TARAKAN - Pasien anak berusia 2 tahun dengan dugaan kasus Gagal Ginjal Akut Progresif Atipikal, yang sempat ditangani RSUD dr H Jusuf SK dinyatakan meninggal dunia, sekira pukil 13.15 Wita, Jumat (21/10) lalu.
Sebelumnya pasien dengan kasus GGA ini akan dirujuk ke Makassar. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tarakan, dr Franky Sientoro mengatakan, pasien sudah dua hari ditangani. Kemudian meninggal dunia saat masih menjalani perawatan di ruang picu atau ruang emergency di RSUD dr H Jusuf SK.
“Kondisinya saat itu sudah buruk. Tak bisa makan dan perut membengkak, kami bawa ke Makassar saja tidak berani,” jelasnya, Senin (24/10).
Kondisi saat itu balita sudah tidak sadarkan diri. Dengan meninggalnya balita diperkirakan usia dua tahun tersebut, saat ini ada dua kasus meninggal ditangani pihak rumah sakit.
Pasien pertama masih suspek dan dicurigai, karena jangka waktunya pendek. Sementara pasien kedua ini diyakini penyakit Gagal Ginjal Akut. Maka dari itu pihaknya baru melaporkan ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes), satu kasus dengan meninggal dunia.
Saat ini belum ada laporan kasus baru terkait GGA dan diharapkan tidak menemukan lagi kasus serupa di Tarakan. “Mudah-mudahan sudah tidak ada. Karena untuk Kaltara, rujukan rumah sakitnya di RSUD dr H Jusuf SK,” ungkapnya.
Pihak rumah sakit sangat siap menangani pasien yang datang. Namun dari sisi peralatan khusus untuk ginjal anak, dan tenaga ahli ginjal anak saat ini belum ada. Setelah diketahui diagnosanya kasus gagal ginjal, rumah sakit tidak bisa menangani. Lantaran ahli ginjal anak yang tidak tersedia. Mesti begitu, pihaknya mengimbau masyarakat agar jangan sembarangan membeli obat bebas selain di tempat resmi seperti apotek, dokter dan Puskesmas.
“Kami juga sudah sampaikan kepada nakes (tenaga kesehatan) mengurangi penggunaan sirop obat. Kemudian jaga kesehatan kepada anak, agar tidak perlu sampai minum obat, menjaga jajanan anak jangan sembarangan,” pesannya.
Sementara itu, keluarga korban, Evayanti mengakui, awalnya sang keponakan dalam keadaan sakit. Dengan menimbulkan gejala muntah dan panas. Sehingga orangtua korban membawa ke Puskesmas.
Dari Puskesmas dikasih obat tiga macam. Yakni Paracetamol sirop, Domperidon dan Amropsol. Sejak mengonsmusi Domperidon, muntah sang anak berhenti. Kemudian Minggu (16/10) pekan lalu, sang anak tidak pernah buang air kecil (BAK). “Tapi tidak disadari orangtuanya. Ada lima hari tidak BAK,” imbuhnya.
Selama ini orangtua korban jarang memberikan makanan yang bebas dijual. Selain karena masih berumur 2 tahun, orangtua korban tidak menginginkan anaknya sakit. Ia juga belum mengetahui jika korban sering menahan BAK.
“Karena pakai diapers. Bulan lalu pernah ke rumah, agak gemuk anaknya, sebelumnya kurus. Cerita orangtuanya, kalau sakit minumnya obat diresep dari Puskesmas. Karena kalau di Puskesmas, kita panas tapi 3 hari tidak turun, cek darah, jadi ditahu. Jarang bawa ke praktek, setahu saya ke Puskesmas terus,” ucapnya.
Terkait adanya riwayat penyakit, korban tidak pernah mengalami sakit berat. Hanya saja sempat mengalami demam dan batuk. “Saya dengar saat teleponan katanya anaknya sakit, tidak mau makan dan rewel. Itu saja,” tuturnya.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara belum dapat memastikan penyebab meninggalnya seorang warga Bunyu, Kabupaten Bulungan, yang suspek gagal ginjal akut. Bersama Dinkes Bulungan, Dinkes Kaltara masih melakukan investigasi.
Kepala Dinkes Kaltara Usman mengatakan, warga Bunyu yang meninggal akibat gagal ginjal akut awalnya mengeluhkan nyeri di bagian perut. Bahkan saat itu sempat dirujuk ke RSUD dr H Jusuf SK Tarakan sebelum meninggal dunia.
Setiap kasus kejadian, Dinkes melakukan penyidikan epidemiologi. Dilakukan investigasi dan ditanyakan orangtua yang bersangkutan, terkait obat yang dikonsumsi. Dinkes belum dapat menyampaikan hasil investigasi yang dilakukan oleh tim dari Dinkes Kaltara dan Bulungan.
Informasi yang diterimanya, Kemenkes akan mendatangkan obat Fomepizole untuk perawatan pasien gagal ginjal akut. Apalagi, penyakit gagal ginjal akut menyerang usia anak.
“Kaltara sudah ada satu kasus positif hingga meninggal dunia dan satu kasus suspek gagal ginjal akut,” kata dia.
Menurut dia, Kemenkes telah melakukan pendataan terkait lokasi distribusi obat gagal ginjal akut. Diharapkan, nantinya distribusi obat gagal ginjal akut akan dikirimkan ke Kaltara.
“Kalau obat, saya kira dari Kemenkes akan mendistribusikan,” imbuhnya.
Bahkan Kemenkes juga sudah melakukan pemetaan, terkait daerah-daerah yang ada kasus gagal ginjal akut. Terkait perawatan dengan metode hemodialisa atau cuci darah, fasilitas tersebut tersedia di RSUD dr H Jusuf SK. Akan tetapi, fasilitas itu hanya tersedia untuk anak dengan bobot di atas 15 kilogram.
Untuk anak yang bobotnya di bawah 15 kilogram harus dirujuk ke rumah sakit lain. “Kalau penanganan cuci darah kita bisa saja di rumah sakit di Tarakan. Tapi untuk berat badan 15 kilogram ke bawah harus dirujuk ke rumah sakit lain seperti di Makassar,” ungkapnya.
Sementara itu, pekan depan, Polres Bulungan bersama Dinkes Bulungan berencana akan mendatangi setiap apotek dan fasilitas kesehatan. Untuk mengecek penjualan lima jenis sirop yang dilarang beredar oleh Kemenkes.
Apabila ditemukan jenis sirop yang dilarang masih diperjualbelikan, maka produknya akan ditarik. Kemudian pemilik apotek akan diberikan pembinaan sesuai aturan yang berlaku.
Kapolres Bulungan AKBP Ronaldo Maradona T. P. P. Siregar saat dikonfirmasi membenarkan itu. Rencana turun lapangan mengecek untuk memastikan produk yang dilarang tidak diberikan kepada konsumen, yang membutuhkan untuk sementara waktu.
“Rencana Minggu depan akan dipetakan dan berkoordinasi dengan Dinkes Bulungan dan dinas terkait. Untuk melakukan pengecekan, termasuk beberapa obat yang beredar di Bulungan,” ujar Kapolres, Senin (24/10).
Dari sidak beberapa waktu lalu di Kabupaten Bulungan, kata Kapolres, belum ditemukan lima jenis sirop yang dilarang edar oleh BPOM. Produk ini ditarik karena memiliki kandungan cemaran Etlien Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) yang melebihi ambang batas aman.
Selain di Tanjung Selor, kecamatan lain dimungkinkan bakal digelar hal serupa. Dikonfirmasi secara terpisah, Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) dr H Soemarno Sosroatdmojo Tanjung Selor Surya Tan menyampaikan, telah menghentikan penggunaan obat sirop untuk anak. Sampai saat ini, belum menemukan adanya pasien rujukan yang mengeluhkan sakit gagal ginjal akut.
Apabila ada pasien anak dengan gangguan fungsi ginjal, pihaknya akan merujuk ke rumah sakit yang ada fasilitas cuci darah. “Alat cuci darah kita sudah siap, tapi masih terkendala SDM buat mengoperasikan,” tuturnya. (sas/fai/*/mts/uno)
Editor : izak-Indra Zakaria