Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

2018, Empat Penderita HIV/AIDS Meninggal

anggri-Radar Tarakan • Rabu, 16 Januari 2019 - 19:03 WIB

TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan mencatat empat penderita HIV/AIDS meninggal dunia pada tahun 2018. Jumlah tersebut merupakan sebagian dari 25 penderita yang terdeteksi saat melakukan pengobatan di rumah sakit.

Kepala Bidang Pencegahan, Penanggulaangan Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinkes Bulungan, Imam Sujono mengatakan, dari 25 penderita itu, 16 di antaranya menderita HIV, sementara sisanya terdeteksi sudah AIDS.

“Jumlah ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya (2017) yang berjumlah 41 penderita, dengan rncian 32 HIV dan 9 AIDS,” ujar Imam kepada Radar Kaltara saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (15/1).

Dijelaskannya, penderita HIV itu orang yang baru terkena virusnya. Tapi, hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit itu, yang ada hanya mengendalikan untuk membuat si korban bisa tetap normal dan tidak menularkan ke orang lain.

“Tapi harus minum obat anti virus secara rutin. Artinya, seumur hidup orang yang menderita penyakit HIV/AIDS ini harus minum obat terus,” jelasnya.

Namun demikian, Imam menegaskan, jumlah itu masih sebatas yang dimiliki oleh pihaknya. sedangkan untuk fakta di lapangan, itu belum dapat dipastikan karena penyakit menular ini seperti fenomena gunung es yang tampak kecil di permukaan, tapi besar di dalam.

Artinya, belum tentu data jumlah penderita yang ada ini sama dengan yang ada di masyarakat. Pastinya Dinkes sudah melakukan upaya semaksimal mungkin dengan berbagai macam cara, mulai dari turun langsung hingga melibatkan pihak lain.

Untuk yang meninggal dunia, Imam menjelaskan itu karena sudah AIDS. Si korban ditemukan saat sudah stadium akhir dan tidak sempat minum obat. Rata-rata penderita ini ditemukan saat dirujuk dari puskesmas ke rumah sakit.

Adapun yang paling banyak berasal dari Tanjung Selor dan Sekatak. Untuk yang di Tanjung Selor itu karena wilayah kota, sementara yang di Sekatak, ada kemungkinan tingginya angka penderita HIV/AIDS itu karena adanya aktivitas tambang emas yang beroperasi secara ilegal di daerah tersebut.

 “Sekarang ini kami masih terus berupaya untuk melakukan pengecekan ke lapangan. Kami akan tetap masuk ke perusahaan-perusahaan untuk melakukan tes. Tahap awal sudah kami lakukan awal Januari,” katanya.

“Untuk di kota (Tanjung Selor) ini ada tujuh lokasi risiko tinggi yang rutin kami lakukan pembinaan, pemeriksaan dan fasilitasi. Jika dimungkinkan, akan kami berikan alat kontrasepsi,” sambungnya.

Tak hanya itu, untuk mencegah penularan penyakit HIV/AIDS ini, pihaknya memberikan pemahaman bahaya dari seks bebas. Jadi, para siswa ini menjadi pelopor untuk menyosialisasikan itu di lingkungan sekolah. (iwk/ana)

 

Editor : anggri-Radar Tarakan
#hiv-aids