SAMARINDA UTARA. Teror ular tidak hanya meresahkan masyarakat di Jakarta. Baru-baru ini, masyarakat di Samarinda juga dihantui serbuan hewan mematikan tersebut yang mulai menyerbu permukiman penduduk.
Penampakan hewan reptil ini jelas mengganggu dan membuat warga yang memang fobia dengan ular semakin takut. Jenis ular yang kerap terlihat adalah piton dan kobra.
Anggota Rescue Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Kota Samarinda, Ichwan Wahyudin menjelaskan, dalam sehari timnya terkadang mengevakuasi dua lokasi ular di tempat berbeda. Dari data Disdamkar sejak Januari hingga November 2019, pihaknya sudah melakukan evakuasi ular sebanyak 60 kejadian. Ditambah satu kasus penemuan 30 butir telur ular. Lebih rinci, kata Ichwan, jenis ular yang kerap ditemukan saat banjir adalah jenis piton dan kobra.
“Untuk bulan Desember, hingga kemarin kami sudah mengevakuasi 12 ekor ular di permukiman warga,” kata Ichwan.
Ichwan menambahkan, jika di rumah ditemukan seekor ular, cara paling bijak mengatasinya adalah bukan membunuhnya. Sebaiknya direlokasi saja ke tempat yang semestinya. Atau cara gampangnya, hubungi saja ahli atau pawang ular.
Katanya, ular biasanya suka di saluran air dan pepohonan lebat. Ular memang sangat nyaman bersarang di gorong-gorong pipa pembuangan. Namun lidah ular yang berfungsi sebagai sensor navigator akan terus mencari jalan ke tempat yang menurutnya lebih aman.
Dia menyarankan untuk menutup saluran air dengan menggunakan penutup saringan. Tujuannya, agar ular tidak bisa menerobos masuk ke dalam rumah. Selain lokasi tersebut, ular kerap pula terlihat di pojokan taman rumah. Sebab lokasi ini biasanya terdapat tumpukan batuan yang sangat disukai ular, karena dianggap lembab tapi kering.
Dia menyarankan, untuk menghindari celah-celah bagian taman di rumah yang lembab, setelah menyapu sebaiknya jangan biarkan sisa dedaunan di pojokan. Karena akan lembab serta kering. “Sehingga ular sangat menyukai tempat tersebut,” ujar Ichwan.
Selain itu, awasi juga bebatuan, tumpukan koran atau buku di gudang. Sebab pada dasarnya, ular menyukai tempat yang hangat. Ini pula yang menjadi penyebab mereka kerap mampir ke tempat tinggal manusia. Karena itu, tempat-tempat seperti tumpukan batu di taman, koran atau buku di gudang bisa menjadi tempat favorit mereka.
Terakhir lokasi yang perlu di waspadai adalah tumpukan peralatan berkebun. Ada kemungkinan ular-ular tersebut mampir di kebun atau teras rumah.
Meski penanganan ular selama ini terbilang aman, Disdamkar maupun relawan SAR kerap terkendala tindakan medis jika terjadi insiden gigitan ular yang dialami petugas maupun warga.
“Selama ini kami berusaha se-safety (seaman, Red) mungkin saat melakukam evakuasi, namun tetap juga merasa waswas jika yang kami hadapi adalah ular berbisa seperti kobra,” keluh Ichwan.
Ada beberapa kemungkinkan yang menyebabkan ular bisa hadir di tengah permukiman. Bisa jadi karena lokasi rumah yang berdekatan dengan alam bebas, seperti rawa, sawah, sungai, hutan dan kebun. Atau mungkin karena mereka terbawa aliran air hujan yang membanjiri lingkungan sekitar.
Anggota Samarinda Animal Rescue (SAR), Akmaluddin mengatakan, ada beberapa alasan mengapa ular selalu nampak di sekitar manusia. Ular memang satwa liar yang habitatnya paling dekat dengan manusia. Jika ada ular, berarti ekosistem di sekitar hunian masih bagus dan normal. Justru jika tidak ada ular, bersiaplah ledakan populasi hama di mana-mana.
Induk ular bertelur, namun tidak membuat sarang. Ular hanya memanfaatkan lubang sembunyi dan celah terlindungi yang dianggapnya tidak akan terjamah pemangsa. Secara insting, induk ular akan meletakkan telur di kawasan yang tersedia berlimpah makanan. Sehingga saat telur menetas, si anak dengan mudah mendapatkan makanan.
Selain itu, lanjut Akmaluddin, makanan ular semakin sedikit lantaran habitatnya sudah berubah menjadi perumahan dan gedung bertingkat. Pada akhirnya berkumpulah mangsa ular ini di area pemukiman. Kadal, tikus, kodok, cicak, burung, ayam, bebek sekarang hanya ada di sekitar permukiman. “Sehingga ular pun mendekat ke sana,” kata Akmal.
Dilanjutkan Akmal, terdapat 346 spesies ular. Hewan ini paling pintar bersembunyi. Insting ular hanya cari makan dan cari tempat sembunyi. Ular tidak bisa memilih nama tempat. Di mana pun dia nyaman dan ada mangsanya, dia akan betah. Terlepas itu di tepi sungai, hutan, kebun, halaman rumah, bahkan di area area industri banyak di temukan ular.
Tidak ada yang bisa memprediksi kapan seekor ular akan masuk ke dalam rumah. Dari beberapa kasus yang sudah ditangani, masuknya ular ke dalam rumah bukan karena bagus atau jeleknya lokasi tersebut. Ketika hewan melata ini sudah masuk ke dalam rumah, warga juga kerap salah kaprah dalam menanganinya.
“Umumnya karena terpengaruh mitos yang selama ini beredar seputar ular. Sehingga malah membahayakan keselamatan mereka sendiri. Contoh saja menabur garam. Padahal garam tidak berpengaruh sama sekali terhadap tubuh ular,” kata Akmaluddin.
Menyangkut ketersediaan anti serum anti bisa ular (SABU), Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, dr Osa Rapsodia menerangkan, SABU saat ini hanya tersedia di rumah sakit, sedangkan di puskesmas belum ada.
“Jika ada pasien korban yang masuk puskesmas maka pihak puskesmas akan memberikan rujukan ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan penanganan,” singkat Osa. (kis/nha)