Ada 56 mahasiswa Program Studi (Prodi) Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Mulawarman (Unmul) mengikuti pelepasan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka(MBKM), Rabu (2/2). Mereka akan belajar di luar kampus selama satu semester.
BENTUKNYA yakni pengabdian ke desa, magang di perusahaan, serta membangun kewirausahaan. Setelah program tersebut selesai, mahasiswa ditargetkan melanjutkan penyelesaian tugas akhir, sehingga bisa lulus lebih cepat.
Koordinator Prodi Administrasi Bisnis Muhammad Zaini menerangkan, MBKM telah berjalan sejak 2020. Kali ini diikuti mahasiswa semester VI atau angkatan 2019. Bahwa tujuan kegiatan merupakan implementasi keilmuan yang diperoleh, agar dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. “Sebelumnya mereka membuat proposal program kerja yang telah disetujui dosen pembimbing. Nantinya dikonversikan ke beberapa mata kuliah dengan kredit sebanyak 20 satuan kredit semester (SKS),” ucapnya.
Lebih detail Zaini menjelaskan, sebanyak 10 mahasiswa yang mengikuti program bina desa di Desa Mulawarman, Kecamatan Tenggarong Seberang, dan Desa Kersik, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Sedangkan 40 orang akan magang di 10 perusahaan dan UMKM tersebar di kabupaten atau kota se-Kaltim, sisanya akan mengembangkan rintisan usaha mandiri (start up) yang telah dinilai layak oleh program studi.
“Misalnya bagi program bina desa, merupakan kombinasi dari kuliah kerja nyata (KKN), namun mereka juga membantu mengembangkan UMKM sekitar dan badan usaha milik desa (bumdes),” jelasnya.
Sebelumnya, mahasiswa telah mengikuti pembekalan dengan materi berupa motivasi, etika dan etos kerja, bekerja dalam tim, pengembangan program kerja, serta pembuatan laporan. Sehingga output MBKM mahasiswa didorong membuat karya berupa buku atau jurnal yang memiliki hak atas kekayaan intelektual (HAKI). “Pada semester VII mereka didorong untuk mulai menggarap tugas akhir, sehingga diharapkan bisa lulus sebelum menyentuh semester VIII,” ucapnya.
Wakil Dekan I FISIP Unmul Phill I Ketut Gunawan menerangkan, MBKM merupakan amanat dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim yang bertujuan meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, serta menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian.
Pada program tersebut, mahasiswa diberi hak 60 SKS, dengan perincian 20 SKS belajar di fakultas lain dalam satu universitas, 20 SKS selanjutnya belajar di universitas lain, selanjutnya 20 SKS untuk magang atau bina desa/UMKM. “Prodi telah mendesain agar empat sampai lima SKS masuk dalam nilai KKN, sisanya dikonversi ke mata kuliah yang sesuai dengan mata kuliah,” ucapnya. Harapannya mahasiswa yang mengikuti program tersebut membawa perubahan yang baik dan maju, bagi perusahaan tempat magang atau desa.
“Waktunya membuktikan dan menyiapkan mahasiswa yang siap bekerja atau berkarya di masyarakat,” tutupnya. (dra/k8)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra
Editor : izak-Indra Zakaria