Krisis air baku yang kini dialami Kota Minyak tak menutup kemungkinan PDAM mengkaji lagi potensi desalinasi. Meski opsi ini tidak terlalu ideal.
BALIKPAPAN – Ide desalinasi air laut sudah sekian lama digaungkan untuk mengatasi krisis air baku di Kota Minyak. Sebutan desalinasi kerap muncul ketika Balikpapan mulai mengalami kesulitan air. Namun, kenyataannya tak mudah mewujudkan desalinasi tersebut.
Teknologi mengubah air asin menjadi air tawar ini membutuhkan biaya besar. Maka perlu peran investor, belum lagi kajian perhitungan antara cost dan produksi yang dihasilkan dari desalinasi. Plt Dirut Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) Rita menuturkan, pihaknya pernah melihat penerapan desalinasi di Pertamina.
Dia bercerita, sistem yang digunakan untuk desalinasi air laut ini kondensasi atau pemanasan. Sementara, dari proses desalinasi yang dilakukan Pertamina, membuat kandungan mineral mengurai. Lebih lanjut, Pertamina menggunakan air dari desalinasi untuk menggerakkan turbin atau penerangan di wilayah kompleks tersebut.
“Tapi, untuk air minum atau air sehat ini tidak bisa. Karena untuk air minum butuh mineral,” sebutnya. Namun, dengan kondisi krisis air baku yang kini dialami Kota Minyak, pihaknya tak menutup kemungkinan untuk melakukan kajian lagi tentang potensi desalinasi air laut.
Misalnya, kajian dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) atau UGM. Mengingat dulu pernah ada kajian desalinasi air laut yang hingga kini belum ada kelanjutannya. “Tapi, yang harus dipahami kalau air asin akan mengurai mineralnya. Sementara, untuk air minum kita butuh kandungan mineral,” ujarnya.
Pihaknya tidak mungkin menggunakan desalinasi air laut seperti yang dilakukan Pertamina. Mengingat berbeda kebutuhan. Ada baku mutu air yang harus dipenuhi hingga air bisa standar sebagai air minum. Sebagai informasi, pembahasan desalinasi atau metode reverse osmosis (RO) ini sudah mencuat sejak enam tahun lalu.
Desalinasi dianggap sebagai metode yang paling sesuai mengatasi kekurangan air baku. Namun, masalahnya biaya teknologi yang dibutuhkan untuk desalinasi tak sedikit. Kabid Pengembangan Infrastruktur dan Perekonomian Perkotaan Bappeda Litbang M Ali Ichwani mengatakan, pihaknya menilai rencana desalinasi tidak efisien.
“Butuh biaya cukup mahal. Sementara, debit air yang dihasilkan tidak begitu besar,” tuturnya. Sehingga, Pemkot Balikpapan masih mempertimbangkan mana yang ideal untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Kemungkinan menjalankan desalinasi air laut bisa terwujud melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
Sebelumnya senada dengan Bappeda Litbang, Balai Prasarana dan Permukiman Wilayah (BPPW) Kaltim juga menilai desalinasi air laut cukup sulit. Kepala BPPW Kaltim Rozali Indra Saputra mengatakan, ada berbagai cara untuk mencari sumber air baku. Baik dengan membentuk bendungan sampai pemanfaatan air laut.
Begitu pula, Balikpapan yang sebelumnya memiliki rencana menjalankan desalinasi air laut. Namun, terkendala biaya cukup tinggi. Maka pihaknya menyarankan perlu mencari jalan lain mengatasi defisit air bersih. “Kami khawatir pemerintah kota akan sulit dalam perawatan akhirnya masyarakat dikenakan harga tarif yang cukup tinggi,” pungkasnya. (ms/k15)
DINA ANGELINA
dinaangelina6@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria