Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sang Anak Tak Boleh Pakai Nama Orang Tua kalau Seriusi Voli

izak-Indra Zakaria • 2023-09-21 13:02:50
Photo
Photo

Rita Kurniati dan sang suami, Iwan Dedi Setiawan, tak pernah mengarahkan anak-anak mereka menekuni voli, apalagi secara khusus membentuk jadi setter. Rita yang sudah lama pensiun sengaja ’’turun gunung” di Kapolri Cup untuk memotivasi para pemain muda.

 

 

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

 

DALAM satu frame itu saja sudah tergambar setter atau pengumpan bola voli lintas generasi yang saling berelasi. Rita Kurniati (ibu), Alfin Daniel Pratama (anak), dan Alya Anastasya (kekasih Alfin).

Momen foto bersama tersebut terjadi di sela Kapolri Cup di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), pada awal bulan ini. Rita setter Kalbar, Alfin pengumpan Jawa Timur (Jatim), dan Alya tosser (sebutan lama setter) yang membela Kalimantan Timur.

Di ajang yang sama, Iwan Dedi Setiawan, suami Rita dan ayah Alfin, juga terlibat sebagai pelatih Jatim. Iwan pun semasa bermain berposisi sebagai setter. Anak bungsu mereka, Muhammad Setyabima, yang kini bermain di Indomaret juga menekuni voli. Posisinya? Sama, setter juga.

Dari ketiga buah hati pasangan Rita-Dedi, hanya anak perempuan mereka, Widaad Banafsaj, yang tidak menekuni voli. ’’Kami tak pernah mengarahkan anak-anak ke voli,’’ ungkap Rita kepada Jawa Pos Selasa (19/9) lalu.

Rita, polisi berpangkat AKP dan berdinas di Ditlantas Polda Jatim, pevoli berprestasi. Dia pernah menjadi pilar timnas di SEA Games 2003, 2005, dan 2007. Perempuan setinggi 167 sentimeter itu juga turut menyumbangkan emas voli putri untuk DKI Jakarta di PON 2000.

Di usianya yang sudah 44 tahun sekarang, jejak kejayaan itu masih terlihat dalam Kapolri Cup lalu. Dia turut mengantarkan Kalbar menjuarai sektor putri dengan mengalahkan Jatim di final.

Alfin, kata Rita, memang kerap diajak saat dia masih aktif bertanding. Tapi, saat sang anak yang kini berusia 21 tahun itu mulai aktif latihan di sekolah, dia dan suami justru tak pernah menunggui.

Itu sengaja dia lakukan karena prinsip bahwa sang anak tidak boleh memakai nama besar orang tua jika serius di voli. ’’Jangan sampai ada anggapan, oh anaknya ini dititipin,’’ kata perempuan kelahiran 27 September 1978 itu.

Semua butuh proses. Akhirnya setelah lulus SD, masuk sekolah atlet Ragunan di Jakarta. Memang sang ayah pelatih, tapi jika ditangani ayahnya sendiri, sangat mungkin Alfin akan menggampangkan.

Namun, di Ragunan, Alfin berpindah posisi menjadi libero dari semula setter yang dia tekuni sedari dini. Saat itu, postur Alfin yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran pevoli dianggap lebih ideal jika bermain di posisi tersebut.

’’Akhirnya dilatih sama ayahnya lagi, jadilah (setter) sampai sekarang,’’ ujarnya.

Tapi, prosesnya tidak sebentar. Ada ’’feel” yang hilang. Karena itu, butuh dikembalikan lagi kelenturan, gerakan, dan akurasi.

Ketekunan Alfin membawanya ke titik sekarang ini. Di dua musim terakhir, Surabaya Bhayangkara Samator (2022) dan Jakarta Bhayangkara Presisi (2023) yang dia bela selalu masuk final meski akhirnya harus puas menjadi runner-up.

Di Kapolri Cup, Alfin juga membawa Jatim ke final. Tapi, di partai puncak, dia ditundukkan tuan rumah Kalbar.

Saat ini Rita melihat Alfin masih butuh kematangan dan jam terbang lebih. Karena itu, dia tak berkeberatan sang anak bermain tarkam. ’’Pasti bisa lebih matang di tarkam. Kami mengingatkan saja di saat-saat krusial. Progresnya lumayan,’’ ujar ibu tiga anak tersebut.

Bima, adik Alfin, menurut Rita, malah ’’terlahir sebagai setter”. Kopian sang ayah. Itu bisa dilihat dari tipikal jari dan gerakan. ’’Dia dari kecil sudah dipegang ayahnya yang memang tosser banget. Jari-jari Bima lebih bagus ketimbang Alfin,’’ ucapnya tentang anak bungsunya yang berusia 13 tahun itu.

Rita menyebut sentuhan yang beda membuat tipikal pemain jadi beda pula. Sejak kecil pula, Bima mengikuti sang ayah latihan di klub Indomaret. ’’Kalau Indomaret saat Bima SD kelas III itu belum ada yang cowok, dia latihan sendiri cowoknya dan tidak malu. Mentalnya kebentuk dari situ,’’ tutur Rita yang mengawali karier di voli dari posisi spiker atau hitter itu.

Bagi perempuan yang saat ini menyiapkan tim Popsivo Polwan untuk tampil di Livoli itu, setter posisi unik playmaker kalau di sepak bola. Pengatur serangan. Jadi, harus cerdas dan licik.

Cerdas dan licik yang dimaksud Rita adalah bagaimana setter bisa meloloskan bola spiker agar tidak terkena blok lawan. ’’Wah, itu kepuasan seorang tosser ya. Apalagi saat umpan dan blong sama sekali,’’ ujarnya.

Rita memperlihatkan kepiawaian itu selama Kapolri Cup. Dia sengaja ’’turun gunung” karena ingin memberikan instruksi secara langsung kepada para pemain di lapangan.

Selain itu, dia ingin memberikan motivasi tambahan kepada pemain muda. ’’Istilahnya kan yang tua saja masih mau (berprestasi). Kenapa kalian yang muda nggak,’’ katanya. (*/c7/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria