BONTANG–Wali Kota Bontang Basri Rase telah meresmikan masjid terapung di Kampung Selambai, Kelurahan Loktuan, Jumat (11/3). Seremonial digelar pagi hari, dilanjut dengan ibadah salat Jumat.
Masjid di samping area Pelabuhan Loktuan itu dilengkapi dengan dua menara. Anggaran yang dikucurkan mencapai Rp 71,1 miliar. Pembangunannya membutuhkan waktu tiga tahun.
Basri berharap, tempat ibadah ini akan menjadi salah satu ikon Bontang. Dia tidak menampik kehadiran bangunan megah yang bernama Masjid Darul Irsyad ini akan menjadi destinasi wisata bagi mereka yang berasal dari luar Bontang. Terpenting, rampungnya pembangunan masjid ini bisa dimaksimalkan sebagai sarana untuk memberikan syiar agama.
“Saya harap bukan hanya menjadi ajang swafoto. Sampai di mimbar juga selfie. Kalau kita berdoa di sini itu terasa sangat tenang dan hening apalagi masjid ini berada di atas laut,” kata Basri.
Politikus PKB itu menceritakan, pemberian nama Darul Irsyad itu dipilih secara spontanitas saat mengobrol santai dengan anggota DPRD Bontang dan tokoh masyarakat sekitar. Pertimbangan lainnya, nama Al-Muhajirin sudah dipakai beberapa masjid di Bontang. Berbeda dengan nama Darul Irsyad.
“Tidak ada dibahas secara khusus. Waktu sidak kemarin itu kita bahas biasa. Nah, tiba-tiba muncullah nama Darul Irsyad,” ucapnya.
Penamaan ini mendapat sorotan. Anggota DPRD Bontang yang juga berdomisili di Kampung Selambai Faisal mengutarakan kekecewaannya dengan digantinya nama masjid Al-Muhajirin menjadi Darul Irsyad.
Dia menuturkan, setelah melakukan dialog, nama Al-Muhajirin disepakati oleh para sesepuh, tokoh masyarakat, warga sekitar juga wali kota sebelumnya sebagai nama masjid terapung.
“Sebelumnya saya berusaha untuk meyakinkan sesepuh di sini untuk pembongkaran masjid yang lama karena akan dibangun masjid terapung. Nah, setelah orangtua kita di sini menyetujui maka Masjid Al-Muhajirin yang lama diizinkan untuk dibongkar,” tutur dia.
Meski kecewa lantaran nama masjid lama tidak digunakan, Faisal berharap dengan adanya masjid terapung dapat bermanfaat bagi masyarakat. Baik untuk beribadah maupun melaksanakan kegiatan keagamaan lainnya. “Karena Al-Muhajirin itu salah satu masjid tertua. Ya mudah-mudahan dengan adanya masjid terapung ini bisa meningkatkan ibadah masyarakat sekitar,” harapnya.
Upaya komunikasi sudah dilakukan sebenarnya oleh politikus NasDem itu. Baik dengan wali kota maupun sekda. Bahkan, permintaannya itu diungkap melalui akun media sosial miliknya. Tetapi langkah itu bertepuk sebelah tangan sebab kesepakatan masjid memakai nama Darul Irsyad. (*/ak/ind/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria