JAKARTA - TNI AL mengerahkan KRI Makassar-590 untuk membantu masyarakat di Kepulauan Karimunjawa. Kapal perang landing platform dock (LPD) itu berlayar dari Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, kemarin pagi. ”Laporan Koarmada II, KRI Makassar-590 bertolak jam 07.45,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono.
Berdasar informasi yang diterima oleh TNI AL, cuaca ekstrem yang terjadi di sekitar perairan Karimunjawa membuat pasokan bahan bakar minyak (BBM) di sana terganggu. Distribusi BBM ke lokasi tersebut terhambat lantaran arus pelayaran ke daerah tersebut terganggu. Karena itu, Angkatan Laut melaksanakan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dengan mengirim KRI Makassar-590.
Langkah tersebut diambil oleh Matra Laut merujuk arahan dari Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali. ”Jajaran TNI AL harus dapat merespons dengan cepat,” kata dia. Dari Semarang, mereka mengirim bantuan logistik yang sebagian diantaranya berupa BBM. Secara keseluruhan ada 20 truk tangki milik PT Pertamina yang dikirim menggunakan kapal milik TNI AL.
Kapal tersebut bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas sejak Rabu (4/1). Mereka langsung memuat beragam bantuan. Selain BBM, mereka turut mengirim ribuan paket bahan makanan seperti sembako. Kemudian bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Selain itu, mereka juga mengirim bantuan genset milik PT PLN, kendaraan taktis, serta alat berat yang dibutuhkan untuk membantu masyarakat. Kepada seluruh jajarannya, Ali menyatakan bahwa personel dan peralatan harus selalu siap bergerak kapanpun dibutuhkan. ”Kalau harus menggerakkan unsur dalam hitungan jam, unsur harus bergerak ke lokasi yang membutuhkan pertolongan,” tegas Ali.
Sementara itu, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Nandang Prihadi mengungkapkan, penutupan kawasan Taman Nasional Karimunjawa dilakukan sejak 1 Januari 2023. Penutupan tersebut sehubungan dengan adanya kondisi cuaca buruk serta gelombang tinggi di Perairan Kepulauan Karimunjawa. Di mana, hal tersebut dapat membahayakan bagi masyarakat.
"Karena itu, Balai Taman Nasional Karimunjawa mengambil langkah untuk menutup sementara aktifitas pariwisata. Penutupan dilakukan hingga cuaca kembali membaik," ungkapnya.
Selain Taman Nasional Karimunjawa, dikatakan Nandang, ada juga destinasi wisata pegunungan yang ditutup. Khususnya terkait jalur pendakian. Di mana, hingga saat ini, setidaknya ada sebanyak delapan destinasi yang sementara masih ditutup. Masing-masing yakni Bromo Tengger Semeru, Gunung Merapi, Gunung Rinjani, dan Gunung Pangrango. Kemudian, Gunung Halimun Salak, Gunung Tambora, Gunung Kerinci Seblat, dan TWA Gunung Merapi.
"Alasan utama penutupan adalah untuk keamanan dan keselamatan pengunjung atau pendaki. Kemudian, alasan lain karena pemulihan ekosistem, kondisi cuaca atau iklim, dan kondisi vulkanik atau kegunungapian," jelasnya.
Dijelaskan secara rinci, untuk penutupan Bromo Tengger Semeru, dikatakan Nandang, yakni karena statusnya yang saat ini berada di level III (Siaga). Penutupan dilakukan sejak 3 Januari hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kemudian, untuk Gunung Merapi, juga karena statusnya berada di level siaga. Namun, penutupannya telah dilakukan sejak Mei 2018 hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Lalu, untuk Gunung Rinjani, penutupan dilakukan dalam rangka pemulihan ekosistem serta memperhatikan informasi prakiraan cuaca dari BMKG. Yakin adanya potensi curah hujan tinggi disertai angin kencang di Pulau Lombok. Penutupan tersebut dilakukan sejak 1 Januari hingga 31 Maret. Kemudian, untuk Gunung Pangrango dilakukan penutupan karena kondisi kehampaan dan kegunungapian serta pemilihan ekosistem dan cuaca ekstrem. Penutupan dilakukan sejak November 2022.
Untuk Gunung Halimun Salak, lanjut Nandang, penutupan dilakukan dalam rangka ekosistem serta kondisi cuaca. Penutupan dilakukan sejak 15 Desember 2022. Kemudian, penutupan Gunung Kerinci Seblat dilakukan karena meningkatnya aktivitas vulkanik. Penutupan dilakukan sejak 19 Oktober 2022. Lalu, TWA Gunung Merapi dilakukan penutupan dalam rangka menjaga kawasan agar tetap terjaga keutuhannya. Yakin dengan merujuk hasil penelitian tentang daya dukung kawasan.
"TWA Gunung Merapi itu hanya mampu menampung 150 orang pengunjung dalam satu masa kunjungan," terangnya.
Sedangkan, Deputi Meteorologi BMKG Guswanto mengungkapkan, berdasar prakiraan per kemarin (5/1), untuk perairan di wilayah Karimunjawa kondisi cuaca gelombang sudah lebih kondusif. Di mana, untuk kapal-kapal dengan ukuran tertentu pun sudah dapat berlayar. Namun, untuk kapal-kapal dengan ukuran gross ton kecil atau seperti kapal nelayan masih berpotensi membahayakan.
"Prakiraan cuaca itu hari demi hari berganti. Nah, kemarin untuk Karimunjawa itu sudah bisa dilalui. Saat ini, untuk di wilayah Jateng yang berstatus siaga itu pindah ke perairan laut Jawa bagian selatan, bukan di tengah atau Karimunjawa," ucapnya. (gih/syn/)
Editor : izak-Indra Zakaria