Edukasi menanamkan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di era globalisasi saat ini memang tidak mudah. Namun, bukan berarti tak dapat diwujudkan, khususnya bagi generasi milenial. Dari cara sederhana dapat direalisasikan.
RACHMAD RHOMADHANI
CARA sederhana yaitu sesuatu yang mudah dicari. Lalu apa itu? Tutup botol. Ya, tutup botol yang merupakan bagian limbah plastik sejauh ini cukup mudah dicari. Sehingga siapapun dapat dengan mudah mendapatkannya.
Baik, saat mereka berada dalam lingkungan sekolah, di pekerjaan, jalan ataupun tempat–tempat umum lainnya. Tutup botol itu seolah menjadi limbah yang sudah tak dianggap lagi. Apalagi, bentuknya yang kecil dan mungil, jadi mudah untuk dibuang ke tempat pembuang sampah di mana saja.
Namun, berbeda pandangan dari para pelajar di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya SMAN 1 Tanjung Palas. Dari limbah tutup botol itu ‘disulap’ menjadi Peta Indonesia yang saat ini terpanjang di dinding luar ruang belajar mengajar di sekolah.
Bicara waktu membuat peta itu sendiri, dengan metode pelajaran yang nyaris setiap hari cukup padat. Dari keterangan Guru sekaligus Wali Kelas di SMA Negeri 1 Tanjung Palas, Ika Chrisna Indarti bahwa membutuhkan waktu setidaknya sepekan. Mengingat para pelajar itu baru bisa mengkreasikannya pasca proses belajar mengajar usai di sekolahnya.
“Ya, ini memang untuk edukasi terhadap para pelajar di sini. Dengan harapan adanya peta yang mudah terlihat. Tak lain, karena berada di luar ruang kelas. Maka, pelajar lainnya pun secara tak langsung dapat mengetahui kepulauan yang ada di Indonesia ini,” ungkapnya kepada pewarta, Kamis (20/2).
Diungkapkannya juga, proses membuat Peta Indonesia ini dilakukan sebanyak 4 pelajar dan membutuhkan 500 tutup botol. Mereka merupakan pelajar pilihan yang dianggap memiliki kemampuan imajinasi dalam mengkreasikan suatu benda yang dianggap tak bernilai.
“Tapi, pelajar lainnya pun sama halnya. Hanya, berbeda perihal kreasinya, mereka ada yang membuat pot, bunga plastik dan lainnya,” ujar wanita berhijab dan murah senyum ini.
“Namun, memang mengenai Peta Indonesia lebih kepada menanamkan edukasi terhadap pelajar. Karena dari peta itu mereka juga tahu begitu luasnya negara yang kita cintai ini,” sambungnya.
Yoga Agusta salah seorang pelajar pembuat Peta Indonesia itu mengakui output dari karyanya tersebut. Menurutnya, memang dengan membuat peta itu, secara tak langsung ia dapat mengetahui pulau-pulau yang ada di Indonesia.
“Saya bangga bisa bersama teman-teman menuntaskan kreasi Peta Indonesia dari tutup botol ini,” ungkapnya.
Lanjut pelajar berkacamata ini, dalam membuat peta itu membutuhkan waktu sepekan. Yakni setidaknya setiap harinya menyisihkan waktu dua jam untuk membuat satu demi satu pulau di Indonesia ini. Termasuk, dalam mengecat warna dan mengumpulkan tutup botol di lingkungan sekolah dan perumahan.
“Tutup botol itu memang mudah ditemui, tapi kami tetap pilah yang kondisinya cukup baik untuk memudahkan dalam menyatukan satu bagian ke bagian lainnya,” ujarnya.
Senada dikatakan Nanda Elisya, pelajar pembuat peta lainnya. Menurutnya membuat Peta Indonesia dari tutup botol merupakan pengalaman pertamanya. Karena sebelumnya yang diketahui membuatnya dari selembar kertas dengan menggunakan pensil atau cat pewarna. “Menurutnya saya juga ini penting bagi kami pelajar sebagai wujud edukasi terhadap cinta NKRI,” ujarnya.
“Dari karya ini juga sebenarnya mendukung kebersihan lingkungan sekolah agar tetap asri. Tidak berhambur sampah–sampah plastik, salah satunya tutup botol yang sering terlihat,” sambungnya.
Sementara, Noval dan Indah pelajar lainnya pun mengakui dari adanya Peta Indonesia di bagian dinding kelasnya. Maka, pelajar lain banyak yang melihat lebih dekat dan cukup takjub. Tentunya, itu menjadi prestasi bagi dirinya dan teman pelajar lainnya di kelas.
“Tapi, tujuannya sebenarnya untuk menjaga lingkungan supaya bersih. Ditambah, menambah wawasan bagi kami untuk mengetahui lebih jauh. Apa saja pulau di Indonesia ini,” bebernya.
Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bulungan cukup sering dalam memberikan pentingnya pengolahan limbah. Tanti Nurhayati staf DLH Bulungan yang juga dikenal sebagai ratu sampah sering melakukan sosialisasi di masyarakat. Yaitu tentang cara mengolah limbah rumah tanggap agar dapat bernilai. “Saya siap dalam membantu masyarakat dalam mengolah limbah. Termasuk, kepada pelajar di sekolah yang ada di provinsi ini,” ucapnya.
Lanjutnya, dengan adanya semangat masyarakat dan pelajar dalam mengolah limbah. Tentunya dengan maksud dan tujuan yang beragam menurutnya itu menunjukkan suatu keberhasilan dalam kepedulian terhadap bahaya sampah. Pihaknya pun tak bosan dalam menggaungkan program pengolahan sampahnya. “Ke RT pun saya siap untuk memberikan ilmu ini,” tutupnya. (***/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan