Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mengajar, Mendongeng, dan Mengadvokasi Hak Teman Tul

izak-Indra Zakaria • 2023-09-27 11:28:11
SALING BERBAGI: Abhi Praya membagikan cara berkomunikasi dengan teman tuli di Royal Plaza, Surabaya (23/9). ( ROBERTUS RISKY/JAWA POS)
SALING BERBAGI: Abhi Praya membagikan cara berkomunikasi dengan teman tuli di Royal Plaza, Surabaya (23/9). ( ROBERTUS RISKY/JAWA POS)

Abhi Praya Merayakan Hari Bahasa Isyarat Internasional 2023 dengan Mengisi Kelas Bisindo

Abhi Praya memang menjadi tutor bisindo, selain memaksimalkan ekspresi dan gestur saat mendongeng. Lewat mengajar dan beragam kegiatannya, dia ingin menunjukkan bahwa kekurangannya bukan halangan dan turut mendorong teman tuli berani tampil.

LAILATUL FITRIANISurabaya

---

ABHI Praya begitu bersemangat memperagakan gerakan abjad bahasa isyarat Indonesia (bisindo). Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Dia gembira melihat banyaknya peserta yang hadir, baik dari teman tuli maupun teman dengar.

”Ada lebih dari 100 orang yang ikut. Semoga teman dengar dapat ilmu dari teman tuli dan mau terus belajar,” ujarnya setelah mengisi kelas bisindo dasar untuk memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional di Royal Plaza, Surabaya, Sabtu (23/9).

Sehari-hari, pemilik nama lengkap Abhi Praya Ifander Rafi itu memang mengajar bisindo untuk anak-anak tuli. Dia bergabung di Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) sejak Maret tahun lalu sebagai salah seorang tutor.

”Mengajarnya online dan offline di mana-mana. Kemarin Juni sampai Agustus ada kelas offline di Paco,” ungkap pemuda 22 tahun tersebut.

Selain menyibukkan diri mengajar bisindo, Abhi aktif berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mendongeng. Awalnya, dia belajar mendongeng secara otodidak berangkat dari kegemarannya membaca buku.

Skill mendongengnya semakin berkembang setelah bertemu dengan pendongeng sekaligus pegiat literasi Bunda Inge. ”Dongeng favorit yang sering saya bawakan itu ada Aku Bisa, Kelinci dan Kura-Kura, Timun Mas, sama Bawang Merah Bawang Putih,” papar pendongeng tuli asal Surabaya tersebut.

Abhi memaksimalkan ekspresi dan gesturnya saat mendongeng. Diharapkan, cerita yang dia bawakan dapat tersampaikan. Ada juru bahasa isyarat pula yang membantu menerjemahkan. ”Biasanya, saya juga membantu teman tuli jadi MC acara. Kalau MC, saya belajar sendiri,” kata Abhi.

Lewat berbagai aktivitasnya itu, dia ingin menunjukkan bahwa kekurangan yang dimiliki bukanlah penghalang. Abhi ingin teman tuli lainnya juga berani tampil.

tu pula yang kemudian memotivasinya untuk mendirikan sebuah komunitas yang mampu mewadahi teman-teman tuli. Dengan dukungan founder Kumpul Dongeng dan tim bisindo, komunitas Cerita Teman Tuli (Tatuli) pun terbentuk. Tepat pada Hari Anak Nasional tahun lalu. ”Karena tuli harus berani dan percaya diri. Tidak boleh malu,” tegasnya.

Tak hanya sampai di situ, beberapa kali dia juga melakukan advokasi untuk memperjuangkan hak-hak teman tuli. Advokasi tuli pertamanya dilakukan bersama Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Kota/Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Juli lalu.

Sebelum melakukan presentasi tersebut, Abhi mengikuti pelatihan advokasi tuli dan hak bahasa isyarat di Jakarta selama satu minggu dengan Gerkatin dan WFD (World Federation of the Deaf). ”Saya ingin mengajak teman-teman berani menyuarakan haknya kepada pemerintah untuk akses tuli,” tuturnya.

Pemuda berkacamata yang dikenal periang dan supel itu mengungkapkan harapannya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. ”Saya ingin kuliah tahun ini atau tahun depan dan belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik lagi,” kata alumnus SMALB Karya Mulia, Surabaya, tersebut. (*/c14/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature