TOKYO - Pemerintah Jepang tak mengubah rencana. Pemilu majelis tinggi kemarin (10/7) tetap digelar sesuai dengan jadwal. Pesta demokrasi itu sempat ternoda oleh pembunuhan mantan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe Jumat (8/7). Saat itu Abe tengah berkampanye di kota Nara.
Meninggalnya Abe diprediksi membawa keuntungan bagi partainya, Demokrat Liberal (LDP) yang berkoalisi dengan Partai Komeito. Sejak awal, partai penguasa pemerintahan itu memang berharap ada peningkatan dukungan. Tapi tidak ada yang membayangkan bahwa dukungan itu menguat karena insiden pembunuhan. Para pengamat menilai bahwa suntikan dukungan berasal dari rasa simpati pada mendiang Abe.
’’Koalisi LDP-Komeito yang berkuasa sudah berada di jalur menuju kemenangan solid. Gelombang dukungan suara karena simpati bisa meningkatkan margin kemenangan,’’ ujar James Brady, konsultan Teneo seperti dikutip ABC News.
Salah satu penduduk yang memberikan suara untuk LDP adalah Sakae Fujishiro, Pensiunan 67 tahun tersebut mengakui merasa kehilangan pasca kematian Abe. Dia berharap LDP menang agar mereka bisa menjalankan pemerintahan yang stabil. Jika bisa mendapatkan 69 kursi, LDP akan menang dengan suara mayoritas.
Tempat pemungutan suara (TPS) dibuka sesuai jadwal, Yakni dibuka pukul 07.00 dan ditutup pada 20.00 waktu setempat. Ada 46.017 TPS tersebar di seluruh negeri. Total ada 545 kandidat yang memperebutkan 125 kursi di majelis tinggi. Hingga pukul 16.00, angka partisipasi penduduk mencapai 23,01 persen.
Sehari sebelumnya, pihak kepolisian mengakui bahwa ada celah pengamanan untuk Abe saat dia kampanye. ’’Tidak dapat disangkal bahwa ada masalah dalam keamanan,’’ tegas Kepala Polisi Nara Tomoaki Onizuka. Dia mengaku sangat menyesal dan bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Angka kejahatan di Jepang memang rendah. Hal itu diimbangi undang-undang kepemilikan senjata yang ketat. Kondisi itu membuat pengamanan kampanye nampak lebih longgar. Pelaku pembunuhan Abe, Tetsuya Yamagami, menggunakan senjata rakitan sendiri untuk melakukan aksinya. Dia mempelajarinya dari internet dengan memanfaatkan barang yang mudah dicari seperti pipa.
’’Pembuatan senjata dengan printer 3D dan pembuatan bom saat ini dapat dipelajari dari internet, dari lokasi mana saja di dunia. Itu bisa dilakukan dalam dua hingga tiga hari setelah mendapatkan bahan seperti pipa,’’ ujar Dr Mitsuru Fukuda, profesor bidang manajemen krisis dan terorisme i Universitas Nihon seperti dikutip Asiaone.
Gara-gara insiden tersebut, pengamanan kampanye pada Sabtu (9/7) lebih ketat. Di lokasi kampanye PM Fumio Kishida bahkan dipasangi pendeteksi logam untuk memeriksa tiap orang yang datang. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, pengamanan di TPS kemarin nampak normal.
Sementara itu situasi di Sri Lanka kian memanas. Pada Sabtu (9/7), massa menyerbu kediaman Presiden Gotabaya Rajapaksa dan PM Ranil Wickremesinghe. Massa menuntut adanya perubahan pemerintahan agar bisa keluar dari krisis. Kediaman Wickremesinghe dibakar massa. Pada saat kejadian, dia dan keluarganya sedang tidak berada di lokasi.
Rajapaksa berhasil dievakuasi sebelum massa menyerbu istana presiden. Dia dibawa ke lokasi rahasia di lepas pantai. Kemarin, Rajapaksa mengumumkan bahwa dia akan mengundurkan diri pada 13 Juli nanti. Wickremesinghe yang juga diungsikan, juga mengambil keputusan yang sama. Namun, momen dia mundur akan ditetapkan pasca pemerintahan baru terbentuk. Empat orang menteri dari kabinet Rajapaksa juga mundur.
’’Presiden Gotabaya Rajapaksa dan PM Wickremesinghe secara moral tidak berhak untuk tetap berkuasa dan situasi berbahaya akan terjadi jika mereka tetap berkuasa,’’ ujar Mantan Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena. (sha/bay)
Editor : izak-Indra Zakaria