Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Wawancara dengan KH Said Aqil Siroj, Menguatkan Peran Keagamaan dan Kebangsaan

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 30 Januari 2021 - 18:12 WIB
KH Said Aqil Siroj
KH Said Aqil Siroj

Besok (31/1) Nahdlatul Ulama (NU) akan memperingati hari lahir (harlah) ke-96. Berikut petikan wawancara wartawan Jawa Pos Taufiqurrahman dengan Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siroj.

 

 

Tema Harlah Ke-96 NU kali ini adalah menguatkan peran keagamaan (amanah diniyah) dan peran kebangsaan (amanah wathaniyah). Apa yang dimaksud dengan dua amanah ini?

Pertama, amanah diniyah. Untuk membentuk umat yang wasatan (moderat). Di dalam Alquran tidak ada terminologi umat Islam atau umat Arab. Yang ada ummatan wasatan (Al Baqarah: 143). Artinya, saya jadikan kamu Muhammad dan para pengikutmu umat yang moderat. Umat yang modern. Tidak mengenal radikal dan tidak mengenal ekstrem. Supaya apa? Supaya umat ini berperan sepanjang masa hingga hari akhir nanti.

Peran apa itu? Ya, peran agama, peran budaya, peran politik, peran ekonomi, dan seterusnya. Dalam mengikuti peredaran dan gerakan dunia ini.

Kita, NU, selalu mempertahankan wasatiyah dalam Islam. Mempertahankan sikap moderat, sikap tengah dalam Islam. Baik secara akidah, syariah, maupun suluk. Berakidah kita moderat, bersyariah kita moderat, berperilaku kita juga moderat. Tidak mengenal cenderung terlalu kanan, cenderung terlalu kiri.

 

Bagaimana bentuk wasatiyah dalam beragama itu?

Sudah diberi petunjuk oleh nabi, oleh para ulama dan leluhur. Mencari jalan wasatiyah itulah yang selalu diupayakan para ulama. Tapi, wasatiyah itu membutuhkan kecerdasan. Contohnya dalam memahami Alquran dan hadis. Kalau tekstual, harfiah saja, jadi jumud. Kalau pakai akal saja, bisa salah. Nanti liar, jadi liberal. Gabungan antara Alquran dan hadis itu adalah wasatiyah. Memadukan akal dan wahyu. Ini nggak gampang, harus cerdas.

Contohnya, Imam Syafii menggabungkan Alquran-hadis dengan akal. Akal ada dua, yakni akal kolektif. Bentuknya ijmak, konsensus. Akal individu, yakni kias (analogi). Pertama, paham ayat Alquran saja nggak gampang. Ada karakteristiknya, ada kelompok-kelompoknya. Hadis juga begitu. Ada tingkatan-tingkatannya. Akal kolektif seperti ijmak ada syarat-syaratnya hingga bisa diterima. Kias ada sembilan. Awlawi, burhani, mantiqi, jadali, istiqrai, tafthily, khitobus syari, dan iqnai.

Dalam hal akidah, misalnya, Imam Abu Hasn Al Asyari. Kalau membaca Alquran dari awal sampai akhir, kita akan menjumpai sifat-sifat Allah. Samiun (maha mendengar), bashirun (maha melihat), mutakallimun (maha berbicara), hayyun (mahahidup). Tapi, tidak ada sifat wujud. Di Alquran tidak ada sifat wujud.

Sifat wujud ini hasil ijtihadnya Imam Asyari. Beliau mikir, ini kalau orang awam ke bawah nggak dikasih tahu, nanti gawat. Maka, Imam Al Asyari dengan kecerdasannya memastikan meletakkan dasar-dasar akidah sifat Allah nomor satu wujud. Padahal, tidak ada di Alquran. Dapat dari mana ketemunya? Dari gabungan pemahaman Alquran, hadis, dan akal.

 

Itu wasatiyah dalam akidah dan syariah?

Yang ketiga wasatiyah dalam akhlak. Imam Ghazali, contohnya. Bahwa kita tetap harus menjaga syariat, juga akhlak. Tidak akhlak saja, syariat diremehkan. Tapi tidak syariat saja, akhlak diremehkan.

Orang sakit, contohnya. Dia berpikir yang penting salat itu ya hatinya, bukan pakaiannya. Akhirnya pakai kaus singlet saja nggak papa. Nggak pakai baju asal nutup aurat. Sah sih sah, tapi tidak etis. Tapi, ada juga orang yang mementingkan syariat saja. Mandi bajunya bersih, salat khusyuk, jenggot rapi, tapi akhlaknya amburadul, mencaci maki orang, mengumpat-umpat, ghibah namimah, hate speech, dan sebagainya. Percuma salatnya dengan baju putih yang bersih, gamis yang bersih, percuma.

Di situlah kelebihan akidah ahlussunnah wal jamaah. Yang insya Allah selamanya tidak pernah bergeser. Selamanya bakal seperti ini. Akidah lain banyak yang sudah bergeser, bahkan hilang.

 

Itu tadi amanah diniyah. Bagaimana dengan amanah wathaniyah?

Itu berangkat dari ijtihad KH Hasyim Asy’ari. Sejak 1917 KH Hasyim sudah punya jargon hubbul wathan minal iman. Nasionalisme bagian dari iman. Anda nasionalis harus beriman pada Tuhan. Anda beriman, beragama, harus nasionalis. Ini ijtihad yang luar biasa.

Kita ada agama, nggak ada negara, gimana? Di atas angin? Di awang-awang? Oleh karena itu, KH Hasyim Asy’ari mengatakan, barang siapa mati membela tanah airnya, syahid. Barangsiapa berkhianat pada tanah airnya, misalkan, bantu Belanda (penjajah) atau Jepang, boleh dibunuh. Halal darahnya walaupun tidak dikatakan kafir. Tapi, boleh dibunuh.

Itu tahun 1917-an. Khilafah masih ada di Turki. Tapi, sudah lemah seperti orang sakit, nggak berdaya apa-apa menghadapi penjajah di mana-mana. Tahun 1924 khilafah bubar. Khalifah terakhir Abdul Majid dibuang ke Jerman. Yang membubarkan Mustafa Kemal Ataturk.

 

Di Indonesia sudah lebih baik?

Di Indonesia waktu itu kita sudah mapan. Sudah punya pegangan nasionalisme bagian dari iman. Di Timur Tengah masih gugup mencari-cari. Muncul partai politik yang nasionalis, sosialis sekuler. Seperti Partai Ba’ath yang didirikan Michel Aflaq. Nasionalis melawan penjajah. Sosialis, tapi sekuler. Mengader anak-anak Arab dari Syria calon pemimpin-pemimpin Arab. Tapi, mereka sekuler, bukan aktivis-aktivis islam. Agamanya Islam. Tapi, tidak memperjuangkan.

Lahirlah partai yang memperjuangkan Islam, yakni Ikhwanul Muslimin. Pendirinya ulama yang modern yang namanya Hasan Al Banna. Tapi, tahun 1942 Hasan terbunuh. Gantinya berbahaya. Penggantinya Sayyid Qutb yang menulis buku yang bernama Maalim Fi Ath Thariq (Petunjuk ke Jalan yang Benar).

Isinya bahwa selain sistem Islam, jahiliyah. Komunisme, kapitalisme, sosialisme, nasionalisme, jahiliyah semua. Buku inilah yang kemudian dibaca di kelompok-kelompok tarbiah di sini di Indonesia. Walaupun bagaimanapun, Sayyid Qutb tidak mengajak teror. Pemahaman saja. Tapi, itu kan bisa mendorong orang yang baca jadi teroris. Pemberontakan.

Maka, tahun 1965 Sayyid Qutb dan kawan-kawannya digantung oleh Gamal Nasser di Tahrir Square. Ikhwan akhirnya bubar. Tapi, tidak hilang. Muncul gerakan jamaah Takfir wal Hijrah. Pendirinya Syukri Ahmad Mustafa. Doktrinnya semua orang kafir, kecuali mereka. Negara tidak Islam berarti kafir. Puncaknya 3 Oktober 1981, kelompok ini membunuh Anwar Sadat, presiden Mesir.

Kelompok ini kemudian diburu oleh Husni Mubarak, dihabisin, tapi tidak habis. Mereka sembunyi di Sinai. Mereka ngebom orang salat Jumat. Katanya, mereka kafir. Nah, aliran-aliran inilah yang datang ke Indonesia. Ikhwan-nya datang, Al Qaeda-nya datang, yang takfiri juga ada.

Di Indonesia kita syukuri budaya kita sudah mapan. Terdiri atas ribuan suku lebih sudah mapan, selesai. Suku tidak lagi dipermasalahkan. Kepala kantornya Jawa, sekretaris Sunda, wakil direkturnya Melayu nggak masalah. Tinggal masalah agama yang masih ada.

 

Jadi, lebih baik daripada kondisi Timur Tengah?

Di Timur Tengah suku masih masalah besar sampai sekarang. Di Afghanistan hanya ada tujuh suku. Seratus persen muslim, 1 persen Syiah. Semuanya mazhab Hanafi. Perang sudah 40 tahun. Iraq yang mayoritas muslim, yang perang sesama Islam. Syria ada Yahudi, ada Kristen, nonton saja. Semua yang perang yang Islam. Faktor utama suku. Tidak ada organisasi seperti NU dan kekuatan civil society.

Akhlak itu husnul muasyarah, husnul musyarakah, husnul muamalah. Kebersamaan yang baik, interaksi yang baik, bermasyarakat yang baik. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda hormat yang tua. Saling menghargai, bisnis jujur, selesai semua masalah. Itulah akhlak.

Ini yang di Timur Tengah amburadul. Teologinya benar, syariahnya benar. Tapi, akhlaknya amburadul. Membangun kebersamaan itu sulit sekali.

 

Ada peluang ideologi kelompok-kelompok ini menular ke Indonesia?

Peluang pasti ada, tapi akan gagal selama kita masih solid. Selama kita punya kekuatan civil society. Yang memperkuat pilar-pilar masyarakat. Seperti NU dan Muhammadiyah dan ormas lain. Pilar masyarakat yang nonpolitik nonpartisan. Insya Allah masih kuat.

FPI itu pertama lahir lokal. Amar makruf nahi mungkar. Ngobrak-abrik orang judi saja, misalnya. Sekarang malah berpolitik internasional. Artinya, orang luar itu ngintip siapa yang bisa dimasuki dan ditunggangi. (tau/c19/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria