TANA PASER - Beberapa bulan lagi rakyat Indonesia akan kembali memilih pemimpin untuk lima tahun akan datang. Dari pemilihan presiden dan wakil presiden, gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, wali kota dan wakil wali kota, sampai pemilihan anggota DPR RI, DPD RI, DPR provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.
Pemilihan umum lima tahunan itu, Insyaallah akan diselenggarakan pada 14 Februari 2024. Itulah momentum yang sangat penting bagi rakyat Indonesia dalam memilih pemimpin yang terbaik dan berkarakter. Untuk memilih dan menetapkan pemimpin yang terbaik dan berkarakter tentu bukan perkara yang mudah di tengah suasana kehidupan politik yang kerap kali lebih mengedepankan kekuasaan dan kesenangan belaka serta sering kali bertentangan dengan nilai-nilai akhlak dan karakter bangsa serta agama.
Untuk itu tulisan singkat ini semoga dapat dijadikan sebagai panduan dalam memilih pemimpin yang berkarakter dalam perspektif Islam. Sebelum memilih pemimpin, sejatinya para pemilih mempelajari dan mencari tahu karakter calon pemimpin atau yang sudah jadi pemimpin. Sebagai rujukan, Allah berfirman dalam Al-quran Surat Al-Taubah:128, “Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
Firman Allah di atas sebenarnya menjelaskan tentang karakter kepemimpinan Rasulullah Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam. Namun bisa menjadi petunjuk dan panduan bagi ummatnya dalam mencari dan memilih pemimpin dalam konteks kepemimpinan saat ini. Terutama menjelang pemilu Februari 2024 nanti. Setidaknya ada empat karakter yang mesti dimiliki oleh calon pemimpin atau yang sudah jadi pemimpin.
Pertama,“Min anfusikum”(dari kaummu sendiri.) Bahwa calon pemimpin atau pemimpin itu berasal dari kalangan sendiri, yaitu sama-sama manusia biasa. Bukan berasal dari malaikat yang napak tilasnya tidak bisa dijadikan teladan. Dengan kata lain, memilih pemimpin itu disarankan, orang yang sudah dikenal baik akhlaknya, rekam jejaknya, gagasan, dan kinerjanya.
Memilih pemimpin bukan berasal dari kaum yang tidak kita ketahui dan kenali latar belakangnya. Bukan pula berasal dari kaum yang hanya mengandalkan fulus atau money saat hendak dipilih menjadi pemimpin. Memilih pemimpin hendaknya betul-betul satu “anfus” (satu jiwa atau sehati). Antara calon pemimpin dengan pemilihnya benar-benar sejiwa dan sehati.
Kedua,“Azizun alaih”(merasakan penderitaan rakyat.) Menurut Syekh Mutawalli As-Sya’rawi, Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam sangat mencintai umatnya. Penderitaan, kesengsaraan, kesusahan, kepayahan yang dirasakan oleh umatnya turut dirasakan oleh Rasulullah. Bahkan sebelum derita-derita itu dirasakan oleh umatnya, beliau sudah merasakan terlebih dahulu.
Selain sebagai utusan Allah yang menjalankan amanah menyebarkan ajaran Islam, Rasulullah juga tak henti-hentinya disibukkan dengan urusan kemasyarakatan. Bahkan ia sangat jarang memerhatikan keluarganya sendiri demi umatnya. Tak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
Dengan demikian, untuk memilih pemimpin nanti, lihatlah bagaimana rasa empatinya terhadap rakyat. Apakah selama ini, calon pemimpin itu memiliki empati yang tinggi terhadap nasib dan penderitaan rakyat ataukah justru berempati kepada kelompok atau golongan tertentu saja. Atau lihat dan pelajari, apakah selama ini, ia berpihak kepada “wong cilik” atau kepada “wong licik?”
Cari dan pilihlah calon pemimpin yang selama ini sudah terbukti dan peduli serta empati pada penderitaan yang dialami rakyat, terutama kaum yang tertindas, fakir miskin, dan anak-anak yatim. Jangan pilih pemimpin yang hanya mencitraka diri sebagai orang peduli dan empati saat hendak dipilih jadi pemimpin saja dengan tiba-tiba rajin memberi.
Ketiga,“Harishun alaikum bilmukminin” (sangat menginginkan keimanan). Rasulullah sangat ingin menjadikan umatnya berada pada barisan yang beriman dan benar serta sangat berambisi menjadikan umatnya orang-orang yang mendapatkan hidayah/petunjuk agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Namun keimanan dan hidayah merupakan hak prerogatif Allah yang tidak bisa diraih oleh siapa pun jika tidak dikehendaki oleh-Nya.
Dalam konteks kehidupan sekarang ini, berkaca kepada karakter kepemimpinan Rasulullah, calon pemimpin atau yang sudah jadi pemimpin adalah sosok yang sangat menginginkan keselamatan dan kebahagiaan bagi rakyatnya. Tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.
Sosok pemimpin yang dicari dan dipilih adalah sosok yang sangat berambisi dan berupaya keras mewujudkan ambisinya agar rakyat memiliki kekuatan iman sehingga hidupnya menjadi aman dan selamat. Aman dan selamat dari kebodohan dan kemiskinan hingga pada muaranya hidup sejahtera dan bahagia di dunia dan akhirat.
Keempat,“Raufun rahim” (penyantun dan penyayang). Rasulullah adalah sosok pemimpin yang sangat penyantun dan penyayang. Dua sifat itu (Al-Rauf dan Al-Rahim) adalah bagian dari 99 asmaul husna. Ini sekaligus menunjukkan keistimewaan derajat Rasulullah Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam. Dua nama indah Allah dilekatkan pada diri beliau.
Penyantun dan penyayang tersebut mewujud dalam karakter kepemimpinan Rasulullah yang tidak kasar menghadapi masyarakat. Beliau juga gemar memaafkan dan memohonkan ampun ketika umatnya yang berlaku salah, bersedia bermusyawarah, dan bertawakal ketika tekad sudah bulat. Seperti yang dituturkan Al-Qur’an,“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Rasul Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal”. (QS Ali Imran: 159)
Demikianlah karakter kepemimpinan Rasulullah Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam yang kita yakini sebagai teladan paling ideal bagi umat manusia. Semoga kita mampu menyerap pelajaran dari karakter pemimpin agung Rasulullah dan menjadi panduan bagi kita dalam memilih pemimpin yang berkarakter di negeri ini. Wallahu A’lam. (pms/far)
Editor : izak-Indra Zakaria