Sikap intoleran menjadi bibit awal munculnya paham radikalisme dan terorisme, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan menanamkan pemahaman cinta tanah air kepada anak sejak usia dini. Hal tersebut disampaikan Kasi Identifikasi Narapidana BNPT, Ahmad Fauzi dimana anak sejak usia dini perlu diberikan pemahaman cinta tanah air, agar sikap intoleran yang menjadi embrio atau bibit radikalisme dan terorisme tidak tumbuh kepada anak ketika akan dewasa. “Embrio awalnya ada sikap intoleran, berujung ke paham radikalisme, setelah itu mereka akan melakukan tindakan yakni terorisme yang tentu merugikan dirinya sendiri dan orang lain,” tuturnya, Kamis (3/8).
Dirinya menilai selain memberikan pemahaman cinta tanah, sikap toleransi juga perlu ditanamkan kepada anak sejak dini, dikarenkan berdasarkan hasil survei Setara Institute yang dilakukan di lima kota terpilih dari Januari-Februari 2023, jumlah pelajar intoleran aktif di sekolah tingkat menengah atas (SMA) dan sederajat meningkat dari 2,4 persen dari
survei isu yang sama pada 2016 menjadi 5 persen. Sementara yang terpapar ekstremisme kekerasan juga meningkat dari 0,3 persen pada survei 2016, menjadi 0,6 persen pada
survei 2023. “Hasil survei tersebut bisa menjadi gambaran bagi kita, bagaimana upaya pencegahan sejak dini kepada anak-anak kita agar tidak terpapar sikap intoleran,” ujarnya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak terpapar paham radikalisme dan terorisme, mulai dari lingkungan dimana ada kegiatan ekstrakulikuler yang tidak terkontrol oleh
sekolah, hingga orang tua yang sebelumnya sudah terpapar paham radikalisme dan terorisme. “Orang tua juga memiliki peluang besar memaparkan anaknya paham radikalisme dan terorisme, bila sebelumnya sudah terpapar, sehingga tidak heran ada anak yang juga menjadi pelaku aksi terorisme,” ungkapnya.
Adapun untuk mengetahui anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme, bisa dilihat dari sikapnya yang intoleran terhadap suku, agama ras dan budaya, selain itu rasa nasionalisme cinta tanah airnya juga sudah hilang. “Itu fase awalnya menuju ke
radikalisme dan terorisme, sehingga kita perlu melakukan deradikalisasi untuk menetralkan pikiran mereka yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme,” ujarnya.
Terpisah Ketua FKPT Kaltara Datu Iskandar Zulkarnaen menjelaskan, berdasarkan hasil survei BNPT tahun 2020, indeks potensi radikalisme cenderung lebih tinggi dikalangan perempuan, urban dan generasi muda. “Untuk generasi muda seperti generasi Z ada 12,7 persen, sementara untuk milenial ada 12,4 persen, artinya anak muda sangat rentan terpapar radikalisme dan terorisme,” bebernya.
Adapun mengapa pihaknya memberikan pemahaman kepada anak usia dini terkait cinta Tanah Air, agar tidak mudah terpapar oleh paham radikalisme dan terorisme. “Kita tahu sendiri anak-anak sangat rentan menjadi sasaran para pelaku terorisme, karena lebih mudah memasukkan ajarannya, pelaku terorisme ini juga butuh regenerasi untuk melanjutkan keinginannya,” ucapnya.
Pihaknya mengimbau orang tua, sekolah dan lingkungan tidak menutup mata bila ada kegiatan yang mengarah ke paham radikalisme dan terorisme. “Kalau BNPT dan FKPT sendiri tidak bisa untuk melakukan pencegahan sendiri, semua pihak harus bisa bersinergi untuk mewujudkan hal itu,” pungkasnya. (jnr/lim)
Editor : izak-Indra Zakaria