TANJUNG SELOR – Kesehatan masih menjadi masalah yang selama ini dihadapi masyarakat Desa Long Beluah, Kecamatan Tanjung Palas Barat, Kabupaten Bulungan. Pasalnya, di puskesmas ini masyarakat hanya dilayani oleh satu orang tanaga dokter.
Camat Tanjung Palas Barat, Rahmad mengatakan, dari beberapa tahun sebelumnya tidak pernah ada tenaga dokter di puskesmas itu kurang dari dua. Bahkan pernah ada empat tenaga dokter.
“Seingat saya beberapa tahun lalu tidak pernah ada tenaga dokter di puskesmas itu kurang dari dua. Tapi sekarang ini dokter yang ada hanya satu dokter saja,” ungkap Rahmad kepada Radar Kaltara.
Tenaga dokter yang ada saat ini hanya satu dokter umum. Sementara untuk kebutuhan kesehatan minimal ada tiga dokter. Dan diharapkan ada juga dokter gigi.
“Kalau bidan saya rasa tidak ada masalah, karena bidan masih cukup banyak, yang kurang saat ini hanya dokter saja,” sebutnya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan agar bisa menambah jumlah dokter yang ada di Long Beluah, karena hal itu sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendasar.
Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan, H. Imam Sujono mengakui sejauh ini sumber daya manusia (SDM) tenaga dokter di Bulungan memang masih kurang. Rencananya ada beberapa puskesmas yang akan dievaluasi agar tidak dijadikan rawat inap.
“Jadi ketika ada satu atau tiga puskesmas yang tidak rawat inap, kita bisa tambahkan untuk gaji tenaga dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT),” sebutnya.
Gaji dokter PTT di Bulungan memang sangat kecil jika dibandingkan dengan beberapa daerah lainnya seperti Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Tana Tidung (KTT).
“Termasuk di Kabupaten Berau, jadi kita ini terjepit.Kami sebetulnya terus berusaha untuk menaikkan, tapi kalau kita naikkan biaya akan menjadi besar,” sebutnya.
Namun di tahun 2020 mendatang, Dinkes telah melakukan analisis untuk menambah sedikit gaji dokter PTT, tapi hal itu masih harus dikonsultasikan dengan pemkab.“Itu baru rancangan kami, dan itu harus dikonsultasikan lagi,” sebutnya.
Hal itu dilakukan sebagai upaya agar tenaga PTT itu mau masuk ke Bulungan.Selain itu, Dinkes juga akan mencoba mendekati beberapa universitas terdekat seperti Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.
“Siapa tahu saja ada mahasiswa kedokteran yang sudah lulus di Unmul itu mau masuk ke Bulungan,” ujarnya.
Sejauh ini untuk gajiyang diterima tenaga dokter PTT di kota kurang lebih Rp 5 juta. Kemudian ada juga yang Rp 6 juta hingga Rp 7 juta. Hal itu disesuaikan dengan daerah tugas, semakin ke hulu maka gajih yang diberikan akan semakin naik.
“Tapi jumlah itu belum dipotong pajak,” sebutnya.
Tenaga dokter, kata Imam, memang masing sangat kurang, khususnya tenaga dokter gigi. Bahkan sejauh ini dokter gigi hanya ada di Puskesmas Tanjung Selor, Bumi Rahayu, Bunyu, Tanah Kuning dan Salimbatu. Sedangkan Puskesmas Pimping, Sekatak, Long Beluah dan Long Bang belum memiliki dokter gigi.
“Kami sebenarnya sudah berupaya, tapi kami akan tetap maksimalkan waktu yang tersisa kurang lebih satu bulan setengah ini,” bebernya.
Sebenarnya, Dinkes juga berharap Bulungan bisa mendapatkan program nusantara sehat. Namun faktanya, di Bulungan tidak mendapatkan program tersebut.
“Kalau kita dapat dan ada dokter itukan bisa menjadi peluang juga buat kita,” ujarnya. (*/jai/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan