Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Terdesak, Taiwan Izinkan Vaksin Lokal, Padahal Belum Lolos Uji Klinis Tahap III

izak-Indra Zakaria • Rabu, 25 Agustus 2021 - 18:36 WIB
Tsai Ing-wen disuntik vaksin buatan lokal.
Tsai Ing-wen disuntik vaksin buatan lokal.

TAIPEI– Presiden Taiwan Tsai Ing-wen divaksin Covid-19 (23/8). Tapi bukan dengan vaksin yang beredar di pasaran atau yang sudah mendapatkan rekomendasi dari WHO. Melainkan menggunakaan Medigen. Itu adalah vaksin Covid-19 pertama yang dikembangkan oleh perusahaan Medigen Vaccine Biologics Corp, Taiwan. Bulan lalu, kementerian kesehatan Taiwan memberikan lampu hijau bahwa vaksin lokal itu bisa dipakai untuk keperluan darurat.

Taiwan selama ini menggunakan vaksin Moderna dan AstraZeneca. Namun Tsai menunda penggunaan vaksin tersebut dan memilih memakai Medigen. Dia divaksin di salah satu rumah sakit di Taipei. Kendati vaksin itu masih belum lulus uji klinis tahap III, Tsai menyetujui penggunaannya secara massal. Seluruh prosesnya disiarkan secara langsung di halaman Facebook milik politikus 64 tahun itu.

Banyak pihak mengkritik penggunaan Medigen. Pemerintah dirasa terlalu terburu-buru dan diminta menunggu hingga semua proses uji klinis selesai. Saat ini belum ada data seberapa efektif vaksin tersebut bisa melindungi penduduk dari berbagai varian virus SARS-CoV-2. Pemerintah Taiwan mengklaim bahwa daya lindungnya tidak lebih buruk dari AstraZeneca.

Meski menuai kritik, pemerintah Taiwan memiliki alasan untuk memakai Medigen. Itu karena terjadi keterlambatan pengiriman vaksin dari perusahaan-perusahaan global. Jika terus menunggu, maka program vaksinasi mereka bakal jalan di tempat dan perekonomian akan terpuruk. Yang terdampak bukan hanya Taiwan, tapi juga beberapa negara lainnya. Saat ini baru 40 persen dari 23,5 juta penduduk Taiwan yang sudah divaksin setidaknya satu dosis. Sementara yang divaksin lengkap kurang dari 5 persen.

Pemerintah juga beralasan bahwa di awal pandemi mereka sempat kekurangan masker dan alat perlindungan dasar lainnya. Saat itu pemerintah Taiwan sadar bahwa mereka tidak boleh bergantung sepenuhnya pada pihak lain untuk hal-hal penting.

Salah satu yang getol mengkritik adalah partai oposisi Kuomintang (KMT). Mereka berkampanye menentang penggunaan Medigen. Salah satu mantan Wakil Ketua KMT Hau Lung-bin mengajukan gugatan untuk membatalkan otorisasi Medigen. Gugatan itu ditolak pengadilan pekan lalu. Wakil Ketua Departemen Internasional KMT Ho Chih-yung menyebut penduduk Taiwan bagai tikus putih yang biasa dipakai di percobaan laboratorium.

Medigen Vaccine Biologics Corp menampik tudingan bahwa vaksin buatan mereka tidak aman dan dipasarkan tergesa-gesa. Versi mereka, vaksin tersebut sudah diuji daya perlindungannya dan efek sampingnya sedikit. Ia bahkan tidak menimbulkan deman. ’’Kami telah melakukan begitu banyak eksperimen, semua orang telah melihat betapa amannya vaksin kami,’’ tegas CEO Medigen Vaccine Biologics Corp Charles Chen seperti dikutip CNBC.

Pihak Medigen bekerjasama dengan National Institutes of Health, Amerika Serikat, untuk mengembangkan vaksin tersebut. Pemerintah Taiwan sudah memesan 5 juta dosis awal. Penduduk tidak dipaksa untuk menggunakannya. Namun, sudah lebih dari 700 ribu penduduk mendaftar untuk mendapatkan vaksin Medigen. Jarak penyuntikan dosis pertama dan kedua yaitu 28 hari.

Korea Utara (Korut) tak mau kalah. Mereka saat ini tengah mengembangkan alat uji Polymerase Chain Reaction (PCR) lokal untuk mengetes penularan Covid-19. Itu sebagai langkah untuk menghadapi varian virus SARS-CoV-2 yang kian menular. Negara yang paling tertutup di dunia ini belum melaporkan satupun kasus penularan Covid-19. Namun beberapa pihak meyakini bahwa virus sudah menjangkiti penduduk Korut.

’’Sebagai bagian dari upaya anti-virus, para ilmuwan dan teknisi di Akademi Ilmu Pengetahuan Negara telah mengembangkan sistem PCR yang memenuhi standar global untuk pertama kalinya,’’ tulis Rodong Sinmun, surat kabar yang dikelola Partai Buruh.

Di lain pihak Utusan khusus AS untuk Korea Utara Sung Kim tiba di Seoul, Korsel. Dia Dia bertemu dengan Menteri Luar Negeri Chung Eui-yong. Mereka membahas bagaimana caranya mengajak Korut kembali ke meja perundingan. Tentunya untuk membahas penghentian program nuklir dan misil balistik milik Pyongyang.

Mereka mencari jalan tercepat agar proses perdamaian di Semenanjung Korea bisa terealisasi. Sung Kim juga dijadwalkan bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Igor Morgulov di Seoul. Rusia selama ini merupakan sekutu Korut. (sha/bay)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara