JAKARTA— Pengamanan pemilu 2019 perlu energi yang luar biasa. Bahkan, banyak anggota Polri yang meninggal dunia saat menjalankan tugas mengamankan pesta demokrasi. Fenomena tersebut bisa jadi karena dua faktor, yakni institusi dan individu. Penting untuk mengetahui dengan pasti, apakah penyebabnya.
Sesuai data Polri, selama pemilu 2019 ini terdapat sepuluh anggota Polri yang meninggal dunia saat bertugas. Penyebabnya dari kelelahan hingga kecelakaan saat menuju ke tepat pemungutan suara (TPS). Dari sepuluh anggota Polri, sembilan diantaranya meninggal karena kelelahan. Hanya satu anggota Brigadir Prima Leion Nurman yang meninggal karena kecelakaan saat menujut ke TPS.
Pengamat Kepolisian Moufty Maakarim menjelaskan, kondisi ini bisa disebabkan karena dua faktor, pertama individu dan kedua institusi. Kalau faktor individu berarti personil memiliki persoalan dalam mengukur kapasitas. ”Mungkin kelelahan tapi dipaksakan,” ujarnya kemarin.
Untuk faktor institusi, Polri ini merupakan abdi negara yang tidak memiliki batas jam kerja. Bisa 24 jam dan sewaktu-waktu dibutuhkan harus bekerja. ”banyak over time, tapi personil tidak bisa menolak saat diberi tugas,” terangnya.
Namun begitu, selama ini fenomena meninggal dunia saat bertugas ini belum diteliti secara mendalam. Apakah penyebabnya benar individu atau institusi. ”Saya kira penting untuk mengetahui penyebabnya,” jelasnya.
Menurutnya, kalau faktor institusi, maka diperlukan mekanisme yang tepat. Sepetrti, sistem shift atau lainnya. Sehingga, saat menjaga keamanan pemungutan suara yang bisa 24 jam itu tidak sepenuhnya dibebankan pada seorang personil. ”Walau kita tau, jumlah personil Polri itu juga terbatas. Kuncinya mekanisme,” tuturnya.
Personil Polri di lapangan ini juga perlu didukung dengan personil bagian lain. Seperti, rumah sakit Polri yang siap melayani personil yang kelelahan. ”Jadi, sewaktu-waktu terjadi kelelahan bisa langsung ditangani secara medis,” ujarnya.
Hal ini merupakan tantangan semua institusi, tidak hanya Polri namun juga penyelenggaran pemilu, seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). ”Apakah saat bertugas di TPS itu para anggota PPS disediakan tenaga medis atau tidak,” jelasnya.
Sementara Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan, Polri memang kehilangan sepuluh anggota terbaik saat bertugas menjaga pemilu 2019. Salah satu personil dengan pangkat tertinggi yakni, Dirbinpotmas Korbinmas Baharkam Brigjen Syaiful Zachri. ”Meninggal dunia karena serangan jantung saat bertugas sebagai ketua asistensi Operasi Mantap Brata untuk Polda Nusa Tenggara Timur,” jelasnya. (idr)
Editor : izak-Indra Zakaria