Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Debu, Pisang dan Hewan Buruan yang Makin Jarang

izak-Indra Zakaria • Minggu, 5 Juni 2022 - 16:54 WIB
-
-

Muhammad Reat (72 Tahun) bergegas menaiki motornya, dua kali ia jatuh dijalan kampung karena terburu-buru menunjukkan kepada kami kebun pisangnya. Pak Reat, adalah penduduk Desa tebangan lembak Kilometer 10. Ia Tinggal disana sejak 2003 dan merintis kebun pisang sejak 2019 diatas lahan 3 hektar, dua hektar ditanami sekitar 400 pohon pisang jenis pisang sanggar, sisanya ia rintis untuk ladang, ditanami pohon durian dan sayuran.

 

Foto : Pak Re’at, Warga Desa Tebangan Lembak, Petani Pisang

Sumber : Jatam Kaltim, 2021

 

Ia terjatuh saat mengendarai motornya karena tergesa-gesa memperlihatkan masalah yang ia dan keluarganya alami, ia bercerita pohon-pohon pisangnya dua bulan belakangan dihinggapi penyakit misterius, “daun pisang yang masih muda, sudah mati pak, kering dan menguning daunnya begitu juga isi buah pisangnya menghitam, seperti ada kerikil atau batu kecil didalam pisang yang berwarna hitam” urai Pak reat sambal menunjukkan isi buah pisangnya yang ia kupas dan perlihatkan.

 

Tidak cukup dengan itu pak reat menebang salah satu pohon pisangnya dan memperlihatkan “busuk batang” pada batang pisang yang terlihat seperti mengalami serangan Jamur. Ia menduga debu batubara yang terbang menghinggapi kampung dan seluruh tanaman pisangnya adalah penyebabnya, meskipun begitu ia mengaku belum punya bukti laboratorium tentang itu, “tapi perkiraan waktunya tepat pak, bersamaan dengan semakin dekatnya kegiatan operasi pertambangan batubara PT KPC dengan kampung dan awan debu beberapa bulan belakangan diatas kampung kami” ujarnya.  

 

 

 

 

Foto : Isi buah Pisang yang Menghitam dan Membatu serta kondisi pohon daun mudanya mati diduga karena debu batubara.  

Sumber : Jatam Kaltim, 2021

 

Dahulu sebelum kebun pisangnya diserang penyakit, kebun pak reat seluas dua hektar dan berisi sekitar 400 pohon tersebut menghasilkan rata-rata 160 sisir setiap minggunya. Tiap minggu ia mengangkut pisang tersebut dengan motornya, dibawa ke kota untuk dijual, “empat ret atau empat kali bolak-balik ujar Pak reat,” jarak yang ditempuh sekitar 10 Km, sekali angkut” tambahnya lagi. Jika dihitung perbulan, maka ia panen 640 sisir pisang setiap bulannya. “Harga pisang satu sisir mencapai 6000 rupiah, “jadi saya mendapatkan 3,8 juta rupiah tiap bulan, hanya dari kebun pisang saja, belum lagi dari ladang dan kebun sayurnya” tutur Pak reat.

Namun belakangan ini produksi dan panennya jatuh drastis, dalam satu dan dua bulan belakangan ia hanya memanen paling banyak 20 sisir pisang, itu artinya terdapat penurunan pendapatan anjlok mencapai sekitar 99,7 persen dari biasanya.

Ladangnya juga tergenang air dalam seminggu belakangan ini, genangan air karena sungai kecil yang menguap dan rusaknya ekosistem di hulu sekitar sungai karena pertambangan ditambah lagi cuaca yang sering hujan membuat kalender tanam keluarga Pak reat mundur dan terganggu, akibatnya ia belum lagi menanam padi dan terancam gagal panen tahun ini.

Masalah debu atau pencemaran udara yang dikeluhkan oleh Pak reat juga terjadi pada buah mangga, Kweni, Jambu dan Rambutan yang berada disekitar kampung maupunyang ditanam oleh warga lainnya.

 

 

Foto : Daun Pohon Mangga yang terdampak debu batubara

Sumber : Jatam Kaltim, 2021

 

Salah satunya kesaksian Badulahi (55 tahun), ketua RT 01, Desa Tebangan Lembak ini mengeluhkan sejumlah pohon Mangga, Kweni dan Rambutannya yang hanya berbunga namun tak kunjung berbuah dalam dua tahun belakangan, “ debu dari tambang seperti kabut, turun ke atap rumah dan tanaman kami” ujarnya. “Kami sudah menyampaikan protes dua tahun lalu melalui aksi demonstrasi pada perusahan tambang KPC, termasuk soal lahan-lahan disini” ujarnya. Ia juga pernah bersitegang dengan petugas pengecekan udara, para petugas KPC tak pernah memberikan hasil pemeriksaannya meskipun berada dekat rumah warga.

Masalah lain yang diceritakan badulahi adalah menurunnya tangkapan dari hasil berburu warga. Badulahi menceritakan, bahwa semakin dekatnya kegiatan dan operasi pertambangan batubara menuju kampung dan hutan berpengaruh pada makin turunnya tangkapan hewan buruan, “biasanya ketika kami pergi berburu kedalam hutan, cuma membutuhkan waktu satu malam untuk mendapatkan hewan buruan seperti payau atau pelanduk, tapi sejak dua tahun belakangan berburu tiga malam belum tentu memperoleh hasil” ujar Badulahi. (**)

Editor : izak-Indra Zakaria