JAKARTA – Hubungan pertahanan antara Indonesia dan Rusia kembali menunjukkan kedalamannya. Pada Minggu (29/3), satuan kapal perang dari Armada Pasifik Angkatan Laut Federasi Rusia resmi bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kedatangan ini bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan misi strategis untuk menggelar latihan bersama dengan jajaran TNI-AL guna memperkuat interoperabilitas antar-matra laut kedua negara.
Gugus tugas Rusia yang tiba kali ini membawa kekuatan yang cukup signifikan, terdiri dari kapal korvet canggih Gromky-335, kapal selam Petropavlovsk Kamchatsky B-274, serta kapal tunda Andrey Stepanov. Kehadiran unsur kapal selam dalam kunjungan ini menegaskan pentingnya kerja sama teknis bawah air yang menjadi salah satu fokus pengembangan kekuatan maritim di kawasan Asia Pasifik.
Upacara penyambutan berlangsung khidmat dengan kehadiran Wakil Komandan Kodaeral III, Brigjen TNI (Mar) Dian Suryansyah, serta Laksamana Muda Evgeny Myasoedov dari pihak Rusia. Dalam pernyataan resminya, Kedutaan Besar Rusia di Jakarta mengonfirmasi bahwa kedua pihak akan melaksanakan latihan bersama yang mencakup aspek manuver taktis dan prosedur komunikasi militer.
"Kedua belah pihak berkomitmen untuk terus memperkuat interaksi demi menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Pasifik," tulis keterangan resmi Kedubes Rusia yang diterima pada Senin (30/3).
Sebelum memasuki fase latihan tempur, para awak kapal Rusia dijadwalkan mengikuti serangkaian kegiatan protokol, pertemuan kerja, hingga pertandingan olahraga persahabatan dengan personel TNI-AL. Selain itu, bagi masyarakat yang ingin melihat lebih dekat kecanggihan teknologi militer Rusia, pihak kedutaan mengumumkan agenda open ship yang akan dibuka pada Selasa (31/3) pukul 10:00 hingga 16:00 WIB.
Kunjungan ini merupakan kelanjutan dari kemitraan erat yang telah terjalin lama, menyusul partisipasi aktif Rusia dalam latihan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2025 lalu. Di tengah dinamika geopolitik global, kehadiran Armada Pasifik Rusia di Jakarta menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tetap memegang teguh prinsip diplomasi pertahanan yang inklusif untuk menjaga keamanan maritim regional.(*)
Editor : Indra Zakaria