Pada SEA Games 1991, meski yang dihadapi tim favorit juara, para penggawa timnas Indonesia sejak awal percaya diri bisa mengatasi Thailand. Final kali ini, Aji Santoso, Widodo C. Putro, dan Ferryl R. Hattu menyebut kualitas Indonesia tidak kalah. Karena itu, semua bisa terjadi.
SUDAH tiga dekade lebih lewat, tapi Aji Santoso masih mengingat betul keyakinan para penggawa tim nasional (timnas) Indonesia jelang final SEA Games 1991. Meskipun yang dihadapi tim favorit juara sekaligus semifinalis Asian Games setahun sebelumnya, Thailand.
”Tidak ada keraguan sedikit pun (di antara kami) saat itu meski kami tentu paham Thailand tim yang sering mempermalukan Indonesia,” kenang Aji kepada Jawa Pos (15/5). SEA Games 1991 adalah kali terakhir Indonesia merebut emas sepak bola SEA Games. Sesudah ajang di Manila, Filipina, di mana skuad Indonesia ditangani duet Anatoly Polosin-Vladimir Urin, empat kali Merah Putih lolos ke final SEA Games (1997, 2011, 2013, 2019). Tapi, selalu kandas. Dua di antaranya di hadapan Thailand (1997 dan 2013).
Namun, Aji berharap Rizky Ridho dkk yang akan berduel dengan Thailand dalam final sepak bola SEA Games 2023 malam ini di Olympic Stadium, Phnom Penh, melupakan semua kenangan buruk melawan skuad Negeri Gajah Putih tersebut. ”Jangan pernah ada pikiran sejarah pertemuan lawan Thailand buruk. Materi berbeda, waktu berbeda, kondisi berbeda. Pemain harus punya prinsip dan keberanian,’’ kata Aji.
Mantan pelatih Persela itu mengakui, Thailand adalah tim yang dipersiapkan dengan baik. ”Sejak usia muda sampai senior, cara bermainnya sudah terbentuk. Punya konsep,’’ ucapnya.
Di sisi lain, Aji menegaskan keunggulan Indonesia saat ini adalah tidak punya pemain andalan. ”Bermain kolektif. Jadi, semua pemain bisa jadi kunci kemenangan,’’ ujarnya.
Senada dengan rekannya di skuad SEA Games 1991, Widodo C. Putro meminta Rizky Ridho dkk untuk yakin dan berani. ”Secara kualitas, Indonesia saat ini tidak kalah,’’ bebernya ketika dihubungi Jawa Pos secara terpisah.
Kapten Garuda di SEA Games 1991 Ferryl Raymond Hattu juga menyebut final kali ini situasinya berbeda. ”Kalau dulu yang turun adalah timnas senior, sekarang kan pemain muda (U-22). Sama-sama minim pengalaman, semuanya bisa terjadi,’’ katanya.
Bagi Ferryl, kondisi tersebut seharusnya menguntungkan Indonesia secara mental. Sebab, tak ada yang lebih favorit, peluang kedua tim fifty-fifty. ”Di final, karena lebih sering juara, saya prediksi Thailand bakal jauh lebih tenang. Tapi, tetap saja peluang juara masih fifty-fifty,’’ beber mantan bek Petrokimia Putra itu.
Pada 1991, Ferryl mengenang, dirinya dan rekan-rekan tahu yang akan dihadapi di final bukan tim sembarangan. ”Tapi, pelatih terus mengingatkan kami agar main dengan tempo tinggi. Jangan lengah, kuras tenaga lawan,’’ kata Ferryl menirukan instruksi tim pelatih.
Dan, itu dipraktikkan betul di lapangan. Garuda langsung tancap gas sejak awal. Permainan agresif Indonesia membuat lawan tidak stabil. ”Pemain Thailand jadi lebih mudah emosi. Tenaga mereka juga terkuras. Itu yang kami manfaatkan,’’ tambah pria 60 tahun itu.
Dia berharap strategi yang kurang lebih sama diterapkan malam nanti. ”Toh, Thailand juga tidak spesial. Di fase grup mereka hanya bermain imbang 1-1 melawan Vietnam yang berhasil kita kalahkan di semifinal,’’ jelasnya. (*/c6/ttg)