lembaga yang berbasis di Jenewa itu menegaskan bahwa orang yang sudah divaksin penuh tetap bisa tertular varian Delta. Tapi mereka terlindung dari keparahan dan biasanya tidak menunjukkan gejala apapun. Kalaupun bergejala, biasanya sangat ringan. Karena itu, dua dosis saja seharusnya sudah cukup.
WHO juga tidak menyarankan untuk mencampur pemberian vaksin. Yaitu vaksin dosis pertama beda dengan dosis kedua. Mereka menegaskan bahwa penelitian terkait hal ini masih sedikit dan rendah. Data-data belum mendukung sepenuhnya bahwa hal tersebut benar-benar efektif. ’’Ini adalah tren yang sedikit berbahaya,’’ terang Kepala Peneliti WHO Soumya Swaminathan.
Amerika Serikat patuh dengan saran WHO. Departemen Kesehatan AS menegaskan bahwa mereka yang sudah mendapatkan dua dosis vaksin tidak perlu mendapat booster.
Di lain pihak, Thailand memilih untuk abai dengan saran WHO itu. Mereka menegaskan bahwa pemberian Sinovac pada dosis pertama dan AstraZeneca di dosis kedua bisa berdampak dengan meningkatnya imun dalam 6 pekan. Jika dosis yang diberikan sama, butuh waktu 12 pekan. ’’Kami tidak bisa menunggu hingga 12 pekan ketika penularan menyebar dengan begitu cepat,’’ terang Kepala Ahli Virus Thailand Yong Poovorawan seperti dikutip Agence France-Presse.
Sementara itu, 64 pasien Covid-19 di Nasiriyah, Iraq tewas. Bukan karena penyakitnya tapi imbas terbakarnya unit isolasi sementara di Al-Hussein Hospital. Sementara 100 orang lain dilaporkan luka-luka. Kebakaran Senin (12/7) dikarenakan tabung oksigen yang meledak. ’’Sebanyak 39 jenazah sudah diidentifikasi dan diserahkan ke keluarganya,’’ bunyi pernyataan Departemen Forensik di Nasiriyah.
Jenazah lainnya sulit dikenali karena terbakar cukup parah. Ada ketakutan korban jiwa bertambah karena sebagian gedung masih tertutup puing dan belum disisir. Asap masih mengepul hingga kemarin. Saksi mata menyatakan bahwa bangsal sementara pasien Covid-19 itu tidak dibangun dengan benar. Sebab ia ambruk begitu cepat ketika api baru menyala.
Insiden ini membuat penduduk Iraq marah dan melakukan aksi. Sebab itu adalah kejadian kedua dalam tiga bulan terakhir. April lalu kebakaran menghanguskan rumah sakit Covid-19 di Baghdad, menewaskan 82 orang serta melukai 110 lainnya. Penyebabnya sama, ledakan tabung oksigen. (sha/bay)
Editor : izak-Indra Zakaria