Undangan akikah sudah disebar keluarga. Namun, Nadhifa Putri Amira, bayi berusia 6 bulan itu lebih dulu mangkat. Dia sempat dilarikan ke RSUD AW Sjahranie, Jumat (28/6) lalu karena sakit.
SAMARINDA–Kebahagiaan seharusnya dirasakan Kasmir dan Rahmi Nur Fadhila Rabu (3/7) lalu. Namun, kebahagiaan yang diharapkan sirna. Mereka harus kehilangan buah hatinya, Nadhifa. Bayi berusia 6 bulan itu tak mampu diselamatkan rumah sakit.
Namun, keluarga menyayangkan pihak rumah sakit pelat merah lantaran penanganan terhadap Nadhifa dianggap lambat.
Muh Yamin, paman korban, membuat pengaduan ke Polresta Samarinda, ada hal yang dianggap lalai dilakukan rumah sakit. Dia didampingi TRC PPA Kaltim. “Setelah didaftarkan, terus dibawa bayi ke samping ruang informasi. Di situ penanganannya belum ada. Makanya saya ke informasi untuk menanyakan kembali, kapan mau dilakukan penindakan karena bayi kalau dibiarkan begitu saja dalam waktu beberapa menit, otomatis tambah lemas karena dehidrasi. Awal mula itu bayi muntah diikuti keluar kotoran (muntaber),” ungkapnya.
Setelah diperiksa perawat, masih didiamkan beberapa menit. Pemeriksaan mencari pembuluh darah. Beberapa kali suntikan namun belum menemukan pembuluh darah. Dicoba disuntikan obat mual, bayi tersebut muntah. Setelah itu didiamkan beberapa saat. “Mungkin (perawat) sharing atau sedang berpikir, saya kurang paham. Terus ke dokter jaga, ‘dok, kalau pembuluh darah tidak ditemukan, ada solusi lain untuk alternatif masuk cairan. Disebutkan ada, itu anastesi. Ya sudah itu saja,” sambungnya menceritakan kejadian di IGD rumah sakit tersebut.
Namun, dokter bilang tunggu sebentar. “Beberapa saat kemudian balik lagi ke dokter jaga, disuruh ngedot dulu (bayi). Enggak lama keluar suara ngorok. Saya tanya lagi ke dokter jaga, jawabannya tunggu sebentar terus. Itu menunggu sekitar 30 menit,” imbuhnya.
Beberapa perawat sempat datang kembali, tujuannya masih mencari pembuluh darah, tapi tetap tak ditemukan. “Itu perawat saja yang nyari, dokter belum bertindak. Waktu kritis, ada dokter umum datang untuk memompa jantung. Sekitar 15 menit kemudian dokter spesialis anak datang. Sama, pompa jantung juga,” sambungnya. Dokter sempat bilang bahwa kondisi bayi memburuk. “Itu sudah dari tadi lho, dan saya sudah doa terus. Sampai akhirnya berdasarkan catatan rumah sakit, bayi meninggal pukul 21.39 Wita,” sebutnya.
Keterangan dari dokter, lanjut Yamin, dokter Salsa mengatakan dehidrasi sedang. Namun, dari penjelasan dokter Dini, bayi tersebut mengalami dehidrasi berat. “Artinya ada penjelasan berbeda. Dan saya tarik kesimpulan ada yang tidak beres,” sambungnya.
Setelah penanganan tersebut, dokter sempat menyuntikkan epinephrine, sebagai pemicu jantung, disuntikkan ke paha bayi. “Tidak ada dipindahkan ke ruangan lainnya, hanya di IGD,” bebernya.
Menurutnya, rumah sakit bertindak monoton. “Kalau disebut nyawa urusan yang di atas (Allah SWT), ya sepakat. Tapi penindakan rumah sakit kok hanya perawat. Tindakan itu hanya mencari pembuluh darah,” sambungnya.
Dari pantauan harian ini, foto yang ditunjukkan, ada banyak bekas suntikan di tangan dan kaki bayi tersebut. Sekitar 17 suntikan. “Saya melihat dokter umum itu hanya melihat handphone, mungkin dia koordinasi. Nah, kalau seperti itu didiamkan terus, itu ‘kemenangan’ rumah sakit. Makanya saya inisiatif menghubungi TRC minta pendampingan. Saya ke polisi untuk mengadukan kelalaian,” sebutnya. Keluarga bahkan meminta rumah sakit untuk transparansi secara menyeluruh. “Saya minta manajemen rumah sakit menindak dokter-dokter itu,” tambahnya.
Namun, keluarga justru mendapat kabar bahwa dr David Hariadi Masjhoer (Direktur RSUD AW Sjahranie) mengatakan, kesalahan bayi karena bobot berlebih. Dijelaskannya, berat Nadhifa 9,7 kilogram. “Saya minta kronologis di rumah sakit. Bukan catatan medis. Mulai datang sampai meninggal. CCTV sudah saya tanyakan, ternyata tidak merekam,” tegasnya.
Diperiksa di klinik daerah Muara Badak, Kukar, mengarahkan untuk ke SMC. Namun, keluarga sempat berhenti di RSIA Qurata Ayun. Namun, karena sarananya kurang lengkap, diarahkan ke RSUD AW Sjahranie.
Sebelumnya, dr David Hariadi Masjoher mengatakan, pelayanan yang diberikan tidak melebihi 5 menit. Setelah tiba di rumah sakit, dua menit kemudian langsung ditangani. “Jadi bayi yang meninggal itu tiba ke RSUD AWS pukul 18.55 Wita, itu menurut rekaman medis kami. Kemudian pukul 18.57 ditangani,” ucapnya.
Proses penanganan berjalan, bayi tersebut sudah masuk ke ruang resotasi untuk dipasangkan infus. Namun, upaya tersebut gagal. “Kami sudah maksimal dan standar pelayanan itu kan 5 menit. Kami lakukan di bawah 5 menit, dan kami berupaya memasang infus tapi gagal,” sambungnya.
Kondisi bayi, lanjut dia, obesitas. Hal itu menyulitkan pihaknya menemukan keberadaan pembuluh darah. Untuk keluhan awal bayi tersebut mengalami diare dan muntah. asesmen awal dokter kondisi bayi mengalami dehidrasi sedang. Beberapa saat kemudian, setelah ditangani, dokter anak mengatakan dehidrasi berat. “Jadi memang ketika bayi itu datang dehidrasi antara sedang pada bayi gemuk agak susah di diagnosis, dan yang bisa diagnosis itu dokter anak, hal itu yang menjadi pertanyaan keluarga bayi, kok ada dua perbedaan diagnosis. Sebenarnya kan wajar karena perjalanan waktu. Awalnya sedang kemudian berat, terus muntah dan diare,” sambungnya. (dra)
Editor : Indra Zakaria