PENAJAM – Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tengah menyiapkan sebuah inisiatif dokumentasi sejarah dalam format yang tak biasa. Program ini akan dikemas dalam bentuk podcast sejarah, yang menghadirkan langsung kisah para tokoh dan saksi mata yang terlibat dalam perjuangan berdirinya Kabupaten PPU.
“Meski baru berusia 23 tahun, PPU punya rentetan sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan. Dari status ‘Balikpapan Seberang’ hingga akhirnya menjadi kabupaten mandiri, semua itu menyimpan perjuangan yang layak didengar generasi kini,” ungkap Kepala Dispusip PPU, Yusuf Basra, Jumat (25/4/2025).
Yusuf mengisahkan masa kecilnya, saat wilayah yang kini bernama PPU masih dianggap sebagai perpanjangan wilayah Balikpapan, karena letaknya yang hanya dipisahkan Teluk Balikpapan. Setelah itu, wilayah ini sempat bergabung ke Kabupaten Paser sebelum gelombang reformasi dan semangat otonomi daerah mengantar PPU menuju status kabupaten sendiri.
“Banyak yang tidak tahu bahwa pembentukan PPU bukan keputusan instan. Ada aspirasi rakyat, ada tim-tim perjuangan, ada pertemuan-pertemuan penting yang patut dikenang,” tambahnya.
Podcast sejarah ini akan menghadirkan narasumber langsung: para tokoh masyarakat, aktivis pemekaran, hingga pejabat awal yang terlibat dalam pembentukan kabupaten. Tujuannya bukan sekadar merekam, tetapi menghidupkan kembali narasi perjuangan itu secara autentik.
“Selagi para pelaku sejarah masih ada, mari kita dengar cerita mereka. Ini bukan hanya dokumentasi, tapi warisan untuk generasi penerus agar tahu dari mana mereka berasal,” kata Yusuf penuh semangat.
Lebih dari sekadar nostalgia, Yusuf berharap inisiatif ini bisa memupuk rasa memiliki dan kebanggaan terhadap tanah kelahiran. Ia menekankan pentingnya menyatukan sejarah dan literasi sebagai satu kesatuan pembangunan karakter daerah.
Tak lupa, ia juga menyinggung tantangan literasi di kalangan anak muda. “Minat baca tidak muncul tiba-tiba. Harus dibiasakan sejak kecil. Ini tugas kita bersama — guru, orang tua, dan seluruh komunitas,” tegasnya.
Dengan merangkul teknologi dan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda, Dispusip PPU ingin menjadikan sejarah sebagai cerita yang hidup — bukan sekadar catatan dalam dokumen, tetapi kisah yang menginspirasi arah masa depan. (kim/adv)
Editor : Wawan