SAMARINDA–Proyek fisik pembangunan sistem pengendali banjir Sungai Karang Mumus (SKM) dengan skema pembiayaan tahun jamak (multiyear contract/MYC) masih berkutat pada tahap administrasi. Targetnya pertengahan Februari mendatang, berkas proyek ini bisa tayang kembali dalam aplikasi LPSE untuk dilelang ulang.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Samarinda Desy Damayanti menceritakan, sekitar akhir November 2022 lalu, proyek dengan pagu anggaran Rp 205 miliar ini telah dilelang, dan mendapatkan pemenang. Namun dalam perjalanan, pemenang lelangnya terganjal beberapa berkas administrasi, sehingga pihaknya membatalkan, dan bersiap melelang ulang.
“Yah karena kurang (berkas administrasi), makanya kami lelang ulang. Semoga minggu depan (pertengahan Februari) bisa tayang, paling lama April bisa mulai dikerjakan,” ucapnya, Selasa (7/2).
Mengenai kesiapan lahan, Desy mengaku saat ini Tim Bidang Pertanahan tengah menjalani tahap administrasi meliputi pembentukan tim persiapan hingga berkoordinasi dengan BPN Kaltim, meningkat area yang dibebaskan lebih 5 hektare. Bahwa kondisi ini pun dinilai tidak menjadi masalah, mengingat pekerjaan fisik akan dikerjakan pada area lahan yang telah siap, bersama pada ketiga titik yang dibangun.
“Lahan mana yang siap bisa kerjakan dahulu. Termasuk kami masih menyelesaikan persoalan perwatasan terhadap aset pemkot di lokasi kolam retensi Bengkuring,” ungkapnya.
“Sedangkan untuk lahan pada bendungan pengendali (bendali) Pampang, serta area pembangunan turap SKM di Bengkuring, juga sambil berjalan,” sambungnya.
Dia menerangkan, secara fisik pada bendali pampang kontraktor hanya akan membangun turap penahan limpasan air dengan pintu pelimpah (spillway) layaknya Waduk Benanga saat ini. Namun berbeda dengan kolam retensi Bengkuring, yang diperlukan pintu air dengan dibantu sistem pompa.
“Sedangkan untuk turap, cenderung lebih mudah karena membeli jadi (pabrikasi) sehingga tinggal memasang di lokasi saja,” terangnya.
Dia berharap, proyek ini bisa berjalan sesuai jadwal dengan target penyelesaian hingga 18 bulan mendatang, atau sekitar pertengahan 2023 mendatang. Bahwa tahapan yang dikerjakan tim saat ini berdasarkan aturan yang berlaku. “Semua dikerjakan dengan prinsip kehati-hatian, mengacu aturan atau UU yang berlaku,” tutupnya.
Sebagai informasi, proyek MYC penanggulangan banjir ini berbentuk pekerjaan fisik di tiga titik, yakni bendali di Pampang dengan kebutuhan lahan sekitar 70 hektare. Dari data sementara lahan tersebut terbagi dalam 40 bidang per pemilik.
Selain itu akan dibangun turap Bengkuring sepanjang sekitar 1 km dengan jumlah kepemilikan lahan sekitar 25 bidang/orang. Sedangkan satu titik lagi yakni kolam retensi Bengkuring, berada di lahan milik pemkot seluas sekitar 18 hektare, namun sementara masih bermasalah terkait sengketa jual/beli lahan. (kri/k8)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : izak-Indra Zakaria